Seminggu sudah suasana Stasiun Manggarai selalu mendapat keluhan dengan penumpukan penumpang, sejak diberlakukannya rute baru atas penerapan switch over (SO) 5, yang dimulai sejak Sabtu (28/5) lalu.
Berkenaan dengan kondisi itu, Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno menilai jika perubahan rute ini adalah langkah untuk persiapan pembangunan Stasiun Manggarai menjadi salah satu stasiun sentral ke depannya.
"Ya ini bagian kecil, tapi penting untuk manfaat stasiun manggarai yang lebih besar. Karena Stasiun Manggarai itu akan jadi stasiun sentral nantinya, setelah Gambir," kata Djoko kepada merdeka.com, Sabtu (4/6).
Menurutnya hiruk pikuk Stasiun Manggarai sudah harus dibenahi karena stasiun ini merupakan titik pertemuan dari kereta jarak jauh, KRL, maupun bandara. Meski, pembenahan yang dilakukan tetap dalam kondisi stasiun beroperasi.
"Nah stasiun ini dibangun bukan dalam kondisi kosong sama sekali, dia (Stasiun Manggarai) dibangun dalam tetap beroperasi dan itu tidak mudah. Kenapa tidak mudah, karena mereka tidak bisa bekerja 24 jam iya kan," kata Djoko.
Alhasil, Djoko memandang jika apa yang dikeluhkan penumpang saat ini terkait kepadatan di Stasiun Manggarai adalah bentuk masa transisi penyesuaian diberlakukannya rute baru.
"Masa penyesuaian seperti ini tidak hanya penumpang. Pusat pengendali kereta juga melakukan penyesuaian, masinis juga melakukan penyesuaian dia dipindah itu kalau tidak penyesuaian susah juga itu," ujarnya.
"Jadi ini adalah proses, memang ini proses. Terus banyak yang bilang mau pindah ke transjakarta saja, yasudah kan sama aja angkutan umum. Mau pindah ke angkutan pribadi, ya jauh lebih mahal. Yakin tidak akan kembali (ke kendaraan pribadi)," tambahnya.
Djoko pun memberikan gambaran bahwa perubahan rute maupun transit penumpang yang terjadi di Stasiun Manggarai sudah baik saat ini. Dengan perpindahan penumpang yang masih terbilang singkat.
"Semisal Singapura, turun tangga nya itu bisa dua sampai tiga kalinya di Manggarai, itu turun ke bawah sampai ke ke dalam berapa itu, di paris sampai empat tingkat kalau tidak salah. Ya memang itu pakai lift, tapi kan tetap turun, ya panjangnya seperti MRT gitu. Tapi ini kan (Manggarai) cuman sedikit. Jadi memang ini kan penyesuaian ya," katanya.
Advertisement
Masa Penyesuaian
Lebih lanjut, Djoko mengatakan jika saat ini yang dibutuhkan penumpang adalah penyesuaian dengan rute perubahan yang ada. Karena bagaimanapun, apabila Stasiun Manggarai tidak dibangun, maka frekuensi perjalanan tidak akan bisa ditambah.
"Nah, jadi kalau orang dari Bogor, pikirannya sudah ke kota saja. Kalau dulu orang naik kereta ini tujuannya ke Kota atau Tanah Abang. Kalau sekarang sudah tau saya harus ke Kota atau mau ke Tanah Abang," tuturnya.
Adapun terkait kepadatan yang terjadi, Djoko mengatakan bahwa kondisi itu terjadi hanya ketika jam sibuk baik berangkat maupun pulang para pekerja. Sedangkan untuk jam normal kepadatan sudah tidak terjadi.
"Padatnya sata jam sibuk kan. Ya kalau bukan jam sibuk ya gak padat. Terus ada yang protes misalkan ada bawa anak saat jam sibuk. Lah itu jangan dibawa dong, ngapain bawa anak saat jam sibuk," imbuhnya.
"Terus ada yang bawa barang, ya jangan jam sibuk. Tapi boleh bawa barang, ya boleh sebelum jam 05.00 Wib. Misalkan balik lagi jam 12.00 Wib (siang) kan kereta sepi kan," lanjut dia.
Lantas, Djoko meminta kepada para penumpang untuk membiasakan membaca dan memahami perubahan rute yang berlaku. Karena sepengamatannya, pihak pengelola telah meletakan tanda penanda sejelas mungkin untuk penumpang.
"Padahal petunjuk sudah jelas kan tulisannya ada. Memang saya lihat beberapa digambarkan, seperti di trek enam sudah jelas. Misalkan Manggarai mau ke Kota, kemudian trek tujuh Bekasi, Jatinegara, Cikarang, misalkan arahnya ke utara, beda ya berarti itu loop keretanya bakal muter gitu," jelasnya.
Advertisement
Informasi Jadwal Keberangkatan KRL
Sedangkan, kata dia, untuk kekurangan yang terjadi saat ini berkaitan dengan waktu jadwal keberangkatan KRL yang belum bisa disajikan. Karena melihat kontrak kerja yang belum selesai dan masih dalam proses pembangunan
"Nah memang, buat saat ini yang belum bisa diperhitungkan itu jadwal. Kalau di stasiun lain itu ada jadwal. Tapi Manggarai belum bisa, jadi nanti ada pengecualian kan dari dirjennya," jelasnya.
"Karena stasiun belum punya KAI tapi milik pemerintah. Sehingga kalau sudah selesai semuanya ada namanya berita acara serah terima operasi Basto (Berita Acara Serah Terima Operasional) namanya," tambah Djoko.
Apabila Basto telah dilakukan, kata Djoko, baru lab pihak KAI bisa memberikan fitur-fitur lanjutan untuk memudahkan penumpang. Termasuk fitur tampilan jadwal keberangkatan di stasiun
"Karena kontraknya seperti itu kontrak kerjanya. Nanti kalau ditambahkan jadi temuan kan. Bisa masuk bui susah itu," tuturnya.