Hadapi Darurat Sampah, SD di Bandung Minta Pedagang Tak Layani Siswa yang Tidak Bawa Kotak Makan

SD di Bandung ini bergerak untuk mengendalikan sampah di tengah masa darurat.

Nurul Diva
Oleh Nurul Diva - Reporter
Hadapi Darurat Sampah, SD di Bandung Minta Pedagang Tak Layani Siswa yang Tidak Bawa Kotak Makan
SD di Bandung ini bergerak untuk mengendalikan sampah di tengah masa darurat. (© 2023 merdeka.com/Dok. Pemkot Bandung)
Dok. Istimewa
© 2023 merdeka.com/Dok. Pemkot Bandung

SDN 077 Sejahtera di Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung,  menerapkan program ramah lingkungan di tengah masa darurat sampah. Salah satu yang saat ini digencarkan adalah Jamping atau jajan pakai misting (kotak makan). Para penjual jajanan diminta tak layani siswa yang tidak membawa wadah.

Siswa diminta membawa bekal dari rumah

Mengutip laman Pemkot Bandung, Jumat (20/10), pihak sekolah sebelumnya sudah berupaya  melakukan sosialisasi terkait program tersebut.

Para siswa diimbau untuk membawa makan dari rumah melalui kotak makan, atau membeli makan di penjual dengan wadah sendiri.

"Kita edukasi kepada para pedagang agar tidak melayani makanan jika murid tidak menggunakan misting," kata Kepala Sekolah SDN 077 Sejahtera, Ihat Solihat

Mencoba kurangi sampah dari sumbernya

Salah satu cara yang dilakukan SD tersebut untuk menghadapi darutan sampah adalah dengan mengurangi sampah langsung dari sumbernya.

Ini karena kebanyakan sampah yang diproduksi di sekolah adalah sampah plastik, yang juga berasal dari sisa jajanan.

"Hal terpenting mengurangi, sampah dari sumbernya. Para murid diwajibkan membawa misting (kotak makan),” kata Ihat, lagi.

Terapkan kurikulum pengelolaan sampah berkelanjutan

Terapkan kurikulum pengelolaan sampah berkelanjutan
© 2023 merdeka.com/Dok. Pemkot Bandung

Selain mengimbau siswa dan para pedagang, sekolah tersebut juga menerapkan program pengelolaan sampah berkelanjutan.

Pengelolaan ini dilakukan melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Kurikulum Merdeka tahun ajar 2021/2022 lalu.

Melalui kurikulum itu siswa diajarkan bagaimana mengelola sampah seperti mengolah cangkang telur menjadi pupuk organik oleh siswa kelas 1 dan 2, mengolah sampah organik menjadi ecoenzyme oleh kelas 3 dan 4 serta mengolah sampah daun melalui teknik kompos bata terawang untuk siswa kelas 5 dan 6.

Biasakan siswa pilah sampah di sekolah

Program berikutnya yang dijalankan  adalah “gomi select”.

Program ini melatih para siswa untuk membiasakan diri dalam memilah sampah plastik, botol plastik, kertas dan tutup botol untuk diolah melalui Ecobrick. Sedangkan kertas akan dijadikan kreasi kerajinan tangan.

"Gomi Select ini kita adopsi dari bahasa jepang yang berarti memilah sampah. Kenapa namanya Gomi? Ini untuk membuat nama yang menarik bagi siswa," terang Ihat 

Sisa limbah makanan dijadikan kompos

Sisa limbah makanan dijadikan kompos
© 2023 merdeka.com/Dok. Pemkot Bandung

Sementara sisa sampah makanan, akan diolah menjadi pupuk kompos. Makanan-makanan sisa kemudian dimasukkan ke dalam bambu untuk dilakukan pembusukkan.

"Kami bergerak sebelum ada darurat sampah. Kami mendapatkan penghargaan Adiwiyata Nasional 2013 dan melakukan pengolahan sampah mandiri sudah mulai sejak 2020. Sekarang kita sedang berusaha meningkatkan status Adiwiyata Mandiri," terang Ihat.

Sekolah tersebut berharap agar program-programnya itu bisa berjalan dengan baik, sehingga pengurangan sampah bisa terjadi.

Dok. Istimewa
© 2023 merdeka.com/Dok. Pemkot Bandung
Rekomendasi