Kopi, teh, dan aneka wedang sudah menjadi pemandangan yang akrab di meja angkringan. Namun, bagaimana jika jamu juga kembali hadir di tengah obrolan anak muda yang sedang nongkrong?
Gagasan tersebut menjadi salah satu semangat di balik Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul. PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) ingin memanfaatkan kedekatan angkringan dengan masyarakat sebagai pintu masuk untuk menumbuhkan kembali kesadaran terhadap jamu, termasuk mengenalkan bahan dan manfaatnya kepada generasi muda.
Upaya tersebut dijalankan melalui pelatihan meracik jamu yang digelar di Ballroom Borobudur 2, Novotel Hotel Solo, Kamis (3/9/2026). Sebanyak 100 pelaku usaha angkringan di Surakarta dan sekitarnya mengikuti pelatihan sebagai bagian dari Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul.
Direktur Sido Muncul Maria Reviani Hidayat melihat angkringan mempunyai posisi strategis karena telah berkembang menjadi salah satu ruang berkumpul yang dekat dengan berbagai kelompok masyarakat.
"Ya, menurut kami ini adalah potensi yang baik. Karena angkringan ini sekarang kan jadi tempat untuk orang-orang nongkrong. Mereka pulang kerja, mereka duduk di sana," ujar Maria.
Menurutnya, perubahan gaya hidup membuat pilihan minuman masyarakat ikut berkembang. Tempat dan momentum yang dahulu lekat dengan seduhan jamu kini sebagian bergeser ke budaya nongkrong dengan kopi, teh, maupun wedang.
"Nah, salah satu tempat yang dulunya itu seduhan-seduhan jamu, mungkin sebagian sekarang beralih ke angkring ini. Karena mereka tidak mengenal jamu. Jadi kopi, dan wedang, lalu teh," katanya.
Kondisi tersebut justru membuka peluang untuk membawa jamu kembali ke ruang yang dekat dengan keseharian masyarakat.
"Tapi sekarang kami ingin mengenalkan juga ini loh, ada jamu di angkringan. Jadi selain minum kopi, teh, wedang, sekarang ada juga jamu," lanjut Maria.
Advertisement
Dari Pelatihan 100 Pelaku Usaha, Jamu Diharapkan Lebih Mudah Dikenal
Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul merupakan salah satu program perusahaan dalam menyambut usia ke-75 pada November 2026. Selain memberdayakan pelaku usaha, program ini diarahkan untuk menjaga keberlanjutan tradisi minum jamu di tengah perubahan gaya hidup masyarakat.
Melalui pelatihan di Surakarta, para peserta tidak hanya diperkenalkan pada jamu sebagai alternatif menu. Mereka juga mendapat pembekalan mengenai bahan dan manfaat jamu, cara meracik dan menyajikan jamu Sido Muncul, hingga penerapan kebersihan dan sanitasi dalam pengelolaan usaha.
Dengan pengetahuan tersebut, pelaku angkringan diharapkan tidak sekadar menjual jamu, tetapi juga semakin memahami produk yang disajikan kepada konsumen.
Maria menilai keberadaan produk jamu yang mudah ditemukan di berbagai tempat belum otomatis membuat kebiasaan minum jamu terus bertahan. Dibutuhkan pendekatan yang membuat jamu tetap hadir dalam keseharian masyarakat.
"Produk-produk kami sudah dijual dan mudah ditemui di warung maupun toko seperti Tolak Angin atau KukuBima. Tetapi, yang ingin kami dorong bukan hanya soal ketersediaan produk. Kami juga ingin ikut melestarikan budaya minum jamu," ujar Maria dalam sambutannya.
Angkringan kemudian menjadi salah satu ruang yang dinilai relevan. Selain identik dengan kuliner rakyat, aktivitas duduk dan berbincang sambil menikmati minuman juga telah menjadi bagian dari pengalaman sosial masyarakat.
"Kita punya budaya yang bagus, salah satunya tradisi duduk di angkringan sambil minum jamu. Itu merupakan bagian dari kebiasaan masyarakat. Kalau tidak kita pertahankan, lama-kelamaan bisa semakin hilang," katanya.
Karena itu, peserta juga dibekali kemampuan mengembangkan penyajian jamu agar lebih menarik bagi konsumen.
"Bapak dan Ibu punya potensi untuk menambah kekayaan menu di angkringan masing-masing. Karena itu, kami ingin berbagi pengetahuan tentang jamu, mulai dari bahan dan manfaatnya hingga cara meraciknya agar enak dan mudah diterima konsumen," tuturnya.
Pelatihan juga menyentuh aspek pengembangan bisnis. Para pelaku angkringan memperoleh pembekalan mengenai pemanfaatan media sosial untuk memperkenalkan menu dan menjangkau konsumen yang lebih luas.
"Di zaman sekarang, media sosial menjadi salah satu sarana untuk promosi dan memperkenalkan usaha. Harapannya, pengetahuan ini bisa membantu Bapak dan Ibu mengembangkan angkringan masing-masing," kata Maria.
Advertisement
Jamu Dibuat Lebih Kekinian agar Dekat dengan Anak Muda
Tantangan berikutnya adalah mengubah persepsi generasi muda terhadap jamu.
Di tengah menjamurnya kafe dan tren minuman modern, jamu perlu diperkenalkan dengan cara yang relevan dengan gaya hidup mereka tanpa meninggalkan identitasnya sebagai bagian dari budaya Indonesia.
UPF Yankestrad RSUP Dr. Sardjito Tawangmangu, Yogyakarta, Saryanto, S.Farm., Apt melihat angkringan sebagai medium yang tepat karena budaya nongkrong sudah menjadi bagian dari keseharian anak muda. Kesadaran terhadap gaya hidup sehat juga membuka ruang bagi jamu untuk hadir sebagai salah satu pilihan minuman.
"Program angkringan ini suatu modalitas atau ranah yang sangat tepat. Karena sekarang anak muda itu, katakanlah, banyak yang nongkrong atau sedang menjalani gaya hidup sehat," ujar Saryanto.
Ia menilai keberadaan jamu dapat memberikan alternatif di tengah dominasi kopi, teh, dan berbagai minuman lain yang sudah lebih dahulu familiar.
"Saya kira jamu di angkringan ini akan tumbuh dengan baik ketika anak muda mau atau sering berada di angkringan, tetapi dengan ada sesuatu yang berbeda, yaitu jamu," katanya.
Menurut Saryanto, inovasi penyajian menjadi salah satu cara agar jamu lebih mudah mengikuti gaya hidup generasi sekarang. Jika dahulu jamu identik dengan serbuk atau seduhan tertentu, kini tersedia produk yang lebih praktis dan dapat dikreasikan menjadi berbagai racikan.
"Kalau dulu ada serbuk atau jamu komplit, sekarang sudah dibuat jamu komplit yang larut, jadi tidak ada ampasnya. Ketika diseduh, bentuknya cair atau murni, kemudian bisa dikombinasikan dengan enak," ujar Saryanto.
Ia melihat perkembangan tersebut sebagai peluang besar. Jamu bisa masuk ke gaya hidup anak muda dengan format yang lebih kekinian, termasuk melalui konsep angkringan jamu, sebagaimana masyarakat sebelumnya mengenal kafe sebagai tempat menikmati berbagai racikan minuman.
Pelatihan di Solo pun memperlihatkan bagaimana gagasan tersebut diterapkan. Barista Jamu Profesional Tersertifikasi BNSP Adi Febri Yanto membagikan berbagai kreasi yang bisa diadaptasi pelaku angkringan, mulai dari Jamu Komplit, Kuku Bima Jahe, Teh Susu Jahe, Es Tealang, Slim Shady, hingga Senja Linu.
Dengan pendekatan itu, jamu tidak hanya hadir sebagai produk yang diletakkan di etalase. Pelaku usaha dapat mengolahnya menjadi menu yang lebih menarik dan memberikan pengalaman berbeda kepada konsumen.
Advertisement
Kreasi Jamu jadi Pintu Masuk Mengenalkan Manfaat dan Tradisinya
Upaya mendekatkan jamu kepada generasi muda juga dirasakan langsung peserta pelatihan. Pelaku usaha angkringan di Solo, Deddy Cahyo Handoko, misalnya, bereksperimen dengan memadukan KukuBima TL dan Alang Sari Plus, kemudian menambahkan biji selasih serta sedikit madu.
"Pelatihan hari ini lancar dan tidak banyak hambatan. Kemudian juga sangat seru. Untuk hasilnya sendiri, hampir sempurna, 9 per 10," kata Deddy.
Menurutnya, kreasi semacam itu dapat menjadi cara untuk membuat jamu lebih dekat dengan mahasiswa dan anak muda yang sebelumnya mungkin mempunyai persepsi bahwa jamu identik dengan rasa pahit.
"Mungkin banyak mahasiswa ataupun anak muda yang tidak suka minum jamu, dengan gambarannya jamu itu pahit atau mungkin tidak enak," ujarnya.
Jika generasi muda mulai tertarik mencoba, Deddy berharap perjalanan tersebut tidak berhenti pada sebuah tren minuman. Tradisi jamu juga diharapkan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
"Harapan kami ke depannya, tentu saja budaya dan tradisi jamu, terutama di Indonesia ini, tetap berlanjut ke generasi-generasi selanjutnya," katanya.
Advertisement
Pelaku Angkringan Melihat Jamu sebagai Peluang Sekaligus Warisan Budaya
Pengalaman berbeda didapat Hariani Yuliana, pelaku usaha angkringan di kawasan Gandean, Jebres. Dalam pelatihan, ia mencoba meracik Kunyit Asam Sido Muncul yang dipadukan dengan Alang Sari.
"Insya Allah nanti di angkringan kita coba. Ini baru pertama kali kita bikin, kita praktik. Insya Allah nanti ke angkringan saya. Mudah-mudahan saja sukses," tutur Hariani.
Bagi Hariani, mengenalkan jamu juga berkaitan dengan menjaga kekayaan rempah yang dimiliki Indonesia.
"Kita kan harus melestarikan budaya kita. Kita punya kekayaan rempah-rempah, harusnya kita melestarikan," ujarnya.
Pelaku usaha angkringan di BTC Solo, Wempy, juga melihat program tersebut bukan hanya menambah wawasan mengenai jamu, tetapi membuka peluang pengembangan menu dan usaha.
"Kita juga mau melestarikan jamu yang sudah lama ada, memperkenalkan kekayaan rempah-rempah kita, karena hasil rempah itu berasal dari Indonesia. Dengan adanya program ini, saya juga sangat setuju karena kita bisa memajukan angkringan," ujarnya.
Gerakan 1.000 Angkringan Sido Muncul sendiri sebelumnya telah berjalan di Yogyakarta. Program pada 2025 melibatkan 100 pelaku usaha angkringan dan kini jumlah angkringan yang bergabung di Yogyakarta telah mencapai 200.
Setelah Yogyakarta dan Surakarta, program tersebut akan diperluas ke sejumlah kota, termasuk Semarang, Surabaya, hingga Jakarta.
Melalui jaringan pelaku angkringan yang semakin luas, jamu diharapkan dapat hadir di ruang-ruang tempat masyarakat berkumpul. Bagi generasi muda, perkenalan dengan jamu pun tidak harus selalu bermula dari sesuatu yang terasa tradisional, tetapi dapat dimulai dari aktivitas yang sangat familiar, duduk bersama teman, mengobrol, dan memilih minuman di angkringan.
Dari sana, jamu berpeluang bukan hanya kembali dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga dipahami bahan dan manfaatnya serta menjadi bagian dari pilihan minuman masyarakat masa kini.