Pertanyaan "Kapan Ramadhan 2026?" kini mulai banyak dicari oleh umat Islam. Ini menandakan bahwa mereka mulai bersiap-siap untuk melaksanakan ibadah puasa dan berbagai kegiatan rohani lainnya. Di Indonesia, penetapan awal Ramadhan akan dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak serta metode yang berbeda. Hal ini seringkali menimbulkan perdebatan mengenai tanggal pastinya.
Meskipun demikian, sudah ada perkiraan mengenai awal Ramadhan 2026 yang beredar di masyarakat, memberikan gambaran untuk menghitung waktu puasa. Organisasi Islam besar seperti Muhammadiyah telah mengumumkan tanggal awal puasa berdasarkan perhitungan astronomi. Di sisi lain, Nahdlatul Ulama (NU) dan pemerintah melalui Kementerian Agama masih akan melakukan penetapan resmi setelah mengadakan Sidang Isbat, yang mempertimbangkan hasil hisab dan rukyatul hilal.
Lantas, berapa hari lagi umat Muslim akan menjalani ibadah puasa untuk pertama kalinya di tahun 2026? Untuk menjawab pertanyaan ini, Liputan6 telah merangkum informasi yang memberikan gambaran mengenai tanggal pertama pelaksanaan ibadah puasa. Simak informasi lengkapnya yang kami sajikan untuk Anda pada Senin (29/12).
Advertisement
Perkiraan Ramadhan 2026 Pemerintah Berdasarkan SKB 3 Menteri
Berdasarkan informasi yang dipublikasikan di situs resmi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenkopmk RI), pemerintah Indonesia telah menetapkan daftar hari libur nasional serta cuti bersama untuk tahun 2026 melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri. SKB ini melibatkan Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, yang menjadi acuan bagi masyarakat dalam merencanakan berbagai aktivitas sepanjang tahun.
Dalam SKB Tiga Menteri tersebut, Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah dijadwalkan jatuh pada tanggal 21-22 Maret 2026. Penetapan tanggal Idulfitri ini memberikan gambaran awal mengenai perkiraan durasi bulan Ramadhan. Meskipun SKB ini secara eksplisit menyebutkan tanggal Idulfitri, penetapan awal bulan Ramadhan oleh pemerintah akan dilakukan melalui mekanisme yang berbeda, yaitu Sidang Isbat.
Tanggal Idulfitri yang tercantum dalam SKB Tiga Menteri merupakan estimasi berdasarkan perhitungan kalender Hijriah. Namun, penetapan resmi awal Ramadhan dan Idulfitri oleh pemerintah masih harus menunggu hasil Sidang Isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Sidang Isbat ini akan mempertimbangkan hasil hisab dan rukyatul hilal untuk memastikan tanggal yang tepat pada malam pertama pelaksanaan Salat Tarawih.
Advertisement
Perkiraan Ramadhan Muhammadiyah Rabu 18 Februari 2026
Seperti yang telah dipublikasikan di situs resmi Muhammadiyah Jawa Tengah, Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi telah menetapkan jadwal Puasa Ramadhan untuk tahun 1447 Hijriah. Berdasarkan hasil perhitungan hisab hakiki wujudul hilal yang menjadi pedoman organisasi, awal Ramadhan 2026 dipastikan akan dimulai pada hari Rabu, 18 Februari 2026. Pengumuman ini disampaikan melalui maklumat resmi yang ditandatangani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.
Metode hisab hakiki wujudul hilal yang diterapkan oleh Muhammadiyah menetapkan awal bulan Hijriah berdasarkan keberadaan hilal, yaitu setelah terjadi ijtimak sebelum matahari terbenam dan bulan terbenam setelah matahari terbenam. Dengan pendekatan ini, Muhammadiyah dapat menentukan tanggal awal Ramadhan jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga memberikan kepastian jadwal bagi seluruh warga Muhammadiyah.
Dalam maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/1.0/E/2025, yang dirilis di Yogyakarta pada 22 September 2025, dinyatakan bahwa 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026. Penetapan ini juga merujuk pada prinsip, syarat, dan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang merupakan hasil dari Musyawarah Nasional XXXII Tarjih Muhammadiyah pada tahun 2024.
"Menurut hisab hakiki wujudul hilal, posisi bulan sudah memenuhi syarat sehingga 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026," tulis maklumat tersebut.
Advertisement
Perbedaan Ramadhan Pemerintah dengan Muhammadiyah
Perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan antara pemerintah dan Muhammadiyah sering kali menjadi isu di Indonesia. Umumnya, perbedaan ini terjadi satu hari dan disebabkan oleh metode penentuan awal bulan Hijriah yang berbeda antara kedua pihak. Muhammadiyah menerapkan metode hisab hakiki wujudul hilal, sementara pemerintah, bersama Nahdlatul Ulama (NU), menggunakan kombinasi antara hisab dan rukyatul hilal dengan kriteria Imkanur Rukyat.
Metode hisab hakiki wujudul hilal yang dianut oleh Muhammadiyah beranggapan bahwa bulan baru dimulai ketika terjadi konjungsi dan bulan terbenam setelah matahari, tanpa memperhitungkan ketinggian hilal di atas ufuk. Di sisi lain, pemerintah dan NU mengadopsi kriteria Imkanur Rukyat yang disepakati oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Kriteria MABIMS menetapkan agar tinggi bulan minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat untuk menganggap hilal terlihat.
Perbedaan dalam kriteria ini sering kali menyebabkan Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan lebih awal dibandingkan dengan pemerintah. Meskipun ada perbedaan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) berharap hal ini tidak mengurangi kekhusyukan dalam ibadah umat Islam. Pemerintah melalui Kementerian Agama senantiasa berupaya menyatukan pandangan melalui Sidang Isbat, sambil tetap menghormati perbedaan metodologi yang ada.
Advertisement
Diperkirakan 50-51 Hari Lagi
Bulan Ramadhan dalam kalender Hijriah dapat berlangsung selama 29 atau 30 hari. Penentuan durasi ini bergantung pada pengamatan hilal yang dilakukan pada akhir bulan Syaban dan Syawal. Siklus sinodis bulan, yaitu rentang waktu antara dua kemunculan bulan baru, berlangsung sekitar 29,53 hari. Mengingat bahwa tidak ada setengah hari dalam sistem kalender, maka jumlah hari Ramadhan dapat bervariasi antara 29 atau 30 hari.
Proses penentuan akhir bulan Ramadhan, yang juga menandai datangnya Hari Raya Idulfitri, memerlukan metode hisab dan rukyat. Jika hilal terlihat pada hari ke-29 Ramadhan, maka bulan tersebut berakhir pada hari itu juga, sehingga Idulfitri dirayakan keesokan harinya. Sebaliknya, jika hilal tidak terlihat pada hari ke-29, maka bulan Ramadhan akan digenapkan menjadi 30 hari.
Pemerintah Indonesia akan melaksanakan Sidang Isbat pada akhir Ramadhan untuk menetapkan tanggal 1 Syawal. Proses ini mencakup pemantauan hilal di berbagai lokasi di seluruh Indonesia serta perhitungan astronomi. Keputusan akhir mengenai durasi bulan Ramadhan dan tanggal Idulfitri akan diumumkan setelah pelaksanaan Sidang Isbat tersebut. Berdasarkan penetapan Muhammadiyah dan perkiraan pemerintah, Ramadhan 2026 diperkirakan akan jatuh kurang dari dua bulan lagi, yaitu sekitar 50-51 hari dari sekarang.
Advertisement
Cara Pemerintah Menentukan Penetapan Ramadhan
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Agama, menetapkan awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah dengan mengadakan Sidang Isbat. Sidang ini merupakan forum resmi yang melibatkan berbagai pihak, seperti ahli ilmu falak, astronomi, perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta organisasi masyarakat Islam dan instansi terkait lainnya.
Proses dalam Sidang Isbat terdiri dari beberapa tahapan yang sistematis. Tahap pertama melibatkan pemaparan posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi yang dilakukan oleh Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama. Data hasil hisab ini memberikan gambaran mengenai kemungkinan terlihatnya hilal pada malam penentuan. Selanjutnya, tahap kedua adalah verifikasi hasil rukyatul hilal, yang merupakan pengamatan langsung terhadap hilal di berbagai lokasi pemantauan di seluruh Indonesia. Hasil dari pengamatan ini berfungsi sebagai konfirmasi terhadap data hisab yang telah disampaikan sebelumnya.
Setelah pemaparan data hisab dan hasil rukyatul hilal, semua peserta sidang akan melakukan musyawarah untuk mencapai kesepakatan mengenai penetapan awal Ramadhan. Keputusan akhir mengenai penetapan tersebut kemudian diumumkan secara resmi oleh Menteri Agama. Metode yang diterapkan oleh pemerintah dalam penetapan ini adalah kombinasi antara hisab dan rukyat, dengan mengacu pada kriteria Imkanur Rukyat MABIMS yang mengharuskan tinggi hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat.