Baru-baru ini, Maudy Koesnaedi berhasil menarik perhatian publik dengan penampilannya yang anggun mengenakan kebaya Betawi dalam sesi pemotretan nostalgia kemenangan None Jakarta. Dalam acara tersebut, ia berpose bersama para finalis dari tahun 1975 hingga 2024. Keanggunan wajahnya yang abadi berpadu sempurna dengan busana tradisional yang kaya makna, menghidupkan kembali kenangan manis dari prestasinya pada tahun 1993.
Potret dirinya bersama alumni None Jakarta lainnya, yang mengenakan kebaya berwarna-warni dengan berbagai motif, diambil di tangga putih yang ikonik di Balai Kota Jakarta. Momen spesial ini menjadi bagian dari perayaan ulang tahun Jakarta yang ke-498, sekaligus sebagai upaya untuk memperkuat eksistensi kebaya sebagai simbol budaya yang perlu diperkenalkan kepada generasi mendatang.
Di antara berbagai tampilan yang ada, kebaya marun bermotif bunga yang dikenakan oleh Maudy menjadi salah satu yang paling mencolok. Setiap detail dari kebaya tersebut, mulai dari desain hingga aksesori yang melengkapi, menciptakan kesan anggun yang khas dari perempuan Betawi. Penampilan ini diharapkan dapat memotivasi generasi muda untuk melestarikan pakaian tradisional tersebut. Simak informasi lebih lanjut model kebaya Maudy Koesnaedi yang dirangkum oleh merdeka.com pada Senin (23/6).
Advertisement
Dikutip dari Instagram @maudykoesnaedi, Maudy Koesnaedi tampil memukau dalam rangka merayakan HUT Jakarta tahun ini dengan mengenakan kebaya kutu baru berwarna merah marun. Warna yang mencolok dan berani ini memberikan nuansa elegan sekaligus tetap membumi, mencerminkan karakter wanita Jakarta yang anggun dan berwibawa.
Selain itu, kebaya yang dikenakan Maudy juga menampilkan perpaduan antara tradisi dan modernitas melalui desain serta pilihan bahan yang digunakan. Motif bunga yang menghiasi seluruh permukaan kebaya menambah kesan manis dan feminin. Bunga-bunga kecil berwarna pink terang menciptakan kontras yang cantik dengan latar belakang marun, sehingga tampilan yang dihasilkan tidak hanya klasik tetapi juga segar dan menarik.
Setiap motif bunga terlihat tersusun rapi hingga menjuntai ke bawah, memberikan efek visual yang memanjakan mata. "Dirgahayu Kota Jakarta ke 498. Salam dari kami, para Juara 1 Abang None Jakarta yang menjadi representasi warna-warni budaya Jakarta dari tahun 1975 hingga 2024," tulis Maudy dalam unggahannya, seperti yang dikutip oleh Liputan6.
Advertisement
Detail kecil ternyata memiliki dampak yang signifikan terhadap penampilan aktris yang lahir pada 8 April 1975 ini. Di bagian depan kebaya yang ia kenakan, terdapat sebuah bros besar yang khas dari Betawi. Aksesori ini bukan hanya sekadar hiasan, tetapi juga melambangkan estetika yang merepresentasikan kehormatan serta kebanggaan budaya lokal yang selalu dijunjung tinggi oleh para None Jakarta dari generasi ke generasi.
Bros ini berfungsi sebagai elemen utama yang menyatukan seluruh penampilan kebaya. Kilauannya yang mencolok di tengah motif bunga menambah kesan mewah tanpa menghilangkan esensi tradisional yang ada. Desain bros yang menyerupai bunga emas klasik Betawi semakin memperkuat citra pemakainya sebagai sosok yang menghargai dan melestarikan warisan budaya.
Advertisement
Maudy menggabungkan kebaya bermotif bunga dengan bawahan batik tradisional yang memiliki corak sogan dan nuansa lime mustard. Corak sogan yang kaya akan ornamen klasik mencerminkan hubungan yang erat dengan budaya Jawa dan Betawi, sementara warna lime mustard menambah kesegaran yang memperkaya keseluruhan tampilan. Bawahan tersebut menjuntai dengan indah dan serasi dengan kebaya yang dipakai, menciptakan kesan anggun ketika ia melangkah. Kombinasi warna dan motif yang harmonis menyampaikan pesan bahwa setiap elemen busana memiliki cerita dan makna budaya yang mendalam.
Pada kesempatan itu, Maudy hadir bersama 38 juara Abang None yang masing-masing memiliki ciri khas sesuai generasi mereka. "39 orang Bang Non yang hadir membawa cerita dan perjalanan masing-masing, tetapi tetap satu dalam semangat: Abang None Jakarta. Semoga semangat kebersamaan ini terus menjadi inspirasi dan dedikasi bagi generasi berikutnya," ujar perempuan yang juga dikenal lewat perannya sebagai Zaenab di Si Doel Anak Sekolahan. Pernyataan tersebut menggambarkan harapan untuk mempertahankan semangat kebersamaan dalam budaya dan tradisi yang mereka bawa.
Advertisement
Penampilan Maudy tidak akan sempurna tanpa sentuhan make-up dan gaya rambut yang mendukung keseluruhan tampilannya. Ia memilih riasan flawless yang tetap terlihat natural namun mampu memancarkan pesona. Nuansa lembut di wajahnya memberikan kesan anggun dan bersahaja, menonjolkan keindahan alaminya tanpa terkesan berlebihan. Gaya rambut sanggul klasik yang terinspirasi dari tradisi Betawi menjadi pelengkap utama penampilannya. Rambutnya disisir rapi ke belakang dan disanggul melingkar di tengkuk, dihiasi dengan bunga merah, mencerminkan keanggunan wanita Betawi zaman dahulu. Tata rambut ini menyatukan seluruh elemen penampilan menjadi sebuah harmoni yang memikat.
Dalam unggahan lain di story Instagram-nya, Maudy terlihat mengenakan kebaya encim berwarna oranye cerah yang terbuat dari bahan tipis. Kebaya tersebut dipadukan dengan selendang selempang pink menyala yang bertuliskan "None". Ia juga memadukan atasan tersebut dengan bawahan kain batik Betawi yang memiliki warna dasar kuning cerah dan motif tumpal, serta sentuhan warna pink dan putih yang khas. Penampilannya semakin lengkap dengan kerudung hijau zamrud yang dililit rapi ke belakang, menciptakan kesan tradisional-modern yang harmonis.
Advertisement
Dikutip dari fimela.com, Maudy Koesnaedy dikenal pernah meraih gelar juara dalam ajang Abang None Jakarta pada tahun 1993. Dalam foto tersebut, Maudy tampak anggun mengenakan kebaya dan kerudung biru sambil memegang piala. Ia mengungkapkan bahwa pada saat itu, ia tidak memiliki ambisi untuk menang. Namun, di luar dugaan, ia justru terpilih sebagai None Jakarta 1993. Pencapaian tersebut membuat Maudy merasa jalannya di dunia yang digelutinya semakin terbuka lebar. Pengalaman dan wawasan yang didapatnya pun semakin meluas seiring dengan berbagai kegiatan yang dijalaninya. Kini, di tahun 2025, ia berdiri di tangga Balai Kota dengan kebaya yang serasi, seolah menghubungkan dua masa dalam satu cerita yang utuh.
Maudy pun mengingat kembali perjalanannya, "Tahun 1993 diajak ikut pemilihan @abnon_utara waktu itu yang terpikir; dari lahir di Jakarta tapi belum tau apa-apa soal kota ini. Jadi ikutan deh tanpa ada ambisi atau wacana apa pun. Ternyata terpilih jadi None Jakarta 1993, salah satu titik yang membuka mata dan langkah menuju jalan yang sampai sekarang masih dijalani," katanya. Pengalamannya di ajang tersebut memberikan dampak yang signifikan dalam kehidupannya. Ia menyadari bahwa setiap langkah yang diambilnya membawa pengaruh besar bagi masa depannya. Kini, Maudy tidak hanya menjadi sosok yang dikenal di Jakarta, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang.