Dalam 15 Tahun Mendatang, Fakfak Diprediksi Punya Industri Parfum, Minyak Atsiri, dan Produk Perikanan — Siap Saingi Dunia!

Fakfak diprediksi akan berkembang menjadi pusat industri parfum dan produk perikanan dalam 15 tahun ke depan, berkat sumber daya alam melimpah.

Titah Mranani
Oleh Titah Mranani - Reporter
Dalam 15 Tahun Mendatang, Fakfak Diprediksi Punya Industri Parfum, Minyak Atsiri, dan Produk Perikanan — Siap Saingi Dunia!
Dalam 15 Tahun Mendatang, Fakfak Diprediksi Punya Industri Parfum, Minyak Atsiri, dan Produk Perikanan — Siap Saingi Dunia! (Merdeka.com)

Di balik rimbunnya hutan Fakfak, Papua Barat, tersimpan kisah perjuangan dan harapan yang menginspirasi. Siapa sangka, dari desa kecil bernama Pangwadar, para perempuan adat tengah menggeliat memperjuangkan perubahan ekonomi lewat buah pala—komoditas lokal yang dulu dianggap biasa saja, kini naik kelas jadi bahan incaran industri parfum global. 

Dipimpin oleh sosok tangguh Mama Siti (52), kelompok perempuan ini mengolah buah pala bukan hanya sebagai produk rumah tangga, tapi sebagai peluang besar untuk masa depan. Dalam 15 tahun mendatang, Fakfak bahkan diprediksi akan memiliki industri parfum, minyak atsiri, hingga produk perikanan yang mampu menembus pasar internasional.  

Dari Pohon Pala ke Pasar Dunia

"Pohon pala di hutan desa dusun pala, Desa Pangwadar, Kecamatan Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat rata-rata sudah banyak, jadi tugas laki-laki biasanya hanya memanjat pohon untuk mengambil buah yang sudah matang. Untuk pengolahannya, sejauh ini sudah ada 118 wanita yang membersihkan buah pala, memisahkan daging dan bijinya, lalu menjemurnya di bawah sinar matahari,” ungkap Mama Siti.

Pala bagi masyarakat adat Papua Barat bukan sekadar komoditas. Ia adalah lambang kehidupan, bahkan dipercaya sebagai penjelmaan perempuan. Tak heran, pohon-pohon pala dijaga dengan tradisi sakral, seperti ritual wewowo, di mana masyarakat mengenakan kebaya pada pohon-pohon pala sebagai simbol larangan panen dini.

Tradisi ini membuktikan betapa eratnya hubungan antara masyarakat dengan alam. Mereka memanen hanya saat waktunya tepat, dan membiarkan hutan memulihkan diri secara alami setelahnya. Benar-benar bentuk kearifan lokal yang nggak main-main dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Minyak Atsiri
Minyak Atsiri Istimewa

Tantangan di Balik Harapan

Namun di balik keindahan cerita ini, ada kenyataan pahit yang harus ditelan. Harga pala yang fluktuatif, musim panen yang hanya dua kali setahun, serta minimnya akses pasar membuat para petani kerap hidup pas-pasan.

“Harga pala seringkali fluktuatif dan tidak menentu tergantung musim. Ketika harga turun, pendapatan dari pala hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat musim panen berakhir, banyak dari kami terpaksa harus beralih profesi untuk menunjang kebutuhan keluarga masing-masing,” ujar Mama Siti.

Namun Mama Siti tetap memandang pohon pala dengan penuh haru. “Pohon pala Tomandin bukan sekadar pohon bagi kami. Ini adalah warisan dari nenek moyang kami yang hidup dari generasi ke generasi untuk memberi kami kehidupan. Saya hanya bisa mengatakan bahwa pala Tomandin adalah keajaiban bagi kami.”

Solusi Inklusif: Inisiatif Wewowo Lestari

Minyak Atsiri
Minyak Atsiri Istimewa

Dari kegelisahan ini, muncul inisiatif keren bernama Wewowo Lestari, digagas oleh lembaga Kaleka. Lewat pelatihan dan edukasi, program ini mendorong para petani untuk meningkatkan kualitas pengolahan dan produktivitas pala. Hasilnya pun nggak nanggung-nanggung.

“Hal ini dilakukan dengan menerapkan SOP yang baik dalam setiap tahap produksi, mulai dari pengumpulan buah hingga pengeringan pala menggunakan solar dryer, yang pada akhirnya berhasil meningkatkan 13-40% pendapatan penjualan pala,” jelas Venticia Hukom, Asisten Badan Eksekutif Kaleka.

Tak hanya itu, Kaleka juga bekerja sama dengan laboratorium asal Prancis, AFDN, dalam mengembangkan prototipe parfum dari pala Fakfak. Perusahaan parfum besar seperti Hermes dan Chanel bahkan mulai melirik hasil inovasi ini.

“Orang biasanya menghiraukan pala Papua karena oil extraction rate yang sangat rendah, namun penelitian secara berkala berhasil membuahkan hasil dalam meningkatkan oil extraction rate pala Papua yang tadinya 1% menjadi 3,5% sehingga bisa dikembangkan menjadi produk turunan lain seperti parfum dan kosmetik,” lanjut Venticia.

Bukan Sekadar Komoditas, Tapi Jalan Menuju Kemandirian

Minyak Atsiri
Minyak Atsiri Istimewa

Kabupaten Fakfak sendiri punya hutan seluas 908.850 hektar, dan sekitar 26.927 masyarakat adat yang bergantung pada pohon pala untuk hidup. Dengan 56 pohon pala per hektar, potensi ini luar biasa jika dikelola dengan bijak dan berkelanjutan.

Melalui Koperasi Mery Tora Qpohi, para petani kini bisa menjual produk pala dengan harga lebih layak, naik sekitar 11–40% dibanding jual ke tengkulak. Ini bikin petani bisa move on dari ketergantungan terhadap sistem yang sering kali merugikan mereka.

Tak berhenti sampai di situ, buah pala juga kini diolah jadi produk kuliner dan kosmetik, mulai dari sirup, manisan, hingga minyak atsiri. Kreatif, kan?

“Dibantu oleh Kaleka, kami terus berupaya memanfaatkan semua bagian dari pala untuk meminimalisir sampah dari penggunaannya yang biasa menumpuk saat difungsikan menjadi bahan masak. Saat ini, kami sudah menjual kurang lebih 500 botol sari buah yang berbahan dasar daging buah pala yang selama ini hanya ditinggalkan di bawah pohon pala sampai membusuk,” tutur Mama Siti.

Menuju Masa Depan yang Lebih Cerah

Kini, dengan dukungan riset dan pengembangan berbasis komunitas, masyarakat Fakfak punya visi besar. Mereka ingin melihat perubahan nyata—bukan hanya dari sisi ekonomi, tapi juga kebijakan yang berpihak pada lingkungan dan masyarakat adat.

“Dalam lima tahun, kami membayangkan sebuah usaha sosial fungsional yang dipimpin oleh masyarakat adat yang dapat menjual pala mereka dengan nilai tinggi, seperti halnya komoditas berkelanjutan lainnya yang diproduksi di Papua Barat seperti rumput laut, kepiting, dan nilam, yang dapat meningkatkan mata pencaharian masyarakat adat. Dalam sepuluh tahun, Kaleka menargetkan hutan adat untuk mendapatkan pengakuan di tingkat nasional, dan beberapa kebijakan dalam perlindungan hutan dapat menginspirasi daerah lain di Indonesia. Dalam lima belas tahun, kita akan melihat industri cluster parfum, minyak atsiri, dan produk perikanan di Fakfak, Papua Barat,” papar Venticia dengan optimis.

Minyak Atsiri
Minyak Atsiri Istimewa

Fakfak, Siap Jadi Pusat Industri Parfum dan Minyak Atsiri

Cerita dari Fakfak adalah contoh nyata bahwa pelestarian alam dan pertumbuhan ekonomi bisa berjalan beriringan. Dengan inovasi, semangat gotong royong, dan kearifan lokal, Fakfak siap menatap masa depan yang lebih cerah.

Jadi, kalau 15 tahun lagi kamu mencium wangi parfum kelas dunia dan tahu itu berasal dari pala Papua—jangan kaget ya. Bisa jadi itu hasil kerja keras Mama Siti dan perempuan-perempuan luar biasa dari hutan Fakfak.

Rekomendasi