Lontong Cap Go Meh, Simbol Akulturasi Budaya dan Kebersamaan dalam Perayaan Imlek

Setiap perayaan Cap Go Meh, menu lontong cap go meh selalu menjadi sajian utama yang penuh makna dan filosofi.

Titah Mranani
Oleh Titah Mranani - Reporter
Lontong Cap Go Meh, Simbol Akulturasi Budaya dan Kebersamaan dalam Perayaan Imlek
ilustrasi lontong cap go meh/copyright shutterstock/Chairunnisa Chairunnisa (© 2025 Liputan6.com)

Lontong Cap Go Meh bukan sekadar hidangan biasa. Di balik kelezatannya, terdapat sejarah panjang yang mencerminkan akulturasi budaya Tionghoa dan Nusantara. Makanan ini menjadi simbol keberagaman, doa, dan harapan yang selalu hadir dalam perayaan Cap Go Meh—hari ke-15 sekaligus penutup rangkaian Tahun Baru Imlek.

Lontong Cap Go Meh dipercaya berasal dari tradisi masyarakat Tionghoa Peranakan di Jawa, khususnya di Semarang dan Surabaya. Pada masa kolonial, banyak keturunan Tionghoa yang menetap di Indonesia mulai mengadaptasi budaya dan kuliner lokal. Salah satu contohnya adalah bubur putih yang biasa disantap saat Cap Go Meh di Tiongkok.

Namun, dalam budaya Jawa, bubur sering dikaitkan dengan makanan orang sakit, sehingga kurang cocok disajikan dalam perayaan yang penuh kebahagiaan. Sebagai gantinya, mereka menggunakan lontong—hidangan berbahan dasar beras yang lebih diterima dalam tradisi kuliner Nusantara. Dari sinilah lahir Lontong Cap Go Meh yang kita kenal saat ini.

Tidak hanya lezat, Lontong Cap Go Meh juga sarat dengan makna simbolis yang mencerminkan harapan baik di tahun yang baru:

  1. Lontong melambangkan kehidupan yang panjang dan sejahtera. Bentuknya yang lonjong menyerupai gulungan kertas, yang melambangkan ilmu dan kebijaksanaan.
  1. Opor ayam melambangkan kesejahteraan dan keberuntungan, karena ayam dalam budaya Tionghoa dianggap sebagai simbol kemakmuran.
  1. Telur pindang mencerminkan kesempurnaan dan awal yang baru, selaras dengan semangat Imlek.
  1. Sambal goreng ati melambangkan ketulusan hati dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan.
  1. Sayur labu siam dipercaya membawa keseimbangan dan keselarasan dalam hidup.

Dengan berbagai lauk yang beragam, Lontong Cap Go Meh juga menjadi lambang keberagaman dan kebersamaan, mencerminkan hubungan harmonis antara budaya Tionghoa dan Indonesia.

Pada awalnya, Lontong Cap Go Meh hanya dibuat di rumah-rumah keluarga Tionghoa Peranakan sebagai bagian dari tradisi Cap Go Meh. Namun, seiring waktu, hidangan ini mulai populer dan menjadi sajian khas yang bisa ditemukan di banyak restoran dan warung makan, terutama di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jakarta.

Kini, setiap perayaan Cap Go Meh, banyak orang—termasuk mereka yang bukan keturunan Tionghoa—ikut menikmati hidangan ini. Lontong Cap Go Meh telah menjadi bagian dari kekayaan kuliner Nusantara, membuktikan bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang sejarah, identitas, dan persatuan budaya.

Salah satu tempat yang terkenal dengan hidangan ini adalah Ketupat Cap Go Meh Gloria Ny. Kartika Tjandra, yang berada di Metro Atom, Pasar Baru. Sejak 1965, warung ini telah menjadi bagian dari tradisi yang menghubungkan budaya Tionghoa dan Nusantara.

Dulu, warung ini berdiri di kawasan Gloria, Pancoran, tersembunyi di sebuah gang kecil di samping pertokoan. Dari generasi ke generasi, racikan bumbu dan resepnya tetap dijaga tanpa perubahan berarti.

"Tidak ada yang spesial, tapi kalau dicoba, pasti suka," kata sang anak, Liana, yang kini menjadi generasi kedua.

Bagi para pelanggan setianya, ketupat Cap Go Meh ini bukan sekadar makanan biasa, tetapi juga membawa kenangan akan tradisi, kehangatan keluarga, dan perayaan yang penuh makna.

Berbeda dengan ketupat sayur biasa, ketupat Cap Go Meh hadir dengan beragam lauk yang menggugah selera. Seporsi lengkap biasanya berisi ketupat, ayam kampung dengan bumbu kari atau opor, tahu, telur bebek, tempe, kentang, sayur labu, sambal goreng petai, ati ampela, dan urat sengkel.

Kombinasi ini menciptakan harmoni rasa yang kaya—gurih, manis, pedas, dan penuh rempah. Salah satu lauk yang paling digemari pelanggan adalah sambal goreng petai, yang dengan aromanya yang khas dan cita rasanya yang kuat menambah kelezatan setiap suapan.

Selain rasanya yang istimewa, kualitas bahan menjadi prioritas utama di tempat ini. Mereka menggunakan bahan premium seperti ayam kampung, telur bebek, hingga cabai kualitas terbaik. Setiap bahan dipilih dengan teliti untuk memastikan cita rasa tetap terjaga dari tahun ke tahun.

Menjelang perayaan Imlek dan Cap Go Meh, dapur Ketupat Cap Go Meh Gloria mulai sibuk sejak dini hari. Dari pukul lima pagi, para pekerja mulai memasak, memastikan semua bahan sudah siap sebelum pelanggan datang.

Momen ini menjadi waktu paling ramai dalam setahun, ketika orang-orang berbondong-bondong mencari hidangan khas yang telah menjadi bagian dari tradisi keluarga mereka.

Bagi banyak orang, menikmati seporsi Lontong Cap Go Meh di akhir rangkaian perayaan Imlek bukan hanya soal menyantap makanan lezat, tetapi juga tentang merayakan kebersamaan dan mempertahankan warisan budaya.

Seiring berjalannya waktu, warung legendaris ini tetap setia dengan cita rasanya yang khas, menjadi saksi bisu perubahan zaman, dan terus menjadi bagian dari perayaan Imlek di Jakarta.

Lontong Cap Go Meh bukan hanya sekadar hidangan, tetapi juga cerminan bagaimana budaya bisa berbaur dengan harmonis dan tetap lestari hingga kini.

Rekomendasi