Sejak dulu, baju berwarna pink selalu dianggap sebagai lambang feminitas dan identik dengan wanita. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa pada awalnya, warna ini justru digunakan untuk anak laki-laki? Mari kita telusuri sejarah menarik di balik fenomena ini.
Advertisement
Sebelum perang dunia I, konsep pembagian warna berdasarkan jenis kelamin belum diterapkan.
Menurut informasi dari Smithsonian, pada masa itu, tidak ada aturan yang menetapkan biru untuk anak laki-laki dan pink untuk anak perempuan. Perubahan ini baru terjadi setelah perang dunia I.
Advertisement
Berdasarkan artikel dari Earnshaw's Infant's Department yang diterbitkan pada Juni 1918, warna pink awalnya diberikan untuk anak laki-laki karena dianggap lebih tegas dan kuat.
Sebaliknya, biru diberikan untuk anak perempuan karena dianggap lebih lembut dan cantik. Bahkan, pada tahun 1927, grafik pembagian warna berdasarkan jenis kelamin dari Time magazine menunjukkan anak laki-laki berwarna pink dan anak perempuan berwarna biru.
Advertisement
Namun, hingga tahun 1940, pembagian warna berdasarkan jenis kelamin belum menjadi aturan mutlak. Sebelumnya, tidak ada warna yang spesifik untuk anak laki-laki atau perempuan.
Perubahan signifikan terjadi pada tahun 1940, di mana kondisi ekonomi yang membaik mendorong munculnya lebih banyak pabrik dan perusahaan pakaian. Itulah awal mula spesifikasi warna pakaian berdasarkan selera perancang pakaian.
Advertisement
Pada dekade 1960-1970, gelombang feminisme turut mempengaruhi perubahan tren warna pakaian.
Perbedaan warna berdasarkan jenis kelamin mulai berkurang, dan banyak perusahaan pakaian membuat baju-baju dengan warna netral yang bisa digunakan oleh kedua jenis kelamin. Tren ini bertahan setidaknya hingga pertengahan 1980-an.
Advertisement
Namun, mulai dekade 1980-an, warna pink kembali muncul sebagai warna yang identik dengan anak perempuan. Popularitas boneka Barbie menjadi salah satu faktor utama yang melatarbelakangi pemilihan warna ini. Sejak saat itu, pembagian warna pink untuk wanita terus bertahan hingga kini.
Advertisement
Pink atau merah jambu diidentikkan dengan perempuan karena lambang feminin, kalem, baik hati, dan tenang. Sifat-sifat ini mayoritas terdapat pada wanita, sehingga warna pink secara alami menjadi simbol femininitas.
Advertisement
Menurut Britannica, warna-warna pastel untuk pakaian bayi, termasuk biru dan pink, diperkenalkan pada pertengahan abad ke-19. Sebelumnya, warna-warna tersebut tidak dijadikan penanda jenis kelamin hingga abad ke-20.
Pada awal abad ke-20, toko-toko mulai menyarankan warna yang sesuai dengan jenis kelamin, seperti yang diungkapkan oleh publikasi perdagangan Earnshaw's Infants' Department pada tahun 1918.
Advertisement
Sejarawan Jo B Paoletti menjelaskan bahwa baby boomer pada tahun 1940-an adalah generasi pertama yang mengenakan pakaian khusus jenis kelamin. Perubahan identitas ini terjadi secara mendadak, dengan warna merah jambu menjadi warna anak perempuan dan biru menjadi warna anak laki-laki.
Advertisement
Meskipun terjadi perlawanan terhadap pembatasan jenis kelamin dalam mode pada 1960-1970, tren pakaian anak-anak berorientasi gender kembali kuat pada tahun 1980-an.
Advertisement
Berikut beberapa fakta menarik tentang warna pink yang dilansir oleh The Fact Site:
1. Warna pink melambangkan kegembiraan dan kebahagiaan.
2. Minggu ketiga adven dikatakan berwarna merah jambu menurut agama Kristen.
3. Pewarna akar Madder digunakan untuk menghasilkan semua warna yang berkaitan dengan warna merah jambu.
4. Warna pink juga dikenal sebagai "warna cinta" dan sering digunakan pada Hari Valentine.
Advertisement
Advertisement