Trump sesalkan hilangnya Jamal Khashoggi, namun tetap ingin kerja sama dengan Saudi

Jumat, 12 Oktober 2018 11:15 Reporter : Ira Astiana
Trump sesalkan hilangnya Jamal Khashoggi, namun tetap ingin kerja sama dengan Saudi jamal khashoggi. ©Sky News

Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku 'tidak senang' dengan kemungkinan bahwa Arab Saudi terlibat dalam kasus hilangnya Jamal Khashoggi. Khashoggi merupakan wartawan terkemuka Saudi yang hilang saat mendatangi kantor konsulat Saudi di Istanbul, Turki, 2 Oktober lalu.

"Kami menyikapi (berita ini) dengan sangat sangat serius. Saya tidak senang dengan hal ini. Meski kenyataannya dia bukan warga AS, namun tetap saja. Saya tidak senang karena saya menghargai profesi wartawan. Ini benar-benar mengerikan dan kami tidak akan membiarkan ini terjadi," kata Trump, dikutip dari Huffington Post, Jumat (12/10).

Trump menambahkan bahwa pihak AS akan bekerja sama dengan pihak berwenang dari negara-negara yang terlibat untuk mengungkap misteri hilangnya Khashoggi.

"Kami memiliki penyelidik di sana, dan kami juga bekerja sama dengan Turki. Terus terang, kami juga bekerja dengan Arab Saudi. Kami ingin mencari tahu apa yang terjadi. Dia terakhir terlihat masuk ke kantor konsulat, tetapi tidak keluar tempat tersebut. Terlebih dia juga tidak ditemukan di sekitar lokasi," ungkap Trump.

Meski mengaku sangat terganggu dengan berita hilangnya Khashoggi, Trump menegaskan bahwa kerja sama perdagangan dengan Saudi akan terus berjalan. Sebab hilangnya Khashoggi dan kerja sama antar negara adalah dua hal berbeda. Dia tidak akan menghentikan penjualan senjata ke negara kerajaan tersebut.

"Saya bisa mengatakan hubungan kerja sama kami masih bagus. Saya sudah memberi tahu Saudi untuk membayar militernya. Saudi adalah negara yang sangat kaya, dan selama bertahun-tahun tidak akan Saudi tanpa AS karena kami yang melindungi mereka," jelas Trump.

"Peristiwa ini terjadi di Turki dan sejauh yang saya tahu, Khashoggi bukanlah warga negara AS. Selain itu, saya tidak suka menghentikan sejumlah besar uang yang masuk ke negara kita. Saya tidak suka menghentikan investasi sebesar USD 11o miliar," tambahnya.

Sebagaimana diketahui, Khashoggi merupakan wartawan Washington Post yang mengisi kolom opini untuk urusan Saudi. Dalam artikelnya, Khashoggi kerap mengkritik kebijakan dan rezim Saudi.

Sempat takut ditangkap oleh pihak berwenang Saudi karena tulisannya, Khashoggi pun mengasingkan diri ke AS. Pada 2 Oktober lalu dia mendatangi kantor konsulat Saudi di Istanbul, Turki, untuk mendaftarkan pernikahan. Namun sejak masuk ke kantor tersebut, Khashoggi dilaporkan tak pernah keluar.

Otoritas Turki yakin bahwa Khashoggi telah dibunuh dalam kantor konsulat dan mayatnya dimutilasi lalu dibawa keluar gedung. Agen intelijen AS pun mengungkapkan bahwa Pangeran Muhammad bin Salman mengeluarkan perintah untuk menangkap Khashoggi. [ias]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini