PT Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok (BIL) menghadirkan inovasi pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal lewat Galeri Mina Tenun di Desa Sukarara, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Program ini mengintegrasikan penguatan ekonomi perempuan penenun, pengembangan produk budaya, hingga pemanfaatan energi terbarukan untuk penyediaan air bersih.
Inisiatif Mina Tenun berawal dari realitas sosial dan ekonomi di Desa Sukarara. Sebagian purna Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang kembali ke desa kerap kesulitan mendapatkan akses pekerjaan dan penghasilan yang layak. Di sisi lain, tradisi menenun yang menjadi tumpuan hidup masih dibayang-bayangi masalah nilai jual yang rendah, minimnya modal, serta ketergantungan pada rantai distribusi pengepul.
VP Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat harus berangkat dari pemenuhan kebutuhan riil di lapangan tanpa mengesampingkan potensi daerah.
"Melalui Galeri Mina Tenun, kami berupaya membuka akses ekonomi yang lebih baik bagi perempuan penenun, sekaligus mengembangkan potensi lokal melalui inovasi yang mengintegrasikan budaya dan energi terbarukan. Kami ingin perempuan penenun memiliki peluang untuk meningkatkan penghasilan dan membangun kemandirian ekonomi, sementara masyarakat juga dapat merasakan manfaat program dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui dukungan akses air bersih," ujar Dian, Jumat (9/10).
Advertisement
Dongkrak Nilai Jual Kain dan Kepastian Pendapatan
Sebelum adanya pendampingan program, para penenun di Desa Sukarara berada dalam posisi tawar yang lemah. Sebagian penenun hanya mengantongi upah sekitar Rp25.000 untuk setiap lembar kain yang diselesaikan. Sistem pembayaran dari pengepul yang tidak pasti membuat perputaran modal untuk membeli bahan baku menjadi sangat terbatas.
Kehadiran Galeri Mina Tenun memberikan solusi konkret berupa fasilitasi bahan baku, variasi motif, serta penyediaan alat tenun gedogan. Tidak hanya membantu dari sisi pemasaran, galeri ini menjamin kepastian pembayaran langsung kepada penenun begitu produksi selesai—tanpa perlu menunggu kain laku di tangan konsumen akhir.
Lewat skema baru ini, pendapatan bersih yang diterima penenun melonjak signifikan hingga mencapai minimal sekitar Rp750.000 per lembar kain. Transformasi ini memperkuat keuangan keluarga, mendorong kemandirian finansial perempuan, serta membuka ruang usaha alternatif bagi purna PMI dan kelompok rentan di desa.
Advertisement
Ubah Gerakan Menenun Jadi Energi Pompa Air Bersih
Tak sekadar membangkitkan sektor ekonomi, Pertamina Patra Niaga AFT BIL turut mengawinkan kerajinan menenun dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat: air bersih. Mengingat ancaman kekeringan yang kerap melanda sebagian wilayah NTB, ketersediaan air bersih menjadi tantangan tersendiri bagi warga Sukarara.
Guna menjawab kendala tersebut, program Mina Tenun memodifikasi Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) sehingga gerakan mekanis saat menenun mampu menghasilkan energi listrik. Listrik terbarukan ini dimanfaatkan untuk menggerakkan pompa air dan sistem filtrasi. Inovasi sosial ini juga diperkuat dengan dukungan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dari bantuan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga.
"Bagi kami, inovasi sosial bukan hanya tentang menghadirkan teknologi baru, tetapi memastikan inovasi tersebut menjawab kebutuhan masyarakat. Melalui Mina Tenun, aktivitas menenun yang menjadi bagian dari budaya lokal dikembangkan untuk mendukung penghidupan perempuan sekaligus menghadirkan solusi bagi kebutuhan air bersih. Kami berharap program ini dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan," tambah Dian.
Langkah ini mempertegas komitmen Pertamina Patra Niaga dalam mengimplementasikan program TJSL berkelanjutan yang menyinergikan pelestarian budaya, penguatan ekonomi kelompok rentan, serta pemanfaatan energi ramah lingkungan.