Demonstrasi menentang kenaikan biaya pendidikan di Kota Liege, Belgia, berujung ricuh. Lebih dari 100 orang diamankan polisi, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (8/10/2026).
Kepolisian Liege, sebagaimana dilaporkan kantor berita Belga, menyebut 80 orang ditahan selama aksi, sementara 27 lainnya ditangkap secara resmi.
Aksi demo pelajar dan mahasiswa berlangsung pada Selasa dan Rabu. Massa memprotes kondisi sistem pendidikan berbahasa Prancis di Belgia, termasuk ruang kelas yang terlalu padat dan sulitnya akses ke berbagai sumber daya pendidikan. Gelombang protes serupa juga terjadi di Prancis.
Polisi menyatakan sejumlah demonstran merusak properti dan membakar sejumlah benda di beberapa lokasi selama aksi.
Para peserta aksi menyebut berbagai persoalan dalam sistem pendidikan membuat mereka merasa tidak memiliki pilihan selain turun ke jalan.
"Ketika kami melihat tidak ada yang berubah tanpa adanya aksi protes, kami memutuskan untuk memulainya," kata Amelia Di Salve, mahasiswa berusia 19 tahun yang sedang belajar untuk menjadi guru.
Ia menambahkan aksi protes yang berlangsung di Prancis "sedikit banyak juga memengaruhi kami".
"Kami saling mendukung karena kami menghadapi masalah yang hampir sama," kata Alfred, mahasiswa berusia 19 tahun lainnya, kepada kantor berita Reuters.
Pihak berwenang menyebut upaya meredakan ketegangan dan mencegah kerusuhan lanjutan tengah dilakukan.
Wali Kota Liege Willy Demeyer membuka ruang komunikasi dengan para pengunjuk rasa. "Dialog dapat dilakukan," kata Demeyer kepada stasiun penyiaran Belgia RTBF.
Ia berharap generasi muda menyampaikan keluhan secara damai dan aspirasinya dapat didengar.