Tentara Israel Akui Tembak Ambulans di Gaza, Petugas Penyelamat Dibunuh dan Jasadnya Dimutilasi

Serangan Israel di Gaza mengakibatkan tewasnya 15 paramedis dan petugas penyelamat.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Tentara Israel Akui Tembak Ambulans di Gaza, Petugas Penyelamat Dibunuh dan Jasadnya Dimutilasi
Tentara Israel Akui Tembak Ambulans di Gaza, Petugas Penyelamat Dibunuh dan Jasadnya Dimutilasi (Merdeka.com)

Tentara Israel mengakui telah menembaki ambulans dan mobil pemadam kebakaran yang sedang dalam misi penyelamatan, mengakibatkan hilangnya kontak dengan 15 paramedis dan petugas penyelamat pada 22 Maret lalu. Pengakuan ini disampaikan pada Sabtu (29/3).

Tentara Israel berdalih kendaraan tersebut digunakan pejuang Hamas dan Jihad Islam Palestina. Klaim ini langsung dibantah Palang Merah Bulan Sabit Palestina (PRCS) dan pihak berwenang Palestina yang menegaskan bahwa petugas penyelamat tersebut menjadi target pembunuhan yang disengaja.

Pada Jumat (28/3), anggota PRCS dan staf PBB yang tiba di lokasi pembantaian melaporkan menemukan jasad pemimpin misi, Anwar Abdel Hamid al-Attar, dalam kondisi tak utuh atau "termutilasi".

“Tim kami menemukan peralatan keselamatan yang sobek yang dikenakan oleh kru di lokasi kejadian. Ini menunjukkan pasukan pendudukan Israel secara langsung menargetkan kru selama penyerbuan, kemudian dengan sengaja mengubah fitur area tersebut dan menyembunyikan jasad beberapa warga sipil menggunakan buldoser dan mesin berat,” kata PRCS dalam sebuah pernyataan, dikutip dari The Cradle, Senin (31/3).

Sementara itu, 13 petugas medis dan pekerja badan pertahanan sipil lainnya masih hilang.

Tindakan Israel ini telah menuai kecaman keras dari berbagai pihak, termasuk PRCS, Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), dan berbagai organisasi internasional lainnya. Mereka menekankan bahwa petugas medis dan ambulans dilindungi oleh hukum humaniter internasional, dan penembakan terhadap mereka merupakan kejahatan perang.

Hamas juga turut mengutuk keras insiden tersebut sebagai pembantaian yang disengaja dan brutal. Peristiwa ini telah memicu gelombang kecaman internasional yang meluas, dengan banyak pihak mendesak penyelidikan independen dan akuntabilitas atas pembunuhan petugas penyelamat dan warga sipil lainnya.

Tim penyelamat dimobilisasi ke Tal as-Sultan pada hari Minggu lalu untuk membantu warga Palestina yang terluka akibat pemboman dan serangan darat Israel. Mereka yang berhasil lolos dari serangan itu melaporkan sejumlah warga Palestina dibunuh Israel.

“Kami menyerukan kepada masyarakat internasional untuk menekan otoritas penjajah agar mengungkapkan nasib personel yang hilang. Kami juga mendesak masyarakat internasional dan negara-negara yang menandatangani Konvensi Jenewa untuk mengambil langkah-langkah serius guna memastikan perlindungan tim medis,” kata PRCS pada Sabtu.

Israel telah membunuh hampir 1.000 warga Palestina di Gaza sejak dimulainya kembali genosida setelah mereka membatalkan gencatan senjata pada 18 Maret. Setengah dari korban adalah perempuan dan anak-anak. Pada 25 Maret, Israel membunuh 300 orang di Gaza. Tel Aviv mengklaim telah menargetkan “para pemimpin” dan “aktivis dari Hamas dan Jihad Islam.”

Rekomendasi