Sedang Antar Pizza, Pria Ini Temukan Makam Kuno Berusia 320 Tahun di Semarang
Seorang guru les privat di Semarang secara tak sengaja menemukan nisan makam China kuno berusia 320 tahun saat mengantar pizza.
Pippo Agosto dengan hati-hati melangkah di antara makam-makam tua yang terletak di jantung kota Semarang di kawasan Bergota. Kawasan makam berusia ratusan tahun itu berada di antara perumahan modern.
"Dilihat dari bentuknya, kita tahu batu-batu ini adalah makam Tionghoa kuno," kata Pippo kepada Channel News Asia.
Guru les privat berusia 50 tahun itu dalam empat tahun belakangan seolah menjadi sejarawan amatir dan pemburu makam kuno. Dia menemukan banyak makam Tionghoa kuno di Semarang dan mendokumentasikannya.
Jalanan di Bergota kebanyakan terbuat dari aspal, beton atau batu bata, tapi ada beberapa bagian berupa tangga yang terbuat dari potongan batu besar, ditutupi tanah dan lumut.
Sisa-sisa makam tersebut telah berubah menjadi pondasi sebuah rumah.
Bagian lain dari makam tersebut telah ditutupi semak belukar dan sampah. Sebagian lainnya dijadikan tiang penyangga rumah. Tulisan Mandarin di nisan itu tidak terbaca karena bentuknya sudah kabur lantaran bertahun-tahun terpapar hujan dan tetesan air dari pipa.
Pippo mendokumentasikan perjalanannya di Facebook, membagikan kunjungannya ke reruntuhan kuil dan istana Jawa kuno, bangunan kolonial Belanda, dan situs-situs bersejarah lainnya.
Ketertarikannya pada makam Tionghoa dimulai pada satu hari di Desember 2020.
"Teman saya mengirim pesan, bahwa dia tersandung nisan Tionghoa ketika sedang mengantar pizza," kata Pippo, seperti dilansir CNA, pekan lalu.
Tulisan Mandarin kuno yang terukir di nisan tersebut, meskipun sebagian telah terkikis waktu, tetap menjadi petunjuk penting bagi para ahli sejarah.
Penemuan ini bukan hanya sekadar penemuan nisan biasa, melainkan jendela waktu yang membuka lembaran sejarah panjang komunitas Tionghoa di Semarang. Keberadaan makam ini menjadi bukti nyata peran serta dan kontribusi warga Tionghoa dalam membentuk sejarah kota Semarang sejak abad ke-15. Pippo, dengan semangatnya mendokumentasikan sejarah, telah berhasil mengungkap sebuah bagian penting dari warisan budaya kota Semarang yang selama ini mungkin terabaikan.
Misteri Nisan Makam Kuno Berusia 320 Tahun
Nisan makam yang ditemukan Pippo Agosto sebagian telah menyatu dengan bangunan modern di sekitarnya. Kondisi ini membuat proses pembacaan tulisan Mandarin kuno yang terukir di nisan tersebut menjadi sangat sulit. "Sebagian besar tulisan sudah terkikis, namun saya masih bisa mengenali beberapa karakter," ujar Pippo.
Meskipun demikian, penemuan ini tetap memberikan informasi berharga tentang sejarah dan budaya Tionghoa di Semarang.Pippo menjelaskan bahwa ia termotivasi untuk mendokumentasikan sejarah warga Tionghoa di Semarang karena minimnya informasi yang tersedia.
"Saya ingin melestarikan sejarah mereka," tambahnya. Ia berharap penemuan ini dapat mendorong penelitian lebih lanjut untuk mengungkap lebih banyak detail tentang sejarah komunitas Tionghoa di kota tersebut dan memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang kehidupan mereka di masa lalu.
Proses identifikasi dan penelitian lebih lanjut akan dilakukan oleh para ahli untuk menentukan secara tepat usia dan asal-usul nisan makam tersebut. Penemuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pemahaman sejarah kota Semarang dan peran penting komunitas Tionghoa dalam perkembangannya. Pihak berwenang setempat juga telah menyatakan komitmennya untuk melindungi dan melestarikan situs bersejarah ini.
Dokumentasi Sejarah Komunitas Tionghoa di Semarang
Penemuan nisan makam kuno ini menjadi bukti nyata keberadaan dan peran penting komunitas Tionghoa di Semarang sejak abad ke-15. Hal ini semakin memperkaya khazanah sejarah kota Semarang dan memberikan wawasan yang lebih dalam tentang keragaman budaya yang ada di dalamnya. Pippo, dengan dedikasinya, telah memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi pelestarian sejarah dan budaya Indonesia.Keberhasilan Pippo dalam menemukan nisan makam ini juga menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap sejarah dan budaya lokal. Banyak potensi sejarah yang masih terpendam dan menunggu untuk ditemukan.
Setiap artefak sejarah, sekecil apapun, menyimpan cerita dan informasi berharga yang dapat memperkaya pengetahuan dan wawasan kita tentang masa lalu.