Ilmuwan Inggris Bongkar Rahasia Kaca Bunglon Romawi Kuno

Ilmuwan University of Sheffield berhasil mereplikasi efek perubahan warna Lycurgus Cup, kaca Romawi berusia 1.600 tahun yang tampak hijau saat disinari dari depan dan merah ketika cahaya menembus dari belakang.

Febika Indriyani
Oleh Febika Indriyani- Reporter
Ilmuwan Inggris Bongkar Rahasia Kaca Bunglon Romawi Kuno
Sejumlah pengunjung mencari barang antik yang dipajang di toko milik Manuel Mosquera di "Pulgas' Market'' di Pamplona, Spanyol utara, (2/3). (AP Photo/Alvaro Barrientos)

Rahasia sihir optik cangkir kuno asal Romawi, Lycurgus Cup, akhirnya berhasil dipecahkan. Benda pusaka berusia 1.600 tahun ini memiliki keunikan langka, yaitu warnanya tampak hijau jika terkena cahaya dari depan, tetapi mendadak berubah menjadi merah delima ketika ditembus cahaya dari belakang.

Kemampuan magis ini telah lama membuat para sejarawan dan ahli kaca gigit jari. Kini, tim ilmuwan dari University of Sheffield, Inggris, sukses merekayasa ulang efek perubahan warna tersebut dengan meniru teknik pembuatan kaca zaman Romawi abad ke-4.

"Bagi saya, keberhasilan ini rasanya seperti melihat pertunjukan sulap," ungkap Dr. Lisa Hollands, teknisi Fakultas Teknik Kimia, Material, dan Biologi University of Sheffield, seperti dikutip dari The Guardian.

Kunci "Sihir": Nano-Emas dan Perak

Lycurgus Cup sendiri dihiasi ukiran relief mendalam yang menggambarkan mitologi Raja Lycurgus yang terjerat tanaman anggur akibat kemurkaan Dionysus, sang dewa anggur.

Di balik keindahannya, perubahan warna cangkir ini dipicu oleh keberadaan partikel nano emas dan perak yang tertanam di dalam kaca. Ukurannya sangat mikroskopis—seribu kali lebih kecil dibandingkan satu butiran pasir.

Dalam risetnya, para peneliti melelehkan bahan kaca pada suhu ekstrem melebihi 1.000 derajat Celsius. Begitu cairan kaca mendingin, kristal nano emas dan perak mulai terbentuk secara alami di dalamnya.

Partikel mikroskopis inilah yang mempermainkan pantulan cahaya. Saat cahaya putih melewati kaca, partikel emas dan perak menyerap gelombang warna biru serta hijau, sehingga warna merah dan jingga memancar keluar. Sebaliknya, ketika cahaya hanya memantul di permukaan luar, cangkir akan terlihat berwarna hijau.

Mahakarya Perajin Romawi

Profesor Emeritus Material Arkeologi dari University College London, Ian Freestone, menilai hasil riset University of Sheffield ini jauh lebih akurat dan presisi dibandingkan percobaan serupa pada era 1960-an.

Menurut Freestone, warna kaca sangat bergantung pada tingkat panas dan posisi bahan di dalam tungku pembakaran. Mengingat teknologi zaman Romawi masih sangat terbatas, kemampuan perajin antik memproduksi warna langka ini secara konsisten merupakan pencapaian yang sangat luar biasa.

Para ahli juga menduga kombinasi warna hijau dan merah ini disengaja. Warna tersebut menyimbolkan proses pematangan buah anggur, selaras dengan relief dewa anggur yang terukir di badan cangkir.

Sebagai bentuk apresiasi, tim riset menggandeng seniman kaca Elliot Walker untuk membuat patung kaca kontemporer yang terinspirasi dari cangkir ikonik ini. Karya kolaborasi tersebut bakal dipajang di Millennium Gallery pada 6–15 November 2026 dalam ajang Festival of the Mind, sebelum disimpan secara permanen di Turner Museum of Glass.

Rekomendasi