Serangan Siber di Prancis: Kulkas Supermarket Panas Hingga 50°C dan Picu Kebakaran

Serangan siber di Prancis membuat ratusan kulkas supermarket naik sampai 50°C, merusak stok dan memicu kebakaran. ANSSI diperintahkan menyelidiki.

Septian Deny
Oleh Septian Deny - Reporter
Serangan Siber di Prancis: Kulkas Supermarket Panas Hingga 50°C dan Picu Kebakaran
Rak kosong di Walmart di Anchorage, Alaska, pada 8 Januari 2022. Beberapa pekan terakhir ini supermarket di Amerika Serikat (AS) tengah kekurangan produk bahan makanan karena masalah baru, seperti tingginya penyebaran varian omicron dan cuaca buruk. (AP Photo/Mark Thiessen)

Serangan siber melumpuhkan sistem pendingin di ratusan supermarket di Prancis hingga membuat suhu kulkas dan freezer melonjak sampai 50 derajat Celsius, yang berujung pada kerusakan stok makanan dan kebakaran di sejumlah gerai.

Dikutip dari Al Jazeera, Rabu (14/10/2026), sejumlah peritel besar—termasuk Intermarche, Cooperative U, dan E Leclerc—mengonfirmasi serangan yang terjadi pada Senin. Dikutip dari AFP, sedikitnya 300 gerai Intermarche atau merek Netto miliknya menjadi sasaran, sementara lebih dari 100 gerai Cooperative U juga terdampak. Carrefour melaporkan 80 gerai terkena dampak, dan Monoprix menyebut sekitar 5 persen dari total sekitar 490 gerainya terdampak. E Leclerc juga mengonfirmasi sejumlah tokonya menjadi sasaran.

Kantor Kejaksaan Paris mengatakan serangan berskala besar itu menargetkan sistem pendingin yang terhubung ke internet di beberapa jaringan peritel makanan di seluruh Prancis. Peristiwa ini menyebabkan bahan pangan rusak serta kebakaran. Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu memerintahkan Badan Keamanan Siber Nasional Prancis (ANSSI) untuk menyelidiki, menurut seorang sumber di kantornya kepada Reuters. Sumber tersebut menyatakan Prancis juga berkoordinasi dengan negara-negara Eropa lain dan menilai apakah perusahaan-perusahaan Prancis lain menghadapi risiko serupa.

Belum ada perkiraan resmi total kerugian. CEO Intermarche Thierry Cotillard mengatakan kepada BFM TV bahwa serangan yang disebutnya belum pernah terjadi sebelumnya itu dapat menimbulkan kerugian hingga puluhan juta euro di seluruh Prancis hanya dalam satu hari. Menurut BFM TV, peretas berhasil memicu proses pencairan es secara paksa pada sistem pendingin dari jarak jauh sehingga stok makanan segar dan produk beku rusak. Intermarche mengatakan gerai-gerai yang terdampak harus membuang seluruh produk segar dan beku mereka. CEO Cooperative U Dominique Schelcher menyatakan gangguan mulai terjadi sejak Minggu malam.

"Menargetkan peralatan yang sangat penting untuk menjaga kesegaran produk dan menjamin pasokan pangan bagi masyarakat Prancis merupakan hal yang sangat serius dan belum pernah terjadi sebelumnya. Ini tidak dapat diterima," tulis Schelcher di platform X. Ia mengatakan tim perusahaan sedang bekerja untuk memulihkan operasional normal secepat mungkin dan menyebut penyelidikan diperlukan untuk mengungkap serangan tersebut.

Kerentanan pada Perangkat Pendingin Jadi Sorotan

Sistem pendingin di supermarket umumnya dikendalikan melalui panel yang mengatur seluruh kulkas dan freezer di satu gerai. Panel-panel tersebut terkoneksi ke internet sehingga perusahaan pemeliharaan dapat menyesuaikan pengaturan dari jarak jauh.

Sumber yang dekat dengan Perdana Menteri Lecornu mengatakan ANSSI telah mengidentifikasi adanya kerentanan pada perangkat lunak yang dipasok oleh perusahaan Denmark Danfoss. Danfoss mengakui mengetahui insiden di Prancis yang memengaruhi sejumlah terbatas sistem manajemen pendingin dan menyatakan perangkat yang terdampak masih menggunakan firmware versi lama.

Danfoss menambahkan pihaknya sudah lama menyarankan pelanggan untuk memperbarui sistem mereka dan mengganti peralatan yang usang. Serangan ini mengikuti publikasi penelitian oleh perusahaan keamanan siber Claroty pada 9 Agustus yang mengungkap kerentanan dalam sistem Danfoss yang berpotensi memungkinkan penyerang melewati mekanisme autentikasi.

Federasi peritel Prancis, FCD, meminta Danfoss memberikan transparansi penuh terkait insiden. FCD juga mengatakan sejumlah gerai yang terdampak telah kembali beroperasi. Felix Aime, analis senior intelijen ancaman siber di Sekoia Threat Detection and Research, mengatakan kepada Reuters bahwa Spanyol, Portugal, Polandia, Jerman, dan Belgia juga dilaporkan terdampak oleh serangan serupa.

Serangan Dianggap Peringatan Internasional

Analis keamanan siber Steven Lachance mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan jenis ini bukan sepenuhnya baru, meski skala serangannya jarang terjadi.

"Kita memiliki infrastruktur terhubung yang aktif di internet dan bisa diretas. Ini adalah realitas baru," ujarnya, seraya menyebut serangan tersebut sebagai "peringatan bagi dunia".

"Kita benar-benar membutuhkan langkah-langkah nasional dan internasional untuk mencegah serangan ini. Jika tidak, hal seperti ini akan terus terjadi," katanya.

Lachance juga memperingatkan bahwa meskipun peritel telah kehilangan jutaan euro akibat makanan yang rusak, serangan berikutnya bisa menyasar sektor yang lebih krusial. "Serangan itu bisa menargetkan infrastruktur energi atau rumah sakit," ujarnya.

Rekomendasi