Rusia Tangkap Jurnalis Jepang di Sakhalin

Rusia menahan jurnalis Jepang Yuki Imai di Pulau Sakhalin atas dugaan spionase. Tokyo meminta akses konsuler dan perlakuan "adil dan tidak memihak".

Septian Deny
Oleh Septian Deny - Reporter
Rusia Tangkap Jurnalis Jepang di Sakhalin
Seorang jenderal senior Rusia tewas akibat ledakan tersebut. Ledakan diduga berasal dari sebuah alat peledak atau bom yang dipasang di bawah mobilnya. Tampak dalam foto, para polisi berjaga di area dekat lokasi kejadian di mana Letnan Jenderal Fanil Sarvarov, kepala Direktorat Pelatihan Operasional Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia, tewas akibat alat peledak yang ditempatkan di bawah mobilnya di Moskow, Senin 22 Desember 2025. (AP Photo)

Dikutip dari The Guardian, Rabu (14/10/2026), Rusia menangkap seorang jurnalis Jepang di Pulau Sakhalin, wilayah Timur Jauh negara itu. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengidentifikasi pria tersebut sebagai Yuki Imai, reporter surat kabar Hokkaido Shimbun, dan menuduhnya melakukan "kegiatan spionase di wilayah Rusia," kata Zakharova.

Imai bertugas di biro Hokkaido Shimbun di Kota Yuzhno-Sakhalinsk. Menurut kantor berita Rusia, TASS, ia dilaporkan tengah bersiap kembali ke Jepang ketika ditangkap atas dugaan mengumpulkan informasi mengenai kemampuan pertahanan Rusia. Badan keamanan FSB menyatakan Imai berniat menyerahkan informasi tersebut kepada badan intelijen Jepang.

FSB merilis video yang memperlihatkan sejumlah petugas bertopeng menyerbu kamar hotel, mendorong seorang pria ke lantai, lalu memborgolnya. Pria itu kemudian diterbangkan ke Moskow, di mana pengadilan memerintahkan agar ia ditahan selama proses penyelidikan sebelum persidangan. Otoritas Rusia tidak mengungkapkan kapan penangkapan maupun sidang berlangsung. Jika terbukti bersalah, Imai terancam hukuman penjara hingga 20 tahun. Media Rusia melaporkan Imai akan tetap ditahan hingga 12 Desember.

Kementerian Luar Negeri Jepang mendesak Moskow untuk memberikan perlakuan yang "adil dan tidak memihak" kepada jurnalis yang ditahan, demikian pernyataan yang dikutip Agence France-Presse (AFP) dari seorang pejabat Jepang.

Hokkaido Shimbun menyatakan telah mengetahui pengumuman otoritas Rusia, namun masih berupaya memastikan rincian kejadian tersebut. "Memastikan keselamatan jurnalis merupakan prioritas utama kami, dan kami mengambil langkah-langkah yang sesuai," kata surat kabar tersebut dalam sebuah pernyataan.

Beberapa kantor berita Rusia yang mengutip pernyataan FSB mengatakan badan keamanan tersebut telah "membuka kasus pidana terhadap warga negara Jepang tersebut" dan menempatkannya dalam tahanan praperadilan.

"Upaya Tokyo untuk menggunakan korespondennya di Rusia ... guna mengumpulkan informasi yang bertujuan merusak keamanan negara kami patut disayangkan," kata Maria Zakharova.

Ketegangan Rusia-Jepang Meningkat Setelah Penangkapan Jurnalis

Penangkapan Imai terjadi di tengah memburuknya hubungan antara Moskow dan Tokyo. Ketegangan kian meningkat sejak Jepang menyatakan dukungan kepada Ukraina dan karena perselisihan lama mengenai kedaulatan gugusan pulau Kuril, yang oleh Jepang disebut Northern Territories atau Wilayah Utara.

Tokyo mengklaim empat pulau yang paling dekat dengan wilayahnya; salah satu pulau tersebut berjarak kurang dari empat kilometer dari Hokkaido. Rusia menguasai gugusan Kuril sejak akhir Perang Dunia II, ketika pasukan Soviet merebut pulau-pulau tersebut pada hari-hari terakhir konflik. Pengambilalihan itu memaksa sekitar 17.000 warga Jepang meninggalkan wilayah tersebut dan kemudian digantikan oleh penduduk Rusia dalam jumlah yang kurang lebih sama.

Pada 2022, Moskow membatalkan program yang memungkinkan mantan penduduk Jepang mengunjungi pulau-pulau itu untuk berziarah ke makam leluhur mereka. Keputusan itu diambil sebagai respons atas dukungan Jepang kepada Ukraina. Pada Agustus lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi salah satu pulau yang disengketakan, langkah yang memicu kemarahan di Jepang.

Tokyo menyatakan akan terus menerapkan sanksi terhadap Rusia dan mempertahankan dukungan kepada Ukraina. Di sisi lain, Rusia menganggap Jepang sebagai negara yang "tidak bersahabat" karena bergabung dengan negara-negara Barat dalam menjatuhkan sanksi terkait perang di Ukraina.

Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia juga menangkap sejumlah warga negara dari negara-negara yang dianggapnya tidak bersahabat dan menuduh mereka bekerja untuk badan intelijen Barat. Pada 2023, jurnalis Amerika Serikat Evan Gershkovich ditangkap atas tuduhan spionase. Ia dijatuhi hukuman 16 tahun penjara sebelum akhirnya dibebaskan melalui pertukaran tahanan pada 2024.

Rekomendasi