Kepolisian Diraja Malaysia (PDRM) telah menerima laporan dari empat politisi yang menjadi korban pemerasan melalui video cabul yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Laporan tersebut diajukan oleh Wong Chen, Anggota Parlemen Subang; Datuk Nelson W. Angang, seorang senator; Wong Chia Zhen, Anggota DPRD Kulim; dan Mohammed Taufiq Johari, Anggota Parlemen Sungai Petani. Direktur Departemen Investigasi Kriminal Bukit Aman, Komisaris Datuk M. Kumar, menyatakan bahwa semua kasus ini memiliki kesamaan dalam pola ancaman, yaitu penyebaran video cabul jika tebusan sebesar USD 100.000 dalam bentuk mata uang kripto tidak dibayarkan, yang dikutip dari laman The Star pada Senin (15/9/2025).
Kumar menjelaskan bahwa saat ini semua laporan sedang dalam tahap penyelidikan berdasarkan Pasal 385 KUHP mengenai pemerasan dan Pasal 233 Undang-Undang Komunikasi dan Multimedia 1998. Ia juga menambahkan bahwa kepolisian bekerja sama dengan Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (KPK) untuk melacak pemilik akun email yang digunakan dalam tindakan pemerasan serta mengumpulkan informasi lain yang relevan. Dalam pernyataannya, Kumar menegaskan bahwa pihak kepolisian tidak akan memberikan toleransi terhadap siapa pun yang terlibat dalam produksi, distribusi, atau penggunaan video cabul yang direkayasa tersebut.
"Polisi tidak akan berkompromi dengan pihak mana pun yang mencoba mengganggu keamanan nasional, ketertiban umum, maupun kerukunan masyarakat," ujarnya dengan tegas.