‘Setiap Hari Aku Yakin Ini Adalah Hari Terakhirku’, Mantan Tawanan Israel Ungkap Ketakutan Terbesarnya adalah Serangan Tentara

Seorang tentara perempuan Israel mengungkap pengalamannya selama menjadi tawanan di Gaza.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
‘Setiap Hari Aku Yakin Ini Adalah Hari Terakhirku’, Mantan Tawanan Israel Ungkap Ketakutan Terbesarnya adalah Serangan Tentara
Na’ama Levy (kdrv)

Seorang tentara Israel mengaku salah satu ketakutan terbesarnya selama ditahan di Gaza adalah serangan yang dilakukan oleh militer Israel sendiri. Ia dibebaskan dalam kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran sandera Januari lalu.

Na’ama Levy, salah satu sandera dari lima tentara perempuan Israel yang telah dibebaskan Januari lalu menyampaikan pernyataan tersebut dalam aksi mingguan di Lapangan Sandera Tel Aviv pada Minggu (25/5). Aksi tersebut menuntut agar seluruh sandera yang masih ditahan segera dibebaskan.

“Mereka (serangan udara Israel) datang tiba-tiba. Awalnya kami mendengar suara peluit di udara dan hanya bisa berdoa semoga serangan itu tidak menghantam kami. Lalu, suara ledakan itu sangat keras sampai tubuh terasa lumpuh, dan tanah bergetar,” ucap Levy di depan ribuan orang, seperti dilansir CNN, Senin (26/5).

Na’ama Levy,
Na’ama Levy, CNN

Putus asa

“Setiap kali, aku merasa hari itu adalah akhir hidupku. Itu adalah pengalaman paling menakutkan selama di sana, dan hal yang paling membahayakan nyawa,” lanjutnya sambil menggambarkan sebuah insiden ketika serangan menyebabkan sebagian rumah di mana ia ditahan hancur.

“Itulah kenyataan yang aku hadapi. Dan sekarang itu menjadi kenyataan mereka,” kata dia, merujuk pada para sandera yang masih berada di Gaza.

“Bahkan saat ini, detik ini juga, ada sandera yang masih mendengar peluit dan ledakan itu. Mereka gemetar ketakutan. Tidak ada tempat untuk lari, dan hanya bisa berdoa sambil menempel ke dinding dengan rasa putus asa yang mengerikan.”

Tujuan utama

Pernyataan Levy muncul saat keluarga para sandera Israel semakin vokal mengkritik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, bersamaan dengan meningkatnya kemarahan internasional untuk segera mengakhiri perang di Gaza.

Awal bulan ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa mengalahkan musuh adalah “tujuan utama” yang lebih penting dibanding pembebasan sandera. Pernyataan tersebut menuai kecaman dari perwakilan keluarga sandera.

Levy menegaskan pembebasan semua sandera harus menjadi prioritas utama, dan “tak akan ada kemenangan sejati tanpa itu.”

“Tak masuk akal kalau di Israel masih ada orang-orang yang tidak memahami penderitaan kami dan tetap membiarkan kami tertinggal di Gaza.”

Pada bulan-bulan awal perang, sandera Israel lainnya juga mengungkap ketakutan yang sama terhadap serangan Israel, menurut laporan media Ynet yang mengutip rekaman dari pertemuan antara sandera yang dibebaskan, keluarga mereka, dan Netanyahu.

“Kekhawatiran kami adalah bukan Hamas yang akan membunuh kami, tapi Israel – dan kemudian mereka (tentara Israel) akan bilang Hamas yang melakukannya,” kata sandera yang dibebaskan pada awal kesepakatan gencatan senjata.

Dalam beberapa pekan terakhir, tekanan internasional terhadap Israel untuk mengakhiri perang kian meningkat karena krisis kelaparan yang sangat parah akibat Israel menurut akses terhadap bantuan kemanusiaan.

Reporter Magang: Devina Faliza Rey

Rekomendasi