Mogok kerja pertama dalam sejarah tercatat terjadi di Mesir pada abad ke-12 SM, tepatnya sekitar 1170 SM pada masa pemerintahan Ramses III. Peristiwa ini terdokumentasi pada papirus yang ditemukan di desa Deir el-Medina, tempat tinggal para pengrajin elit yang membangun makam di lembah para raja.
Semua catatan pemogokan dari para buruh yang tertulis di papirus merujuk pada masa kekuasaan Firaun Ramses III. Selama tahun ke-29 masa pemerintahannya, para pengrajin yang membangun nekropolis (ruang pemakaman) Raja Ramses III berulang kali mogok kerja.
Pada saat itu, buruh di Dier el-Medina mengalami keterlambatan gaji akibat rusaknya sistem disribusi makanan dan upah.
“Sistem pembayaran pekerja nekropolis hancur total, dan memicu pemogokkan pertama yang tercatat dalam sejarah,” tulis ahli Mesir Kuno, Toby Wilkinson, dikutip dari World History.
Para buruh menunggu selama 18 hari setelah hari gajian mereka dan menolak untuk menunggu lebih lama lagi. Mereka meletakkan perkakas mereka dan berbaris menuju kota sambil berteriak, “Kami lapar!”.
Mereka pertama kali berunjuk rasa di kuil kamar mayat Ramses III dan kemudian melakukan aksi duduk di dekat kuil Thutmose III.
Pejabat setempat tak tahu bagaimana cara menangani situasi tersebut, dan para buruh bangkit menuntut upah. Karena terdapat Ma’at (prinsip menjaga keseimbangan) dan buruh tersebut tidak melanggar prinsip Ma’at, para pejabat memerintahkan agar kue-kue dikirim kepada buruh yang mogok kerja dan berharap mereka bisa puas dan pulang.
Namun, kue-kue itu tidak cukup bagi mereka. Keesokan harinya, para buruh mengambil alih gerbang selatan Ramesseum, gudang penyimpanan gandung utama di Thebes. Beberapa buruh masuk ke ruangan untuk menuntut upah mereka, dan pejabat memanggil kepala polisi, seorang pria bernama Montumes. Ia menyuruh pekerja yang unjuk rasa untuk mundur, tetapi mereka menolak. Karena tidak berdaya, Montumes mengundurkan diri dan menyerahkan masalah tersebut kepada para pejabat.
Advertisement
Menutup Akses Menuju Lembah Para Raja
Gaji yang tertunggak akhirnya diserahkan setelah negosiasi antara para pendeta-pejabat dan buruh yang mogok kerja. Tetapi, begitu para buruh kembali ke desa, mereka menyadari bahwa pembayaran berikutnya mungkin akan telat lagi atau bahkan tidak akan dibayarkan. Akhirnya, mereka kembali mogok kerja. Kali ini, mereka mengambil alih dan menutup akses ke lembah para raja.
Aksi tersebut merupakan cara agar para pendeta dan keluarga almarhum tidak bisa memasuki pemakaman dan tidak bisa membawa makanan serta minuman persembahan untuk orang-orang yang telah meninggal. Hal itu dianggap sebagai sebuah pelanggaran serius terhadap kenangan almarhum yang dikubur di sana.
Pejabat muncul dengan pengawal bersenjata dan mengancam akan mengusir para buruh dengan paksa, dan seorang buruh membalasnya dengan mengancam akan menghancurkan makam kerajaan sebelum mereka bergerak melawannya. pada akhirnya, kedua belah pihak menemui titik buntu.
Saat itu, para buruh tidak hanya sekedar mogok karena pembayaran, tetapi karena mereka melihat kasus ini sebagai pelanggaran serius terhadap ma’at. Mereka berfikir bahwa raja seharusnya mengurus rakyatnya dan memastikan pembayaran tepat waktu.
Advertisement
Lanjut Mogok Kerja
Setelah tiga tahun sejak pemogokkan pertama, situasinya belum berubah. Buruh tersebut tidak menerima gaji mereka, dan mereka tetap mogok kerja sampai pejabat mencari cara untuk membayar mereka.
Pemerintah setempat hingga saat itu masih belum mengerti bagaimana menangani masalah ini, dan merasa terbebani. Ditambah, Festival Yobel (perayaan ulang tahun firaun) semakin dekat sehingga mereka harus menjaga perdamaian dan menjujung tinggi martabat firaun. Mereka malu mengirim pernyataan resmi ke kota mengenai pekerja Thebes yang mogok kerja.
Sesuai dengan tradisi budaya, mereka seharusnya mengirim pernyataan kepada wazir (wali kota) yang kemudian akan menyelidiki dan memperbaiki masalah seperti ini. Namun, saat wazir tersebut datang mengambil patung-patung untuk perayaan Yobel, tampaknya tidak ada indikasi bahwa ia diberi tahu tentang masalah ini.
Faktanya, Festival Yobel tahun 1156 SM sukses besar, mereka melupakan masalah sehari-hari dengan menari dan minum. Namun, masalah itu tidak hilang, para buruh tetap melanjutkan pemogokkan mereka untuk mendapat upah di bulan-bulan berikutnya. Akhirnya, upah di bayar secara rutin, dan pejabat mulai menambah jumlah buruh untuk mengirimkan makanan dan perlengkapan kepada mereka.
Aksi para buruh Deir el-Medina menjadi tonggak sejarah atas keberhasilan memaksa pemerintahan untuk mendengar suara rakyat. Sejak itu, pemogokkan menjadi alat perjuangan paling efektif yang terus digunakan hingga akhir masa pemerintahan Ramses III.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey