Gedung Putih berupaya meredakan ketegangan setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan mengenai rencana mengambil alih Jalur Gaza dan mengusir warga Palestina dari wilayah kantong tersebut. Pernyataan Trump memicu banyak reaksi negatif dari berbagai pihak.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menjelaskan maksud Trump adalah relokasi sementara, bukan pemindahan permanen ke negara-negara mayoritas Arab seperti Mesir.
Leavitt juga berdalih pembangunan kembali Jalur Gaza tidak akan dibiayai oleh Amerika Serikat (AS), dan tidak ada pasukan AS yang akan dikirim ke wilayah tersebut.
"Presiden sangat memahami bahwa AS perlu terlibat dalam upaya pembangunan ini untuk memastikan stabilitas di wilayah tersebut bagi semua pihak," jelas Leavitt, seperti dilansir Channel News Asia, Kamis (6/2).
"Ini bukan berarti akan ada pasukan AS di Gaza, dan bukan berarti pembayar pajak di AS akan membiayai upaya ini."
Menurut Leavitt, Trump telah dengan jelas menyatakan harapannya agar mitra AS di kawasan, terutama Mesir dan Yordania, dapat menampung pengungsi Palestina sementara rumah mereka dibangun kembali.
"Ini (Jalur Gaza) adalah lokasi yang hancur sekarang. Ini bukan tempat yang layak huni bagi siapa pun," ungkap Leavitt.
Ketika ditanya mengenai kepastian penempatan pasukan AS di Jalur Gaza, Leavitt menjawab, "Presiden belum berkomitmen pada hal itu."