Arkeolog Pakai AI Ungkap Peradaban Kuno 5.000 Tahun Lalu di Bawah Gurun Terbesar di Bumi

Perpaduan revolusioner antara kecerdasan buatan (AI) dan teknologi pencitraan canggih sedang merevolusi arkeologi, mengungkap situs-situs tersembunyi.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Arkeolog Pakai AI Ungkap Peradaban Kuno 5.000 Tahun Lalu di Bawah Gurun Terbesar di Bumi
gurun (daily galaxy)

Menjelajahi lanskap gurun yang luas telah lama menjadi tantangan besar bagi arkeolog. Pasir yang terus bergeser dan skala wilayah yang sangat luas sering kali menyembunyikan harta karun sejarah, meninggalkan sebagian besar masa lalu kuno umat manusia tersembunyi di bawah permukaan.

Namun, terobosan revolusioner dalam kecerdasan buatan kini mengubah upaya kuno ini, memungkinkan para peneliti mengungkap situs-situs kuno yang sebelumnya tersembunyi di bawah gurun pasir.

Gurun seperti Rub’ Al Khali di Semenanjung Arab, yang juga dikenal sebagai Empty Quarter, mencakup wilayah seluas ratusan ribu kilometer persegi.

Metode arkeologi tradisional, termasuk survei lapangan, membutuhkan banyak tenaga, biaya, dan waktu. Batasan-batasan ini membuat banyak potensi situs sejarah tidak terjamah.

Sinyal radar

Namun, integrasi teknologi mutakhir seperti Synthetic Aperture Radar (SAR) dan algoritma pembelajaran mesin kini mengubah situasi. Dengan menggabungkan alat-alat ini, para peneliti secara dramatis meningkatkan efisiensi dan presisi dalam penemuan arkeologi.

Synthetic Aperture Radar (SAR) dan Pembelajaran Mesin: Cara Kerjanya

Synthetic Aperture Radar (SAR) adalah teknologi penginderaan jauh yang menggunakan sinyal radar untuk menciptakan gambar resolusi tinggi dari permukaan Bumi. Tidak seperti pencitraan optik, SAR dapat menembus penghalang seperti vegetasi, es, atau pasir, sehingga sangat berguna untuk mendeteksi fitur-fitur yang terkubur di bawah lanskap gurun.

Dengan menangkap variasi halus pada struktur permukaan dan bawah permukaan, data SAR menyediakan dasar untuk mengidentifikasi situs-situs arkeologi.

Peran AI

Algoritma pembelajaran mesin, terutama dalam deep learning, memproses data SAR untuk mengidentifikasi pola dan anomali. Dengan melatih algoritma ini menggunakan data dari situs-situs arkeologi yang sudah dikenal, para peneliti dapat mengajarkan mereka mengenali fitur-fitur yang mengindikasikan keberadaan pemukiman, jalur, atau struktur buatan manusia lainnya yang terkubur. Kombinasi ini secara signifikan mengurangi tenaga manual yang dibutuhkan dan meningkatkan kemungkinan menemukan situs-situs yang sebelumnya tidak dikenal.

Penemuan Luar Biasa: Studi Kasus Gurun Dubai

Efektivitas teknologi SAR yang didukung AI telah terbukti di gurun Dubai, di mana para peneliti berhasil menemukan jejak aktivitas manusia yang berasal dari 5.000 tahun yang lalu. Temuan ini mencakup pemukiman kuno dan jalur perjalanan, memberikan gambaran tentang bagaimana komunitas awal bertahan hidup di lingkungan yang keras ini.

“Menemukan situs-situs ini tanpa penggalian terasa seperti membuka bab tersembunyi dari sejarah,” kata Maria Gonzalez, seorang arkeolog yang terlibat dalam proyek tersebut. “Ini menawarkan perspektif baru yang menarik tentang bagaimana peradaban kuno beradaptasi dengan kondisi ini.”

Rekomendasi