Warga Gaza, Palestina kini berbondong-bondong kembali ke rumah mereka setelah kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel diberlakukan sejak 3 hari lalu.
Sebagian besar wilayah Jalur Gaza kini hancur tinggal puing-puing karena dibombardir Israel selama 15 bulan sejak Oktober 2023.
Sejumlah warga Gaza yang kembali ke rumah mereka hanya menyaksikan sisa puing-puing yang hampir rata dengan tanah, tak terkecuali Ashraf Hamdi Abu Taha.
Ashraf mengatakan meski rumahnya kini hancur dia tetap merasa bangga karena mantan pemimpin Hamas Yahya Sinwar gugur di rumahnya di Tal As Sultan, Rafah, Palestina.
Advertisement
Ingin dibingkai
"Rumah saya, seperti juga yang lainnya, hancur, seperti kena gempa. Alhamdulillah. Saya seperti juga yang lainnya, tapi saya bangga karena Yahya Sinwar (Abu Ibrahim), gugur di rumah ini. Itu suatu kehormatan bagi kami, alhamdulillah," kata Ashraf, seperti dilansir laman Middle East Eye, Rabu (22/1).
"Yahya Sinwar, seperti pemimpin dari rakyat Palestina lainnya, Abu Ammar, Abu Jihad, Abu Iyad, Abu al-Houl, Abdul Aziz al-Rantisi, dan Ahmad Yassin. Deretan para syuhada Palestina yang mengorbankan tidak hanya rumah mereka. Rumah saya tidak ada artinya dibanding darah para syuhada," kata Ashraf.
Dia mengaku ingin mengabadikan sisa-sisa sofa tempat Yahya Sinwar duduk sebelum gugur.
"Saya kehilangan seluruh bagian rumah. Yang tersisa hanya sofa ini tempat Yahya Sinwar duduk. Ini suatu kehormatan pribadi bagi saya dan saya ingin membingkainya karena seorang pemimpin besar gugur di sofa ini. Saya ingin membingkainya."
Advertisement
Senang sekaligus sedih
Setelah warga bisa kembali ke sisa-sisa rumah mereka, Ashrfa mengaku kini rumahnya banyak dikunjungi orang.
"Orang-orang mendatangi rumah saya. Sejak kemarin sudah ribuan orang datang dan memberi selamat kepada saya," kata dia.
Putri Ashraf, Salwa, juga mengaku sedih tapi sekaligus senang dengan rumah mereka yang kini sudah hancur.
"Sejujurnya di dalam hati saya senang seorang pemimpin gugur di sini. Pemimpin kami Sinwar gugur di rumah kami. Kami sedih karena dia pemimpin besar. Tapi kami senang dia gugur di rumah kami. Kami terkejut dia gugur di sofa itu. Kami tidak pernah menyangka rumah kami akan jadi seperti ini, jadi tempat Yahya Sinwar gugur.
Kami tidak menyangka rumah kami hancur seperti ini. Kami mengira rumah kami masih ada. Sekarang, seperti orang lain, kami membangun tenda," kata Salwa.
Yahya Sinwar syahid pada 16 Oktober 2024. Drone Israel merekam detik-detik terakhir perlawanan Sinwar ketika dia duduk di sofa di sebuah rumah dalam keadaan terluka.
Kematiannya memperlihatkan kisah perlawanan heroik sampai titik darah penghabisan.