Nama Rasmus Paludan kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah Sabtu lalu dia membakar kitab suci Alquran di depan Kedutaan Turki di Stockholm, Swedia.
Paludan beralasan perbuatannya adalah demi kebebasan berekspresi. Tindakan Paludan itu sontak menuai kecaman dan kemarahan dari Turki dan sejumlah negara Arab seperti Arab Saudi, Yordania, Kuwait, bahkan Indonesia.
Siapa sebetulnya Rasmus Paludan?
Pengacara asal Denmark itu tadinya tidak banyak dikenal sebelum partainya menarik perhatian publik jelang pemilu pada 2019 silam.
Partai politiknya yang bernama Stram Kurs (Garis Keras) menyebut diri mereka sebagai "etnis Denmark" yang ingin melarang Islam dan mendeportasi semua muslim dari Denmark.
"Agenda Garis Keras hanyalah ingin bersikap keras terhadap pengungsi, imigran dan muslim khususnya. Dan itu menarik perhatian sejumlah pemilih yang menganggap kebijakan anti-imigrasi seharusnya bisa lebih tegas dan radikal," kata pakar politik dan pemilu Kasper oller Hansen dari Universitas Copenhagen, seperti dilansir laman Euro News.
Sejak mendirikan partainya pada Juli 2017 Paludan meraup pengikut di YouTube dan Snapchat.
Pada April 2019 pengadilan Denmark menyatakan dia bersalah karena rasisme setelah dia berpendapat orang dari Afrika kurang pintar.
Advertisement
Dalam sebuah video Desember 2018 Paludan mengatakan, "musuh itu Islam dan muslim. Yang terbaik itu adalah jika tidak ada satu pun muslim di dunia ini. Dengan begitu kita bisa mencapai tujuan kita."
Ideologi Garis Keras adalah "ethnonationalism" dan Paludan menuturkan seseorang bisa dibuktikan keturunan Denmark jika punya dua kakek asli orang Denmark."
Martin Krasnik, pemimpin redaksi harian Denmark "Weekendavisen" menyebut Paludan seorang Nazi. Paludan membantah dia punya hubungan dengan Naziisme.
Paludan dan pendukungnya terkenal karena membakar Alquran. Polisi sampai harus mengeluarkan dana sebesar 6 juta euro untuk melindungi pemimpin Partai Garis Keras itu.
Pada April 2019 Paludan berunjuk rasa di distrik Norrebro, Copenhagen tempat mayoritas warga muslim tinggal. Peristiwa itu memicu reaksi dan kerusuhan yang menyebar ke sejumlah tempat di ibu kota.
"Saya sangat tidak setuju dengan provokasi Paludan yang tak berguna selain menebar perpecahan. Bertemu dia harus dengan argumen--bukan kekerasan," kata Perdana Menteri Denmark Lokker Rasmussen di akun Twitternya.
Media Denmark juga menuai kecaman karena memberi panggung bagi Paludan untuk mempromosikan agendanya.
"Paludan itu seperti Trump, dia menyalahkan kemapanan dan media, dan seringkali kebohongan. Tapi pemilih dia tidak peduli," kata Hansen.
Dia juga membakar boneka Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Stockholm pekan lalu.
Pada awal 2020 Paludan dipenjara satu bulan karena mengunggah video anti-Islam di akun media sosial partainya.
Pria 38 tahun itu pernah dituntut atas 14 dakwaan, termasuk rasisme, penghinaan, dan mengemudi ugal-ugalan.