Berdasarkan laporan penelitian berjudul The State of Climate Action 2022, Bumi akan terancam bahaya perubahan iklim kalau konsumsi daging tidak dikurangi secara drastis. Penelitian itu bahkan meminta agar penduduk negara maju hanya memakan dua burger daging dalam satu pekan.
Bukan hanya konsumsi daging, tetapi pengurangan penebangan hutan dan penghapusan batu bara harus dilakukan secepat mungkin agar dapat menyelamatkan Bumi dari ancaman perubahan iklim.
Penelitian itu bahkan menyatakan pengurangan-pengurangan harus dilakukan enam kali lebih cepat dibanding yang dilakukan sekarang. Meski demikian, masih banyak industri lain yang tetap menyumbang kerusakan lingkungan, seperti industri semen dan baja.
Laporan penelitian juga mengungkap kalau pengurangan-pengurangan itu tidak cepat dilakukan, maka pada 2030, level gas rumah kaca dan temperatur di Bumi akan meningkat hingga 1.5 derajat Celsius.
Kurangnya penggunaan energi terbarukan, penggunaan gas yang makin meningkat, industri pembuatan baja, asap pembakaran kendaraan bermotor, emisi gas agrikultur, dan penebangan hutan turut menjadi faktor-faktor penyebab kerusakan lingkungan.
“Dunia telah menyaksikan kehancuran yang ditimbulkan oleh pemanasan hanya 1.1 derajat Celsius. Setiap fraksi derajat penting dalam perjuangan untuk melindungi manusia dan planet ini. Kami melihat kemajuan penting dalam perang melawan perubahan iklim tetapi kami masih belum menang di sektor mana pun,” jelas Ani Dasgupta, kepala eksekutif Institut Sumber Daya Dunia, dikutip dari The Guardian, Rabu (26/10).
Hal senada juga diutarakan Bill Hare, kepala eksekutif Climate Analytics yang menyatakan gas dan bahan bakar fosil masih digunakan hari ini dibandingkan energi terbarukan yang lebih sehat.
Dia juga menjelaskan manusia semakin bergantung pada bahan bakar fosil semenjak pandemi Covid-19 dan konflik Rusia – Ukraina.
Namun di balik semua “kegelapan” itu, laporan yang disusun oleh Systems Change Lab menunjukkan peningkatan jumlah pembangkit listrik tenaga surya dari 2019 – 2021. Begitu juga dengan penjualan mobil listrik yang meningkat dua kali lipat pada 2021.
Laporan itu menyatakan investasi sebesar USD 460 miliar atau Rp 7.166 triliun yang mendukung penyelamatan lingkungan harus diberikan setiap tahunnya.
Negara-negara dan perusahaan-perusahaan di dunia pun harus ikut mendukung, seperti menyesuaikan penggunaan bahan bakar fosil.
Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan