Dua puluh tahun setelah dia merencanakan pembatas kontroversial antara Israel dan Palestina, Dany Tirza sedang mengembangkan alat keamanan yang tidak memerlukan tembok: kamera tubuh atau bodycam dengan teknologi pengenal wajah.
Tirza, mantan kolonel angkatan darat Israel, mengatakan perusahannya Yozot Ltd ingin memproduksi bodyca yang bisa memudahkan polisi mengawasi keramaian dan melakukan deteksi secara real time, bahkan walaupun wajah mereka samar.
Pengenal wajah dalam penegakan hukum menuai kritik global, di mana perusahaan raksasa teknologi AS menolak memberikan teknologi tersebut kepada polisi karena membahayakan privasi.
Namun pendukung teknologi tersebut untuk penegak hukum termasuk Tirza, memuji kemampuan alat tersebut untuk melacak pelaku kejahatan dan orang hilang.
"Polisi akan tahu siapa yang dia hadapi," jelasnya, dikutip dari AFP, Minggu (23/1).
Tirza (63), berbicara kepada AFP dari rumahnya di Kfar Adumim, pemukiman Yahudi di Tepi Barat yang diduduki.
Dia mengatakan dia bekerja sama dengan perusahaan yang berbasis di Tel Aviv, Corsight AI untuk mengembangkan bodycam yang dipakai polisi yang bisa dengan mudah mengidentifikasi orang di tengah keramaian, bahkan walaupun mereka pakai masker atau riasan wajah, dan bisa mencocokkannya dengan foto-foto yang berasal dari beberapa dekade.
CEO Corsight, Rob Watts tidak mengonfirmasi kolaborasi itu, tapi mengatakan perusahaannya bekerja sama dengan 230 "integrator" di seluruh dunia yang memasukkan perangkat lunak pengenalan wajah ke dalam kamera.
Watts mengatakan, teknologi ini memungkinkan klien untuk membangun database, apakah karyawan perusahaan diizinkan masuk ke gedung, pemegang tiket diizinkan masuk ke stadion, atau tersangka yang dicari oleh polisi.
Dia mengatakan, kepolisian Australia dan Inggris telah menguji coba teknologi tersebut.
Advertisement
Facebook, Microsoft, Amazon, dan IBM telah mengumumkan pembekuan sementara atau permanen penjualan program pengenal wajah kepada penegak hukum.
Bulan lalu Prancis memerintahkan perusahaan Clearview AI yang berbasis di AS untuk menghapus data warga negaranya, mengatakan perusahaan itu melanggar privasi ketika merancang database pengenal wajah menggunakan foto dari internet.
Watts menyebut tindakan Clearview AI "mengerikan" dan mengatakan pihaknya tidak menjual teknologi itu ke Rusia, China, atau Myanmar karena masalah "HAM dan etika".
Dia mengatakan Corsight mempekerjakan Tony Porter, mantan komisaris kamera pengintai Inggris, sebagai kepala petugas privasi, dan bahwa perangkat lunak tersebut akan mengaburkan atau menghapus wajah yang dianggap tidak sesuai dalam hitungan detik.
Selain kasus Pegasus, perangkat lunak yang dikembangkan perusahaan Israel NSO Group yang menuai kontroversi karena memata-matai ponsel tokoh penting dunia, perangkat lunak pengenal wajah Israel juga menuai kritikan.
Pada November 2021, mantan tentara Israel mengungkapkan mereka memotret ribuan orang Palestina untuk membuat database untuk program pengawasan pengenalan wajah menangis di kota Hebron, Tepi Barat. Pada 2020, Microsoft mengundurkan diri dari perusahaan pengenal wajah Israel, AnyVision, yang sekarang bernama Oosto, karena perusahaan itu diduga memata-matai orang Palestina.
Oosto bekerja dengan lembaga penegak hukum dan perusahaan swasta di seluruh dunia, dan perangkat lunaknya digunakan di pos pemeriksaan di mana pekerja Palestina menyeberang ke Israel.
Watts mengatakan perusahaannya memiliki "sejumlah kontrak di Israel - kontrak dan lembaga pemerintah", tetapi menolak untuk menjelaskan, mengutip perjanjian yang sifatnya rahasia.