Penegak hukum Kazakhstan melanjutkan operasi pembubaran demonstran di kota Almaty, yang menjadi pusat kericuhan dalam beberapa hari terakhir.
Sebanyak 4.000 orang ditangkap di Kazakhstan di tengah unjuk rasa yang terus berlangsung, menurut Kementerian Dalam Negeri.
Kerusuhan di Kazakhstan mulai awal bulan ini dan dipicu kenaikan harga BBM. Rakyat turun ke jalan-jalan di berbagai kota seperti Zhanaozen dan Aktau, dan unjuk rasa meluas ke seluruh negeri.
Kemudian terjadi kekerasan di mana demonstran bentrok dengan polisi, terjadi penjarahan, aksi pembakaran, dan vandalisme. Sedikitnya satu anggota polisi dilaporkan dipenggal dalam aksi tersebut. Demikian dikutip dari laman Sputnik News, Minggu (9/1).
Di Almaty, ibu kota lama dan kota paling padat Kazakhstan, ratusan orang menyerbu kantor wali kota dan istana presiden lama. Para perusuh juga menyerang markas kepolisian dan membakar bangunan.
Untuk menghentikan kerusuhan tersebut, Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev memberlakukan darurat nasional dan membubarkan pemerintahan.
Dia juga meminta bantuan dari negara-negara sekutu yang tergabung dalam Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO), yang mengirim pasukan penjaga perdamaian untuk menjaga objek-objek strategis di negara tersebut, sementara lembaga penegak hukum Kazakhstan dan militer menata kembali ketertiban.