Militer Umumkan Kudeta di Guinea, Presiden Alpha Conde Ditangkap

Seorang perwira militer Guinea menyiarkan pernyataan pada Minggu, menyatakan Konstitusi Guinea telah dibubarkan dalam sebuah kudeta. Presiden Guinea, Alpha Conde juga ditangkap.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Militer Umumkan Kudeta di Guinea, Presiden Alpha Conde Ditangkap
Anggota pasukan bersenjata Guinea. ©AFP/Getty Images

Seorang perwira militer Guinea menyiarkan pernyataan pada Minggu, menyatakan Konstitusi Guinea telah dibubarkan dalam sebuah kudeta.

"Kami tidak akan lagi mempercayakan politik kepada seorang pria. Kami akan mempercayakannya kepada rakyat. Kami datang hanya untuk itu; itu adalah tugas seorang tentara, untuk menyelamatkan negara," kata perwira militer Guinea, Mamady Doumbouya dalam video tersebut, dikutip dari CNN, Senin (6/9).

Seorang penasihat Presiden Alpha Conde mengatakan kepada CNN, Conde ditangkap dan kudeta terjadi di negara Afrika Barat itu.

Keberadaan pria berusia 83 tahun itu tidak jelas. Conde memenangkan pemilihan yang disengketakan tahun lalu.

Dalam video tersebut, Doumbouya - mengenakan seragam pasukan khusus - mengatakan mereka telah menangkap Conde dan menangguhkan konstitusi, pemerintah dan semua lembaga lainnya. Dia juga mengumumkan penutupan perbatasan darat dan udara. Video tersebut telah banyak beredar dan diberitakan media lokal.

Dalam pembaruan selanjutnya yang disiarkan di TV pemerintah, perwira militer mengumumkan jam malam nasional dan mengatakan Conde tidak terluka.

"Kami ingin meyakinkan masyarakat nasional dan internasional, integritas fisik dan moral mantan Presiden (Alpha Conde) tidak terancam," kata seorang perwira militer, menurut terjemahan yang diterbitkan Reuters.

"Kami mengambil semua tindakan yang diperlukan agar dia memiliki akses ke perawatan medis dan berhubungan dengan dokternya."

Tidak ada bukti jelas yang diberikan tentang kondisi Conde dan CNN belum dapat memverifikasi klaim perwira militer tersebut.

Para petugas melanjutkan dengan mengatakan jam malam nasional telah diumumkan di Guinea.

"Jam malam diterapkan mulai jam 8 malam, secara nasional, dan ini (berlaku) sampai pemberitahuan lebih lanjut," kata seorang petugas, yang membacakan sebuah pernyataan.

Para pejabat itu juga mengundang para menteri dan mantan kepala lembaga untuk rapat pada Senin pukul 11 pagi.

"Bagi siapapun yang tidak hadir akan dianggap sebagai pemberontakan terhadap CNRD," kata mereka, mengacu pada nama kelompok itu, yang dalam bahasa Prancis berarti Komite Reli dan Pembangunan Nasional.

Terjadi tembakan

Pada Minggu, tembakan meletus di Conakry, ibu kota Guinea, diduga sebagai upaya kudeta, menurut beberapa unggahan media sosial dan saksi yang berbicara kepada CNN.

Tentara bersenjata berat hadir di daerah Kaloum Conakry, di mana berlokasi banyak gedung pemerintah, menurut video yang dibagikan di media sosial.

Satu video yang beredar luas menunjukkan Conde dikelilingi oleh tentara Guinea.

Sebelumnya pada hari itu, Kedutaan Besar Inggris di Conakry memperingatkan ada "tembakan terus menerus di beberapa lokasi Conakry" dan meminta orang untuk tetap waspada dan menghindari pergerakan.

"Sudah waktunya bagi kita untuk saling memahami, bergandengan tangan, duduk, menyusun konstitusi yang disesuaikan dengan realitas kita, mampu memecahkan masalah kita," kata Doumbouya dalam video tersebut.

Video lain yang beredar di media sosial menunjukkan warga Guinea menyoraki kendaraan militer dan mengibarkan bendera di ibu kota.

CNN belum secara independen memverifikasi keaslian video tersebut.

Kecaman internasional

Departemen Luar Negeri AS memperingatkan kudeta dapat mempersulit dukungan dari mitra internasional Guinea.

"Kekerasan dan tindakan ekstra-konstitusional apa pun hanya akan mengikis prospek Guinea untuk perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran," jelas Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan pada Minggu.

"Tindakan ini dapat membatasi kemampuan Amerika Serikat dan mitra internasional Guinea lainnya untuk mendukung negara itu saat menavigasi jalan menuju persatuan nasional dan masa depan yang lebih cerah bagi rakyat Guinea."

Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan Minggu, Uni Afrika mengecam apa yang disebutnya "perampasan kekuasaan."

Ketua Uni Afrika, HE Felix Tshisekedi dan ketua Komisi Uni Afrika, HE Moussa Faki Mahamat, meminta "pembebasan segera Presiden Alpha Conde".

Sekjen PBB, Antonio Guterres juga menyerukan pembebasan Conde.

"Saya secara pribadi mengikuti situasi di Guinea dengan sangat cermat. Saya sangat mengutuk setiap pengambilalihan pemerintah dengan kekuatan senjata dan menyerukan pembebasan segera Presiden Alpha Conde," jelasnya di Twitter pada Minggu.

Conde memenangkan kursi kepresidenan pada 2010, mengambil kendali dari junta militer yang telah berkuasa sejak 2008. Pemilihan presiden 2010 adalah yang pertama dalam 52 tahun sejarah republik itu.

Rekomendasi