Seorang pengusaha di Inggris diserang sejumlah pria bertopeng di rumahnya dan dipaksa mentransfer aset kripto bernilai ratusan ribu poundsterling. Pasangan korban yang berbicara kepada BBC menyebut kejadian itu "mengerikan" dan mengaku khawatir terhadap keselamatan bayi yang belum lahir.
Setelah transfer dilakukan, para pelaku kabur dengan mobil yang dikemudikan seorang sopir. Insiden yang terekam kamera keamanan rumah tersebut kini diselidiki polisi, sementara organisasi Crimestoppers menawarkan hadiah 10.000 poundsterling bagi pihak yang memberikan informasi.
Para ahli menyebut pola kejahatan ini sebagai wrench attack, yakni perampokan dengan kekerasan yang menyasar pemilik kripto. Seiring meningkatnya nilai aset kripto, laporan serupa juga muncul di Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat. Setelah dana berpindah, peluang untuk mendapatkannya kembali sangat kecil.
Pria yang oleh BBC disebut sebagai James mengatakan, tiga penyusup memaksa masuk ke rumahnya di Solihull dan menyerang selama 45 menit. "Pintu didorong hingga terbuka. Saya bisa melihat sarung tangan masuk, lalu orang-orang dengan balaklava," kata James.
Ia berusaha melawan, tetapi para pelaku memukul wajah, kepala, dan tulang rusuknya dengan palu. Sementara itu, istrinya yang sedang hamil tujuh bulan ditahan di sofa oleh salah satu pelaku. "Dia menutupi wajah istri saya dengan bantal. Dia benar-benar membuat istri saya kehabisan napas di sofa. Saya mendengar istri saya berteriak, ‘Saya tidak bisa bernapas’," ujar James.
Pada awalnya, pasangan ini tidak mengetahui apa yang dicari para penyerang hingga salah satu pelaku memaksa James membuka kunci ponselnya. Menurut James, mereka tampaknya tahu ia memiliki aset kripto, tetapi tidak memahami cara mengaksesnya dan mengikuti instruksi seseorang melalui panggilan video langsung. "Saya bisa mendengar pria di FaceTime berkata, ‘Tunjukkan semua yang ada di ponselnya. Tunjukkan aplikasi apa saja yang dia miliki’," kata James.
Ketika dompet kripto bernilai besar ditemukan, ancaman meningkat tajam. "Dia pada dasarnya berkata, 'Dengar, jika kamu tidak mengirimkan uang ini sekarang, kami akan menusuk perut istrimu dan membunuh bayimu. Kami akan membunuh istrimu'," tutur James.
Istri James, yang enggan diungkap identitasnya, menyebut serangan pada Desember tahun lalu itu sebagai pengalaman yang menakutkan. Ia sempat takut suaminya tewas ketika melihat James tergeletak tak merespons. "Itu sangat menakutkan," katanya. Perempuan berusia awal 30-an itu saat itu mengandung anak ketiganya. Ia khawatir tekanan akibat serangan akan berdampak pada kandungan, namun bayinya lahir cukup bulan.
Advertisement
Aset Kripto Ludes, Jam Tangan Rolex Ikut Raib
Para pelaku akhirnya meninggalkan rumah setelah James mentransfer seluruh tabungan kriptonya, senilai ratusan ribu poundsterling, ke dompet digital milik pria yang terhubung melalui panggilan video. Mereka juga mengambil beberapa jam tangan mewah Rolex. Menurut James, sebelum kabur, ia mendengar orang di panggilan video itu berkata kepada komplotannya, "Kalian masing-masing bisa mendapatkan 10 ribu poundsterling, tetapi sisanya saya ambil."
Tidak seperti dana di rekening bank, aset kripto kerap dikelola langsung pemilik melalui dompet digital atau perangkat penyimpanan fisik. Bagi pelaku kejahatan, kombinasi transaksi yang cepat, relatif anonim, dan sulit dibatalkan membuat pemilik kripto menjadi sasaran menarik.
Penyelidik kripto di Chainalysis mencatat, selain peretasan dan penipuan daring, serangan fisik yang dikenal sebagai wrench attack meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hingga Juni tahun ini, aset senilai 30 juta dolar AS atau sekitar 22,6 juta poundsterling telah dicuri melalui perampokan dengan kekerasan. Temuan itu menunjukkan 2026 berpotensi menjadi tahun dengan jumlah serangan fisik terhadap pemilik kripto tertinggi sepanjang sejarah. Penelitian tersebut juga menyoroti kenaikan kasus penyusupan rumah.
Amerika Serikat, Brasil, dan Thailand disebut sebagai titik rawan, sementara Prancis mencatat jumlah serangan tertinggi menyusul kebocoran data di kantor pajak yang diduga membantu pelaku mengidentifikasi lokasi pemilik kripto kaya. Para peneliti menulis, "Anggapan mengenai keamanan fisik yang melindungi kekayaan tradisional, seperti brankas bank dan mobil lapis baja, tidak serta-merta berlaku untuk kripto. Pemilik sering kali menyimpan aset mereka dalam sistem dengan tingkat keamanan yang relatif rendah, seperti dompet yang dikelola sendiri, yang dapat dibobol tanpa adanya lembaga perantara sebagai penghalang."
James menyebut mulai berinvestasi kripto secara mandiri pada 2020. Keuntungannya sempat besar hingga ia memutuskan berhenti dari pekerjaan pada 2023 untuk berdagang kripto penuh waktu. Kini seluruh asetnya hilang dan ia berencana kembali ke pekerjaan konvensional.
Hingga saat ini, polisi belum mengidentifikasi para pelaku. Crimestoppers berharap publik menyampaikan informasi terkait tiga penyerang, pengemudi yang menunggu di luar rumah tanpa menutupi wajahnya, atau pria yang memberikan instruksi melalui telepon. "Para pelaku ini jelas merupakan penjahat serius dan bagian dari suatu kelompok kejahatan terorganisasi," kata Alan Edwards dari Crimestoppers. "Orang-orang mungkin takut memberikan informasi kepada kami, tetapi kami independen dari kepolisian dan menjaga identitas pemberi informasi sepenuhnya anonim."
Ketiga penyerang diperkirakan berusia akhir belasan hingga awal 20-an. Salah seorang di antaranya merupakan pria berkulit hitam dengan bekas luka di bawah alis kirinya.
James mengaku hanya memiliki sedikit harapan untuk mendapatkan kembali dana yang dicuri, namun ingin para pelaku diadili. "Mereka mengancam istri dan bayi saya," katanya. "Orang-orang perlu memahami bahwa risiko ini nyata."