Kaleidoskop 2020: Biden Dinyatakan Menang Pilpres AS, Trump Masih Ogah Akui Kekalahan

Usai pemilihan presiden AS 2020, kekalahan capres petahana Donald Trump menjadi headline di surat kabar di berbagai negara. Namun Trump ogah mengaku kalah. Dia terus melontarkan kecurangan tanpa bukti terhadap kubu lawannya dari Demokrat, Joe Biden.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Kaleidoskop 2020: Biden Dinyatakan Menang Pilpres AS, Trump Masih Ogah Akui Kekalahan
Debat Capres AS 2020 Donald Trump dengan Joe Biden. ©CNN

Kontestasi politik dunia yang ramai disorot adalah pemilihan presiden Amerika Serikat. Tak dapat dipungkiri, sebagian besar warga dunia menanti siapa yang akan memimpin negara adidaya ini dalam empat tahun mendatang, apakah petahana Donald Trump dari Republik atau pesaingnya dari Demokrat Joe Biden yang bertarung pada 3 November 2019.

Syarat bagi kandidat presiden AS untuk melaju ke Gedung Putih adalah mengantongi minimal 270 suara elektoral atau electoral votes. Pada 5 November, berdasarkan hasil penghitungan sementara, Biden telah mengantongi 264 suara dan Trump 214 suara elektoral. Setelah mengetahui hasil sementara tersebut dan mendekati kemenangannya, Biden mengeluarkan pernyataan mengajak semua rakyat Amerika Bersatu dan melupakan persaingan karena perbedaan pilihan dalam pilpres.

Namun saat proses rekapitulasi suara masih berlangsung, Trump mengklaim menang dan melontarkan tudingan kecurangan.

“Saya memenangkan pemilihan ini, dengan suara banyak," tulis Donald Trump di akun Twitter-nya.

Saat itu, proses rekapitulasi masih berlangsung. Di negara bagian seperti North Carolina, Georgia, Nevada dan Alaska masih dalam proses penghitungan. Biden dinyatakan menang Pilpres AS 2020 setelah unggul di Pennsylvania.

Trump dan timnya mengajukan beberapa gugatan hukum, menuntut dilakukan penghitungan ulang dan audit surat suara. Dia juga mengklaim dirinya dicurangi dalam pemilu ini.

Trump juga saksinya tak diizinkan masuk saat proses penghitungan suara.

"Saksi tak diizinkan masuk ke dalam ruang rekapitulasi. Saya memenangkan pemilihan, mendapatkan 71.000.000 suara sah. Hal buruk terjadi yang mana para saksi tak diizinkan melihat. Tak pernah terjadi sebelumnya. Jutaan surat suara pos dikirim ke orang-orang yang tak pernah memintanya," kicaunya.

Pada 15 Desember, Electoral College secara resmi mengumumkan hasil pilpres AS, menyatakan Joe Biden sebagai pemenang. Hasil akhir menunjukkan Biden mendapatkan 306 suara Electoral College, Trump mendapatkan 232.

Tetap saja Trump ogah mengaku kalah dan tak ada ucapan selamat yang disampaikan kepada lawannya hingga saat ini.

Sosok Narsis Jahat

Trump kerap menyebut lawan politiknya sebagai pecundang dan kini sifat itu bisa disematkan ke dirinya yang tak mau mengakui kekalahan secara ksatria. Apa yang membuat Trump ogah mengaku kalah?

Menurut sejumlah ahli kejiwaan dan akademisi, naiknya Trump ke tampuk kekuasaan dengan sifatnya yang cenderung otoriter membuat dia hampir tidak mungkin menerima kekalahan secara elok dari pesaingnya.

Dilansir dari AFP, Selasa (10/11), Ruth Ben-Ghiat, profesor sejarah dari Universitas New York mengatakan kepada AFP, Trump ingin menciptakan model kepemimpinan otoritarian dalam menjalankan kursi kepresidenan berdasarkan "arogansi, brutalitas, dan ide bahwa dia harus selalu dibela dari musuh-musuhnya."

"Sangat mudah untuk mengklaim pemilu ini seluruh prosesnya adalah kecurangan dibanding menerima kenyataan bahwa kebijakan dia membuat orang justru menentangnya dan itu sudah cukup untuk membuat dia kalah," ujar Ben-Ghiat yang akan meluncurkan buku barunya: "Strongmen: Mussolini to the Present."

John Gartner, psikolog asal Baltimore yang bersama para ahli kejiwaan lain sudah memperingatkan bahwa Trump adalah sosok "narsis yang jahat".

Orang dengan karakter macam ini, kata Erich Fromm, kerap memperlihatkan narsisnya, antisosial, gangguan kepribadian, paranoid, dan sadisme.

Gartner mengatakan dia khawatir Trump tetap berusaha mengejar keinginannya dengan segala macam cara untuk mengatasi kekalahannya.

Berdasarkan sejumlah laporan, orang terdekat Trump seperti istrinya Melania dan menantunya, Jared Kushner telah menasihatinya agar menerima kekalahan. Namun sepertinya nasihat itu tak digubris.

Penyebab Kekalahan Trump

Masa jabatan kepresidenan Trump diwarnai sejumlah skandal dan kontroversi. Dia menolak menghadapi akar perpecahan rasial dan justru melipatgandakan keluhan warga kulit putih. 

Prospeknya untuk terpilih kembali untuk periode kedua dihalangi kegagalannya dalam menangani pandemi virus corona. Bahkan di puncak masa kampanye, Trump masuk rumah sakit karena positif Covid-19.

"Jika presiden tak pernah terkena Covid, dia menang pemilihan. Survei kami menunjukkan penurunan signifikan saat itu terjadi, khususnya di kalangan warga pinggiran kota, pendidikan sarjana, warga non-liberal," kata konsultan atau ahli strategi Partai Republik, Brad Todd, dikutip dari TIME, Minggu (8/11).

"Trump terkena Covid memberi tanda ke orang-orang tersebut bahwa gaya penanganannya memiliki konsekuensi bahkan untuk dia pribadi dan oleh karena itu tak mungkin berubah."

Pendiri Pemilih Republik Lawan Trump (RVAT), Sarah Longwell mengatakan Trump kalah karena kegagalannya terhubung dengan hal-hal yang menjadi perhatian utama para pemilih yaitu virus corona.

"Apa yang Trump lakukan adalah memutuskan berpura-pura bahwa virus corona itu bukanlah hal dominan dalam hidup masyarakat," kata Longwell.

Faktor yang juga menyebabkan kekalahan Trump adalah kesalahan memilih tim kampanye dengan mengangkat Brad Parscale sebagai manajer kampanyenya. Pascale dinilai tak memiliki pengalaman kampanye apapun.

Faktor penyebab kekalahan yang juga sangat berpengaruh ialah Trump mengabaikan unjuk rasa rasisme sistemik. Dia tak pernah mencoba mempersatukan negaranya.Jajak pendapat menunjukkan mayoritas pemilih tidak setuju dengan penanganan Trump terhadap unjuk rasa Black Lives Matter, memprotes kebrutalan polisi yang menewaskan seorang pria kulit hitam, George Floyd. Hal itu juga yang membuat sebagian besar pemilih Trump dari kalangan kulit putih beralih.

Terakhir ialah faktor kegagalan memperbaiki perekonomian yang dihantam pandemi. Pada awal 2020, para penasihat presiden melihat perekonomian adalah faktor kuat yang bisa membuat Trump bisa terpilih kembali. Saat perekonomian terguncang karena pandemi virus corona, para penasihat ini menggambarkan Trump sebagai orang terbaik yang bisa mengembalikan ekonomi.

Namun dengan tingginya angka pengangguran dan 12,6 juta masih menganggur sampai September, menjadi tugas berat bagi Trump. Sejarawan Universitas New York, Timothy Naftali, pandemi virus corona yang berdampak pada angka pengangguran itu menghancurkan Trump.

Tak Ada Kecurangan Pilpres

Pada awal Desember, Jaksa Agung AS, William Barr menyatakan Departemen Kehakiman AS tidak menemukan adanya bukti kecurangan pemilih yang dapat mengubah hasil pemilu 2020 seperti yang diklaim Trump.

Pada Selasa (1/12), Barr mengatakan kepada AP, jaksa dan agen FBI telah bekerja untuk menindaklanjuti keluhan dan informasi tertentu yang mereka terima, tetapi "sampai saat ini, kami belum melihat kecurangan dalam skala yang dapat mempengaruhi hasil yang berbeda dalam pemilihan."

Padahal diketahui, Barr adalah salah satu sekutu presiden yang paling bersemangat. Sebelum pemilihan, dia telah berulang kali mengemukakan anggapan pemungutan suara melalui surat bisa sangat rentan dicurangi selama pandemi virus corona karena orang Amerika takut pergi ke TPS dan malah memilih untuk memberikan suara melalui surat.

Pengacara pribadi Trump Rudy Giuliani dan tim kampanyenya mengecam pernyataan Barr.

Pejabat administrasi lain yang menentang tuduhan Trump terkait kecurangan pemilu dipecat. Tapi tidak jelas apakah Barr mungkin mengalami nasib yang sama. Dia mempertahankan posisinya dengan Trump, dan terlepas dari perbedaan mereka, keduanya kerap bertemu.

Namun pada 15 Desember, setelah Electoral College menyatakan kemenangan Biden, Barr menyatakan akan mengundurkan diri sepekan kemudian. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Reuters bahwa Barr mengundurkan diri atas kemauan sendiri.

Wapres Perempuan Pertama

Presiden AS terpilih, Joe Biden akan dilantik bersama Wakil Presiden AS terpilih, Kamala Harris pada 20 Januari 2021 mendatang. Biden adalah Presiden AS tertua yang akan dilantik yaitu pada usia 78 tahun. 

Sementara itu, Harris akan menjadi wakil presiden perempuan pertama dalam sejarah AS. Tak hanya itu, dia juga akan menjadi wakil presiden kulit hitam dan keturunan Asia Selatan pertama. Kamala Harris berdarah Jamaika dari ayahnya dan India dari ibunya. 

Harris, yang telah mewakili California di Senat sejak 2017, tumbuh besar di gereja Black Baptist dan kuil Hindu.

Saat menyampaikan pidato kemenangannya pada November lalu. Harris memberi penghormatan pada mendiang ibunya Shyamala Gopalan Harris, seorang peneliti kanker payudara dan aktivis hak-hak sipil yang pindah dari India ke Amerika pada usia 19, yang dia sebut “perempuan yang paling bertanggung jawab atas kehadiran saya di sini hari ini”.

"Dia mungkin tidak membayangkan momen ini, tapi dia sangat percaya pada Amerika dimana momen seperti ini mungkin terjadi, jadi saya memikirkan tentang dia dan tentang generasi perempuan, perempuan kulit hitam, putih, Asia, Latin, perempuan penduduk asli Amerika yang sepanjang sejarah bangsa kita telah membuka jalan untuk saat ini, perempuan yang berjuang dan berkorban begitu banyak untuk kesetaraan dan kebebasan dan keadilan untuk semua," jelasnya dalam pidatonya, dikutip dari The Straits Times, Minggu (8/11).

Kamala juga mengatakan pilihan Biden yang memilihnya sebagai wapres menunjukkan karakter mantan presiden tersebut.

"Dia (Biden) memiliki keberanian untuk mendobrak salah satu penghalang paling substansial yang ada di negara kita dan memilih seorang perempuan sebagai wakil presidennya, tapi sementara saya mungkin perempuan pertama di kantor ini, saya tidak akan menjadi yang terakhir,” tambahnya.

"Karena setiap anak perempuan kecil yang menonton malam ini melihat bahwa ini adalah negara dengan segala kemungkinan. Dan untuk anak-anak di negara kita, terlepas apapun gender kalian, negara kita telah mengirimkan pesan yang jelas kepada kalian; bermimpi dengan ambisi, maju dengan keyakinan, dan lihatlah diri kalian dengan cara yang mungkin tidak dilihat orang lain, hanya karena mereka tidak pernah melihatnya sebelumnya," lanjutnya.

"Tapi ketahuilah kami akan menyemangati kalian di setiap langkah."

Tantangan Joe Biden

Setelah Electoral College secara resmi menetapkan hasil pilpres, Presiden AS terpilih Joe Biden menyampaikan pidato kemenangan.

"Supremasi hukum, Konstitusi kita, dan keinginan rakyat menang," ujarnya, dikutip dari CNN, Selasa (15/12).

"Api demokrasi telah menyala di negara ini sejak lama. Dan kita sekarang tidak tahu apa-apa, bahkan pandemi atau penyalahgunaan kekuasaan, tidak dapat memadamkan api itu," lanjut Biden.

Dalam pidatonya Senin malam di Delaware, Biden melontarkan pembelaan atas kemenangannya, yang dituding Trump penuh kecurangan. Mantan wakil presiden ini juga melontarkan kecaman paling keras atas upaya Trump yang gagal untuk mengubah hasil pemilu.

Dia memaparkan kegagalan tim kampanye Trump dan koalisinya di pengadilan negara bagian dan federal serta badan legislatif negara bagian, dan mengatakan tidak secara substansial mengubah penghitungan suara. Dia menyebut upaya Trump dan pendukungnya untuk menggunakan pengadilan untuk membatalkan hasil pemilu "sangat ekstrem yang belum pernah kami lihat sebelumnya."

"Syukurlah, Mahkamah Agung dengan suara bulat segera dan sepenuhnya menolak upaya ini," kata Biden.

Biden menyatakan sudah waktunya untuk "membalik halaman, bersatu, menyembuhkan."

"Kami rakyat telah memilih. Keyakinan pada lembaga kami dipegang. Integritas pemilu kami tetap utuh. Jadi, sekarang saatnya membalik halaman. Untuk bersatu. Untuk menyembuhkan."

Setelah dilantik pada 20 Januari mendatang, Biden menghadapi tugas yang menantang untuk memerangi pandemi virus corona, menghidupkan kembali ekonomi AS, dan membangun kembali hubungan yang rusak dengan sekutu AS di luar negeri akibat kebijakan "America First" Trump.

Dalam pidato kemenangannya, Biden juga menyampaikan apa yang akan dilakukan di awal tugasnya setelah dilantik seperti upaya memerangi pandemi virus corona, termasuk mendistribusikan vaksin dan memperlambat penyebarannya ketika vaksin tersedia, dan membangun kembali ekonomi yang hancur karena pandemi.

"Ada pekerjaan mendesak di depan kita semua," cetusnya.

"Mengendalikan pandemi dengan vaksinasi untuk melawan virus. Segera memberikan bantuan ekonomi yang sangat dibutuhkan oleh begitu banyak warga Amerika yang menderita hari ini - dan kemudian membangun kembali ekonomi kita lebih baik dari sebelumnya," pungkasnya.

Rekomendasi