Skotlandia menjadi negara pertama di dunia yang menggratiskan produk datang bulan seperti pembalut bagi semua orang yang membutuhkan, setelah persetujuan akhir diberikan kepada RUU di parlemen pada Selasa.
Program ini bertujuan untuk mengakhiri kemiskinan akibat datang bulan. Pasalnya di beberapa kasus, mahalnya harga produk atau biaya yang harus dikeluarkan perempuan saat datang bulan membuat banyak orang tak memiliki akses mendapatkan produk tersebut.
Perdana Menteri Skotlandia, Nicola Sturgeon menyampaikan di Twitter sesaat setelah dilakukan pemungutan suara pada Selasa malam, mengatakan dia "bangga memilih legislasi terobosan ini" yang dia sebut "kebijakan penting bagi perempuan dan gadis remaja".
Dikutip dari The New York Times, Rabu (25/11), RUU itu mendapat persetujuan awal di parlemen awal tahun ini. Tapi pada pemungutan suara Selasa, RUU itu secara resmi disahkan, mendapatkan suara bulat dukungan dari anggota parlemen.
Dua tahun lalu, Skotlandia juga membuat sejarah ketika mulai menyediakan pembalut gratis di sekolah-sekolah dan universitas, melalui program pemerintah. Tahun lalu, Inggris dan Wales menyusul dengan program yang sama.
Advertisement
UU baru di Skotlandia ini mengatur hak legal warga mendapatkan pembalut dan tampon secara gratis di sekolah, kampus, universitas, dan tempat publik lainnya.
Anggota parlemen yang mengajukan naskah RUU itu, Monica Lennon, berterima kasih kepada kelompok-kelompok yang berperan penting dalam pengesahannya, termasuk Girl Guides of Scotland. Dia mengatakan upaya kolaboratif di seluruh pemerintah telah membuahkan hasil.
"Kami telah menunjukkan bahwa Parlemen ini dapat menjadi kekuatan progresif untuk perubahan ketika kami bekerja sama," kata Lennon, berbicara di depan Parlemen menjelang pemungutan suara pada Selasa.
Anggota parlemen di seluruh spektrum politik menyuarakan dukungan mereka untuk RUU tersebut selama pembahasan terakhir, dan memuji Lennon dan yang lainnya karena membuatnya menjadi kenyataan.
Advertisement
Sebelum pemungutan suara, Aileen Campbell, sekretaris kabinet bidang komunitas dan pemerintah lokal mengatakan pengesahan RUU ini akan mengirimkan "pesan yang sangat jelas kepada Skotlandia seperti apa yang kita inginkan."
"Jelas bahwa setiap orang di ruangan ini setuju tidak seorang pun di masyarakat kita harus mengalami penghinaan karena tidak memiliki sarana untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka dan bahwa dapat mengakses produk datang bulan adalah dasar kesetaraan dan martabat."
Bukan hanya biaya produk yang menjadi masalah. Ada berbagai keadaan yang membuat menstruasi menjadi pengalaman yang sulit bagi perempuan dan anak perempuan, termasuk kemiskinan, tunawisma, KDRT, dan beberapa kondisi kesehatan. Beberapa transgender juga mungkin mengalami kesulitan dalam mengakses produk ini.
Masalah ini diperburuk pandemi virus corona, sebuah penelitian yang diterbitkan Plan International UK, sebuah badan amal anak-anak global.
Survei menunjukkan, hampir sepertiga dari anak perempuan dan perempuan antara usia 14 dan 21 tahun mengalami masalah baik dalam mengakses produk datang bula selama penguncian lockdown pertama tahun ini. Sementara sekolah-sekolah di seluruh Inggris telah menyediakan produk-produk menstruasi secara gratis sejak tahun lalu, dengan sekolah dan GOR ditutup selama pandemi, lebih banyak anak perempuan tak mendapatkan akses produk tersebut.
"Sekarang lebih penting dari sebelumnya karena menstruasi tidak berhenti saat pandemi," kata Lennon di Parlemen.
Dia dan anggota parlemen lainnya juga menjelaskan masih ada tugas yang harus dilakukan untuk mengatasi stigma dan rasa malu terkait menstruasi.
"Setelah akses ke produk menstruasi diamankan untuk semua, langkah kami selanjutnya harus memastikan kesehatan perempuan secara umum tetap menjadi prioritas utama dalam agenda politik di Skotlandia dan bahwa kita mengakhiri semua stigma seputar menstruasi," jelasnya kepada media berita lokal, The Scotsman.