Parlemen Thailand Terima Tuntutan Pengunjuk Rasa untuk Reformasi Konstitusi

Anggota parlemen Thailand bersiap melakukan voting untuk reformasi konstitusional pada Rabu, ketika terjadi bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi sehari sebelum enam pengunjuk rasa ditembak dan sedikitnya 55 orang terluka.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Parlemen Thailand Terima Tuntutan Pengunjuk Rasa untuk Reformasi Konstitusi
Pengunjuk rasa Thailand pakai pelampung bebek untuk tameng. ©REUTERS/Athit Perawongmetha

Anggota parlemen Thailand bersiap melakukan voting untuk reformasi konstitusional pada Rabu, ketika terjadi bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi sehari sebelum enam pengunjuk rasa ditembak dan sedikitnya 55 orang terluka.

Para pengunjuk rasa yang berjalan menuju Gedung Parlemen Thailand bentrok dengan polisi dan massa pendukung kerajaan, yang merupakan kekerasan terburuk sejak gerakan unjuk rasa yang dipimpin anak muda dimulai pada Juli lalu.

Pada Selasa, anggota parlemen Thailand memperdebatkan kemungkinan perubahan konstitusi rancangan militer saat para pengunjuk rasa bentrok dengan polisi.

Dilansir Channel News Asia, Rabu (18/11), polisi menembakkan water cannon dan gas air mata ke para pengunjuk rasa yang memotong barikade kawat berduri dan menyingkirkan pembatas beton di luar gedung parlemen. Polisi membantah menembakkan peluru hidup atau peluru karet, mereka berkilah saat ini sedang menyelidiki siapa yang menggunakan senjata.

Unjuk rasa yang menyerukan reformasi konstitusional skala besar yang telah melanggengkan kekuatan militer, merupakan tantangan terbesar bagi Thailand selama bertahun-tahun.

Ribuan pengunjuk rasa terpusat di parlemen menekan anggota parlemen membahas perubahan konstitusi. Mereka juga menuntut pemberhentian Perdana Menteri Prayut Chan-ocha, yang merupakan mantan anggota militer. Para pengunjuk rasa juga menuntut pembatasan kekuasaan Raja Maha Vajiralongkorn.

Rumah Sakit Erawan Bangkok menyampaikan sedikitnya 55 orang terluka dalam bentrokan pengunjuk rasa dan polisi. Selain itu, sedikitnya 32 orang terpapar gas air mata dan enam orang mengalami luka tembak.

"Kami mencoba mencegah bentrokan," kata Wakil Kepala Kepolisian Bangkok, Piya Tavichai, dalam jumpa pers.

Polisi, lanjutnya, berusaha memukul mundur para pengunjuk rasa dari parlemen dan memisahkan mereka dengan massa pendukung kerajaan.

Juru bicara pemerintah, Anucha Burapachaisri mengatakan polisi terpaksa menggunakan gas air mata dan water cannon untuk mengamankan anggota parlemen.

PM Prayut mulai berkuasa pada 2014 dan masih menjabat setelah pemilihan tahun lalu. Dia membantah tudingan oposisi yang mengatakan ada kecurangan dalam pemilihan.

Anggota parlemen sedang membahas beberapa usulan perubahan konstitusional, yang sebagian besar akan mengesampingkan kemungkinan mengubah peran kerajaan.

Salah satu usulan yaitu upaya mengganti anggota Senat yang ditunjuk militer dengan perwakilan yang dipilih langsung. Seperti diketahui, dukungan Senat yang memungkinkan Prayut untuk tetap berkuasa setelah pemilihan tahun lalu.

Parlemen diperkirakan melakukan voting hari ini Rabu (18/11) di mana amandemen akan dibahas lebih lanjut.

Pemungutan suara diperkirakan akan memakan waktu beberapa jam dan kemungkinan belum selesai pada saat pengunjuk rasa berkumpul kembali di persimpangan utama di distrik perbelanjaan Bangkok, Ratchaprasong pada pukul 16.00.

Rekomendasi