Pasukan keamanan Lebanon menembakkan gas air mata untuk membubarkan puluhan demonstran anti pemerintah pada Kamis malam di Beirut.
Para demonstran marah atas ledakan dahsyat pada Selasa, yang dipandang secara luas sebagai ekspresi paling mengejutkan atas ketidakmampuan pemerintah mereka.
Bentrokan di pusat kota Beirut berlangsung di jalan yang hancur menuju ke parlemen, reruntuhan dari ledakan Selasa masih berserakan di seluruh wilayah. Demikian dilansir dari Times of Israel, Jumat (7/8).
Para demonstran menyalakan api, vandalisasi toko-toko dan melempar batu ke para pasukan keamanan, menurut kantor berita pemerintah, National News Agency (NNA). Polisi merespons dengan gas air mata untuk membubarkan massa, melukai sejumlah demonstran.
Ledakan pada Selasa sore itu menewaskan sedikitnya 149 orang dan melukai sedikitnya 5.000 orang di seluruh distrik ibu kota. Pemerintah mengatakan ledakan dipicu api yang membakar 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan di sebuah gudang di pelabuhan Beirut sejak 2013.
Hal ini menimbulkan pertanyaan terkait bagaimana kargo yang sangat besar bermuatan bahan berdaya ledak tinggi bisa dibiarkan begitu lama tanpa jaminan.
Advertisement
Ledakan itu terjadi ketika Lebanon telah terperosok dalam krisis ekonomi terburuk sejak perang saudara 1975-1990. Hal ini menambah kemarahan gerakan unjuk rasa yang muncul pada Oktober untuk menuntut penghapusan kelas politik yang dianggap tidak kompeten dan korup.
Para aktivis menyerukan unjuk rasa anti pemerintah besar-besaran pada Sabtu, aksi yang mereka gelari "gantung mereka di tiang gantungan."
Bentrokan kamis pecah saat Duta Besar Lebanon untuk Yordania mengundurkan diri, menyebutnya "keteledoran total" pihak berwenang negara tersebut yang menandai perlunya perubahan kepemimpinan.
Itu adalah pengunduran diri kedua karena ledakan Selasa, setelah anggota parlemen Marwan Hamadeh juga mengundurkan diri pada Rabu.