Sekelompok tim ahli mengatakan kepada Gedung Putih kemarin, hasil penelitian menunjukkan virus corona bisa menyebar tidak hanya lewat bersin atau batuk, tapi juga lewat obrolan atau bahkan hanya bernapas.
"Di saat penelitian khusus tentang virus corona masih terbatas, hasil dari penelitian ini sesuai dengan sifat aerosol (partikel abu) virus corona yang berasal dari tarikan napas," kata surat yang ditulis Dr Harvey Fineberg, ketua komite Akademi Sains Nasional Amerika, seperti dilansir laman CNN, Jumat (3/4).
Fineberg mengatakan kepada CNN, kini dia akan mulai memakai masker jika hendak ke toko swalayan.
"Saya tidak akan memakai masker bedah karena petugas medis membutuhkan itu," kata Fineberg, mantan dekan Sekolah Kesehatan Umum Harvard School. "Tapi saya punya ikat kepala gaya Barat yang bisa saya pakai atau kupluk. Saya punya beberapa pilihan."
Dr Anthony Fauci, anggita gugus tugas penanganan virus corona Gedung Putih mengatakan kepada CNN dua hari lalu, ide untuk merekomendasikan pemakaian masker di AS untuk mencegah penyebaran virus corona sedang banyak dibahas oleh para ahli.
Advertisement
Fineberg mengatakan suratnya yang dikirimkan Rabu malam itu merupakan jawaban atas permintaan informasi dari Kelvin Droegemeier di Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih.
"Surat ini adalah respons dari pertanyaan Anda tentang kemungkinan virus corona bisa menyebar lewat obrolan selain dari bersin/batuk," kata surat itu.
"Penelitian yang ada saat ini mendukung kemungkinan virus corona bisa menyebar lewat partikel abu ketika pasien membuang napas."
Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS, virus corona menyebar dari orang ke orang ketika keduanya berjarak kurang dari 2 meter lewat "percikan ketika seseorang yang terinfeksi bersin atau batuk.
Fineberg mengatakan kepada CNN, informasi itu benar, tapi penelitian memperlihatkan partikel abu dari percakapan orang atau bahkan udara dari napas seseorang bisa juga menyebarkan virus.
Advertisement
Dalam suratnya Fineberg menjelaskan soal penelitian di rumah sakit China yang memperlihatkan virus corona bisa bertahan di udara ketika dokter dan perawat melepas pakaian pelindung diri atau ketika lantai dibersihkan atau ketika petugas rumah sakit bergerak.
Penelitian dari Universitas Nebraska memperlihatkan materi genetik dari virus corona ditemukan di kamar pasien yang berjarak 2 meter dari dirinya.
Fineberg mengatakan ada kemungkinan partikel abu dari percikan virus corona bisa bertahan di udara dan menulari seseorang yang lewat di dekat situ.
Namun dia mengatakan virus corona tidak semenular seperti tubercolosis atau campak/cacar air.
Berapa lama virus corona bisa bertahan di udara tergantung dari sejumlah faktor, termasuk berapa banyak virus yang keluar dari seorang pasien ketika dia bernapas atau berbicara dan seberapa besar sirkulasi udara di sekitar, kata Fineberg.
"Jika Anda mengeluarkan partikel abu virus corona di ruangan tanpa sirkulasi maka ada peluang jika Anda lewat di ruangan itu kemudian, Anda bisa mengisap virus itu," kata Fineberg. "Tapi jika Anda berada di luar ruangan maka embusan angin bisa membuyarkan virus."