Bila Diminta, Polri Siap Cari WNI Azura Luna Diduga Penipu Kelas Internasional

Azura menceritakan banyak hal tentang dirinya. Mulai dari latar keluarga terpandang dan hidup dalam kemewahan.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Bila Diminta, Polri Siap Cari WNI Azura Luna Diduga Penipu Kelas Internasional
azura luna mangunhardjono. ©SCMO

Nama Azura Luna Mangunhardjono ramai diperbincangkan setelah diberitakan South China Moring Post. Jason, ahli teknologi asal New York, mengungkap sosok wanita wanita asal Kediri yang kini berada tinggal di Hong Kong.

Jason menceritakan, pertemuan pertamanya dengan Azura terjadi pada Oktober 2018 silam. Dia mendatangi Hong Kong untuk urusan bisnis.

Azura menceritakan banyak hal tentang dirinya. Mulai dari latar keluarga terpandang dan hidup dalam kemewahan.

Singkat cerita, muncul sosok Sophia. Warga Los Angeles itu merasa telah ditipu oleh Azura. Sophia mengklaim, telah membayar lebih dari 86 ribu dolar Amerika atau setara Rp 1,2 miliar untuk sekian banyak tas tangan Hermès yang merupakan koleksi pribadi Azura Mangunhardjono. Pembayaran ini dilakukan Sophia untuk ikut dalam pengumpulan dana yang dilakukan Azura.

Ketika Sophia membawa setidaknya empat tas yang dibeli dari Azura untuk autentikasi, dua di antaranya diinformasikan palsu oleh pihak toko. Karena itulah, Sophia langsung menghubung pihak berwajib dan Azura digelandang ke kantor polisi setempat dengan borgol di kedua tangannya.

Azura berhasil bebas atas bantuan dua pengacara asal Washington DC. Kendati, pihak berwajib tengah menunggu konfirmasi pihak Hermès. "Bila terbukti bersalah, ia (Azura) akan langsung ditangkap," kata pihak kepolisian.

Semula Jason tak tahu cerita itu. Sampai awal 2019 lalu, dia mendengar berita miring Azura. Wanita itu membantah saat Jason meminta penjelasan. Jason mulai menaruh curiga lebih besar dan mencari pembuktian akan klaim yang disebutkan Azura.

Seseorang lainnya atas nama Robert mengaku sempat mengeluarkan uang sebesar 150 dolar Amerika atau Rp2,1 miliar untuk membantu si sosialita terkait klaim kematian ayahnya pada 2017 dan berpartisipasi dalam acara penggalangan dana.

"Saya mengeluarkan uang sampai 30 dolar Amerika (Rp432 juta). Beberapa bulan kemudian, saya menghubungi pihak penggalangan dana, mereka menyebut tak mendapat uang sepeser pun dari saya atau Azura," kata Robert

Kepolisian Republik Indonesia mengaku belum menerima permintaan bantuan dari pihak otoritas Hong Kong terkait Azura yang disebut-sebut melakukan penipuan.

"Setelah kita komunikasi ke Divhubinter Polri kita belum mendapatkan permintaan dari tempat negara mana dari pada pelaku ini melakukan suatu tindak pidana," kata Karo Penmas Mabes Polri, Brigjen Pol Raden Argo Yuwono, kepada wartawan.

Argo memastikan, jika ada permintaan dari negara mana pun terkait dugaan kasus pidana, Polri siap memberikan bantuan.

"Tentunya kita akan menunggu misalnya ada permintaan dari negara yang menjadi korban, tempat menjadi korban di sana, nanti akan mengirimkan surat ke Interpol nanti akan kita terima. Sampai sekarang kita belum menerima setelah kita komunikasikan dengan Divhubinter," tegasnya.

Reporter: Nanda Perdana Putra

Sumber: Liputan5.com

Halaman
Rekomendasi