Ketua Senat Bolivia Jeanine Anez kemarin mendeklarasikan dirinya sebagai presiden sementara Bolivia di depan Kongres meski kehadiran anggota Kongres tidak memenuhi kuorum karena kubu partai kiri pendukung mantan Presiden Evo Morales di Kongres memboikot.
"Sebelum ada presiden dan wakil presiden definitif, sebagai presiden dari Senator, sesuai perintah konstitusi saya kini menjabat presiden," ujar Anez, oposisi dari haluan kanan yang disambut tepuk tangan anggota parlemen, seperti dilansir laman Aljazeera melaporkan, Rabu (13/11).
Belum diketahui apakah langkah Anez itu akan meredakan unjuk rasa di La Paz dan beberapa kota lainnya setelah terjadi perselisihan hasil pemilu. Cuplikan video kemarin memperlihatkan polisi berhadapan dengan para pendukung Morales di Kota Cochabamba.
Morales yang merupakan presiden dari suku Indian pertama itu kini berada di Meksiko setelah kemarin mendapat suaka. Dia berjanji akan melanjutkan perlawanan politiknya setelah mundur akibat didemo selama beberapa pekan.
Advertisement
Kudeta Paling Parah dan Licik
Morales menyebut keputusan Anez menggantikan posisinya sebagai "kudeta yang paling parah dan licik dalam sejarah". Sementara itu senator dari partainya Morales menyerukan para pendukungnya menggelar unjuk rasa dari kemarin.
Di Al Alto, kota yang menjadi basis pendukung Morales, ribuan massa turun ke jalan memprotes pengunduran dirinya seraya mengatakan Morales adalah satu-satunya presiden yang mengangkat harkat martabat komunitas suku asli Indian.
"Mereka bilang akan menuju La Paz," kata Teresa Bo, jurnalis Aljazeera di Al Alto. "Mereka bilang akan membalas perbuatan oposisi dan mereka menginginkan 'kepala' dari Mesa, kandidat presiden dari kubu oposisi dan Camachi, pemimpin dari Serikat Sipil Santa Cruz. Mereka juga menyebut kedua orang itu rasis."
Pesawat jet militer terlihat berulang kali melintas di langit La Paz dan itu memicu kemarahan pendukung Morales di kota itu.
"Kami tidak takut," teriak demonstran pendukung Morales.
"Evo sudah seperti ayah bagi saya. Kami jadi punya suara, kami jadi punya hak," kata Maria Apasa, 35 tahun. Seperti Morales, Maria adalah anggota suku India Aymara.