Oman tutup perbatasan dengan Yaman, bagaimana nasib pelajar Indonesia?

Sebenarnya Pemerintah Indonesia, menurut Iqbal sejak tahun 2015 telah mengimbau WNI yang berada di Yaman untuk segera meninggalkan negara itu dan melarang melakukan perjalanan ke sana. Hingga kini larangan tersebut belum pernah dicabut.

Farah Fuadona
Oleh Farah Fuadona - Reporter
Oman tutup perbatasan dengan Yaman, bagaimana nasib pelajar Indonesia?
Menlu Retno Marsudi menyambut kedatangan pelajar Indonesia dari Yaman. Liputan6

Pemerintah Kesultanan Oman menutup perbatasan Yaman-Oman melalui surat edaran resmi tertanggal 6 Mei 2018. Larangan perjalanan bagi semua warga negara asing untuk melintasi perbatasan mengingat perkembangan situasi politik dan keamanan di Yaman.

Oman khawatir perbatasan sepanjang 288 kilometer itu dapat digunakan sebagai pintu masuknya militan ke Yaman untuk mendukung kelompok Huthi dan Al Qaida di semenanjung Arab (AQAP). Selain itu, Oman khawatir perbatasan akan menjadi lalu lintas bagi penyelundupan senjata.

Dengan ditutupnya perbatasan ini praktis, Yaman terisolasi dari dunia luar. Sebelumnya Arab Saudi telah lama menutup perbatasan ke Yaman.

Melihat perkembangan di Yaman yang belum stabil, perwakilan RI di Oman untuk kesekian kalinya mengimbau WNI agar tidak melakukan perjalanan ke Yaman dengan tujuan apapun.

"Ini cukup sulit ya situasinya. Banyak warga negara kita di sana yang cerita kepada kami. Kampus-kampus tempat mereka belajar ditutup karena konflik," ujar Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan BHI Kemlu RI, Lalu Muhammad Iqbal, kepada media di Jakarta, Kamis (25/5) malam.

Sebenarnya Pemerintah Indonesia, menurut Iqbal sejak tahun 2015 telah mengimbau WNI yang berada di Yaman untuk segera meninggalkan negara itu dan melarang melakukan perjalanan ke sana. Hingga kini larangan tersebut belum pernah dicabut.

Imbauan itu terutama disampaikan kepada pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Yaman, untuk pindah dan melanjutkan pendidikannya di tanah air, "Kita juga sudah koordinasi dengan pihak Kementerian Agama RI atas nasib pelajar Indonesia di Yaman. Sebagian ada yang kembali ke Indonesia dan melanjutkan studi di sini" kata dia.

Namun, walau begitu tetap saja banyak yang memilih untuk tetap tinggal dan melanjutkan studinya. Alhasil mereka saat ini kebingungan karena universitas tempat mereka menuntut ilmu tutup dan tidak mungkin mengurus berkas kepindahan.

Saat ini diperkirakan masih terdapat antara 1000-1600 WNI di Yaman. Konsentrasi WNI terbesar terdapat di Provinsi Hadramaut, di mana banyak pelajar Indonesia menuntut ilmu di berbagai lembaga pendidikan Islam.

Sejak konflik di akhir tahun 2014, Pemerintah Indonesia telah memfasilitasi evakuasi WNI dari berbagai wilayah konflik di Yaman. Puncaknya, sejak 30 Maret 2015 hingga April 2015, Pemerintah Indonesia mengirim tim khusus ke Yaman untuk melakukan evakuasi WNI secara intensif dengan dukungan lima perwakilan RI di sekitar Yaman. Total 1925 WNI dan 173 WNA berhasil dievakuasi melalui jalur darat, laut (Kota Aden) dan udara.

Rekomendasi