Laba Ivanka, derita di Subang

Gaji buruh di PT Buma sangat rendah. Berbanding terbalik dengan keuntungan masuk ke kocek Ivanka. Mereka kerap bekerja lembur tanpa dibayar karena diakali perusahaan.

Aryo Putranto Saptohutomo
Laba Ivanka, derita di Subang
ivanka trump. ©Twitter

Cerita ini dimulai dari Alia. Dia cuma seorang buruh perempuan di Subang. Sejak lulus sekolah menengah umum, dia bekerja berpindah-pindah di kampung halamannya itu. Terkadang upah sebulan sangat mepet buat membiayai kebutuhan rumah tangga dan kedua anaknya.Sampai akhirnya Alia kini mencari nafkah di PT Buma harus melewati jalan berliku. Dia tak bisa lagi hengkang seenaknya kini mengingat dua bocahnya selalu menunggu di rumah. Namun, dia juga tak tahan jika terus ditindas.Suami Alia, Ahmad, juga bekerja. Namun, mereka tetap kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Bertahun-tahun bekerja di PT Burma, dia tetap belum mampu mencicil rumah tinggal dan tetap mengontrak. Dia mesti merogoh kocek Rp 400 ribu saban bulan supaya punya tempat buat melepas lelah dan berteduh dari hujan serta panas. Dinding rumahnya dihias foto anak-anaknya. Namun buah hatinya tidak bersamanya, melainkan dititipkan ke orang tuanya. Mereka cuma bersua saban akhir pekan. Itu pun jika punya uang buat membeli bensin.Padahal, dari tangan terampil Alia dan buruh PT Buma lainnya baju merek Ivanka Trump dijahit bagian demi bagian. Namun, nasibnya berbanding terbalik dengan si empunya. Ivanka bisa hidup santai memanjakan diri. Apalagi sang ayah, Donald Trump, kini menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat. Mungkin satu-satunya yang membikin dia risau karena suaminya, Jared Kushner, lagi dibidik FBI gara-gara diduga main mata dengan Rusia sewaktu mertuanya lagi getol berkampanye.Gaji Alia sebulan Rp 2,3 juta. Pendapatannya sebagai buruh adalah salah satu yang terendah di Indonesia. Malah kalah jauh dengan buruh China yang juga membikin lini produk busana Ivanka. Selisihnya mencapai 40 persen.Pemilik PT Buma sebenarnya berasal dari Korea. Mereka membuka pabrik di Subang sejak 1999. Hasil garapan mereka dikirim ke G-III Apparel Group, sebuah pedagang besar pakaian bermerek, termasuk Ivanka Trump. Jumlah pekerjanya mencapai 2,579 orang. Serikat pekerja ada di sana, tetapi terbagi dua. Masing-masing anggotanya seratus orang.

Walau cuma orang biasa, Alia dan sejawatnya ternyata tahu siapa Ivanka Trump. Dia mulai menangani produksi pakaian dengan merek itu setahun lalu. Bersama suaminya, dia mengaku tidak suka ayah Ivanka. Apalagi gara-gara kebijakan anti-imigran Donald Trump melarang pendatang dari sejumlah negara-negara mayoritas Islam."Kami enggak suka kebijakan Trump. Tapi kami enggak bisa berbuat apa-apa karena kami bukan siapa-siapa," kata Alia, seperti dilansir dari laporan Krithika Varagur di laman The Guardian, Rabu (14/6).Ketika disodorkan buku karya Ivanka, 'Women Who Work', Alia memilih menertawakannya. Buat dia, isi buku itu jauh dari kehidupannya. Yang namanya keseimbangan antara bekerja dan dan kehidupan adalah kalau bisa bertemu dengan sang anak saban hari, bukan seminggu sekali.Alia dan sebagian besar rekannya di PT Buma harus bekerja sangat keras. Kebanyakan dari mereka perempuan dan sudah menjadi ibu. Pekerjaan mereka hanya didedikasikan buat memenuhi kebutuhan keluarga, yang kadang tak terpenuhi.Sita (23) lain lagi. Dia memilih berhenti kuliah ketika orang tuanya sakit dan memilih bekerja di PT Buma. Dia merasa cemas karena kontraknya sebentar lagi habis setelah tujuh bulan masa kerja.

"Itu cara perusahaan memangkas pengeluaran. Saya enggak tahan. Saya sering kerja lembur tapi enggak dibayar. Gaji saya tetap Rp 2,3 juta sebulan. Saya mending pindah dari Subang, tapi belum tahu mau ke mana," kata Sita.Tidak semuanya merasa tertindas bekerja di PT Buma. Eka (30) seorang ibu dengan satu anak mengaku menyukai pekerjaannya."Enggak terlalu sulit," kata Eka.Sedangkan rekannya, Yuma, menyukai pekerjaan di pabrik hanya karena terdapat pendingin ruangan. "Saya senang kerja di Buma. Orang tua saya petani dan kerja jadi petani pasti panas-panasan," ujar Yuma.

Para buruh perempuan di Buma memang mendapat hak cuti kehamilan selama tiga bulan, tunjangan kesehatan, dan bonus jika mereka masuk meski sedang datang bulan. Hanya saja kesenjangan kesejahteraan yang teramat jauh antara Alia dan rekan-rekannya yang mesti seharian menjahit baju, dengan Ivanka Trump yang tinggal menunggu dolar masuk koceknya mengiris nurani dan mempertanyakan kembali tentang konsep keadilan sosial. Bahkan si pembuatnya saja tidak mampu memiliki baju karya tangan mereka.Manajemen perusahaan pun masih mencoba mengakali buruhnya. Mereka menetapkan target produksi dalam sehari mesti dikerjakan sangat tidak logis. Dari data didapat The Guardian, pihak perusahaan dalam sehari beberapa kali mengutak-atik target produksi mulai dari 58 hingga 92 potong pakaian dalam sehari. Itu dilakukan selama jam kerja mulai pukul 07.00 WIB hingga 16.00 WIB. Padahal sebenarnya mereka hanya sanggup mengerjakan paling banyak 27 hingga 40 potong sehari.Jika target meleset, buruh-buruh dipaksa lembur buat memenuhi pesanan tanpa bayaran. Sebab pihak perusahaan menyatakan hal itu kesalahan para pekerja. Bahkan ada lagi praktik lebih kejam menghindari pembayaran uang lembur."Manajemen meminta kartu identitas kami dan mengabsennya setiap jam 16.00 WIB supaya kami tidak punya bukti apapun kalau kami lembur," kata seorang pekerja pria, Wildan (25)."Itu sering dilakukan di Indonesia, yakni menggunakan target mustahil buat menghindarkan perusahaan membayar lembur," kata perwakilan lembaga nirlaba Pusat Serikat Hak Pekerja Indonesia (TURC), Andriko Otang.Otang mengatakan, pihak perusahaan PT Buma juga kerap memaki beberapa karyawannya. Menurut dia ada tujuh orang sudah mengadu tentang hal itu."Mereka dibilang dengan sebutan binatang, monyet, bego," kata Otang.Menurut Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Subang, Toto Sunarto, PT Buma juga melakukan pemutusan kontrak terhadap sejumlah pekerjanya buat menghindari mereka membayar tunjangan hari raya. Menurut catatan dia, selama Mei tahun ini sudah ada 290 orang didepak keluar oleh perusahaan.Dalam hal ini, kenyataan tentang kesejahteraan kaum buruh di Indonesia masih jauh dari ideal. Mereka cuma diperas oleh para pemodal yang tinggal menikmati pundi-pundi dolar. Alia contohnya. Saban bulan dia mesti berutang buat menutupi kebutuhan hidupnya. Mulai dari susu anak, buku sekolah, bahkan hanya silaturahim ke tempat saudara bisa menguras kocek mereka."Saya bangga bisa membuat pakaian bermerek ini. Namun, karena saya tahu label harganya dan pakaian ini dijual berapa, ya saya berharap bisa enggak sih upah kami dinaikkan sedikit," kata buruh PT Buma, Fadli.

Menurut catatan Organisasi Buruh Internasional PBB (ILO), Indonesia adalah negara di Asia dengan kesenjangan upah terbesar buat pekerja kasar garmen. Dari sejumlah buruh garmen diwawancara, sebagian besar mengaku tidak pernah menerima kenaikan gaji berdasarkan prestasi, meski mereka sudah bekerja bertahun-tahun."Di Indonesia kamu selalu dihadapkan pada kenyataan patokan gaji didasarkan pada batas terendah. Makanya perusahaan memilih buat membuka pabrik di wilayah dengan upah minimum paling rendah. Dan itu sesuai dengan kemauan perusahaan Barat," kata Direktur Pusat Solidaritas Indonesia dan Malaysia, David Welsh.Beberapa dari pekerja ditanyai juga mengaku enggan bergabung dengan serikat pekerja. Mereka khawatir dipecat. Kebanyakan memilih pasrah dan merasa lembur tanpa dibayar sudah biasa."Memang tidak mengherankan di perusahaan macam begini para buruh sengaja dibuat buta akan haknya. Apalagi soal aturan yang ada di undang-undang tentang upah dan hak. Meski legal, belum tentu hal itu sesuai moral," kata pegiat buruh Amerika Serikat yang kerap meneliti di Indonesia, Jim Keady.Menurut Keady, semua ujungnya adalah Ivanka. Sebab tanpa dia, tidak bakal ada baju itu.Menurut pendiri lembaga nirlaba Fashion Revolution, Carry Somers, kampanye Ivanka Trump tentang wanita yang bekerja cuma omong kosong. Sebab, ide itu mustahil diterapkan di kalangan buruh perempuan di seluruh dunia.Tengok saja kekayaan Ivanka beberapa tahun belakangan. Saat sang ayah berkampanye, penjualan barang dengan merek nama dia melonjak hingga USD 18 juta, terhitung sampai 31 Januari lalu menurut data G-III. Namun, kabarnya beberapa bulan lalu, beberapa gerai menarik merek Ivanka dan G-III diam-diam menggantinya dengan merek Adrienne Vitadini.Ketika ditanya soal kesenjangan upah itu, pejabat Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indonesia, Hepi Abdulmanaf, malah menyanjung adanya bisnis keluarga Trump di Indonesia. Dia sama sekali tidak berkomentar soal rendahnya upah dan minimnya kesejahteraan buruh yang membikin baju Ivanka."Itu artinya produk Indonesia sudah sesuai standar dunia. Semoga produk hal ini menjadikan Indonesia dikenal di dunia," kata Hepi.PT Buma sudah diminta tanggapannya atas kabar itu. Namun, mereka tidak memberikan pernyataan apapun. Sedangkan pihak G-III sebagai pemegang eksklusif merek dagang Ivanka Trump memberi pernyataan normatif."Kami berkomitmen menjalankan bisnis sesuai dengan aturan berlaku. Termasuk dengan rekan bisnis kami di seluruh dunia. Kami memeriksa dan mengawasi para pemasok. Dan kalau ada yang menarik perhatian, maka kami bekerja sama dengan rekanan menyelesaikan hal itu secepatnya," tulis mereka.

Rekomendasi