Milisi Abu Bakar al-Sadiq yang menguasai Kota Zintan, di sebelah timur Libya, menyatakan telah membebaskan Saif al-Islam Qaddafi. Mereka menahan anak kedua mendiang pemimpin Libya, Muammar Qaddafi, itu selama lima tahun sejak tertangkap di Gurun Sahara saat hendak kabur ke Nigeria.Dilansir dari laman The Guardian, Senin (12/6), pihak milisi menyatakan Saif sudah mendapat pengampunan dari parlemen di Tobruk, sebelah timur Libya. Keputusan itu ditetapkan pada tahun lalu."Kami telah memutuskan membebaskan Saif al-Islam Qaddafi. Sekarang dia bebas dan telah meninggalkan Kota Zintan," tulis pihak milisi dalam pernyataannya.Meski demikian, belum jelas keberadaan Saif saat ini. Sebab, pemberian ampunan itu tidak berlaku di seluruh Libya. Di wilayah dikuasai pemerintah didukung Persatuan Bangsa-Bangsa, dia masih dianggap sebagai penjahat perang dan dijatuhi hukuman mati dalam sidang vonis in absentia dua tahun lalu.Kalau Saif minggat dari Libya, dia juga bakal ditangkap dengan perintah dari Pengadilan Internasional atas kejahatan perang dan hak asasi. Kuasa hukumnya dari Inggris, Karim Khan QC, mengatakan dia kini tidak bisa membenarkan atau membantah kabar kliennya telah bebas. Dia hanya mengaku kerap membesuk Saif dan terakhir menemuinya pada musim semi lalu."Saya bertemu dengan dia di Zintan dan membahas soal ini. Dia sehat dan saya sempat makan siang bersama," kata Karim.Sewaktu mendiang ayahnya masih hidup, Saif lebih memilih menetap di puri mewahnya seharga Rp 169 miliar di Hampstead, London. Dia juga menerima gelar doktor dari Sekolah Ekonomi London yang dipertanyakan keabsahannya.Ketika diminta pulang ke Libya, dia juga tidak pernah punya pekerjaan tetap. Cuma sebelum revolusi meletup, dia pernah mengusulkan reformasi pemerintahan yang demokratis. Hanya saja ketika gelombang pemberontakan meluas, Saif memilih bertindak keras.Lantas saat pemberontak dibantu NATO mengambil alih Ibu Kota Tripoli pada 2011, Saif kabur ke selatan dan tertangkap. Dua saudaranya, Mutassim dan Khamis, tewas. Adiknya, Hannibal, memilih tinggal di Libanon. Sedangkan si bungsu, Saadi, masih ditahan di Tripoli dan menunggu diadili karena kejahatan perang.Sedangkan sang ibu, Safia, serta adik perempuannya, Aisha, tinggal di Oman. Saif dilepaskan setelah setahun lalu pasukan Tobruk membolehkan safia berkunjung ke timur Libya. Kemudian pada Maret lalu, Pengadilan Eropa mencabut larangan bepergian terhadap Aisha.Selepas revolusi, Libya justru berantakan. Sebab, negara itu dijalankan dengan dua pemerintahan saling bertolak belakang. Bekas panglima-panglima perang dari setiap suku juga mempunyai wilayah kekuasaan masing-masing. Konflik pun tak terhindarkan karena adanya gesekan kepentingan. Namun, sosok Saif kabarnya bisa menjadi tokoh politik kunci buat mempersatukan Libya. Sebab konon beberapa suku yang dulu mendukung ayahnya kini menaruh harapan kepada dia. Bahkan beberapa pentolan milisi yang dulu melawan ayahnya kini mulai berbalik.
Anak kedua mendiang Muammar Qaddafi dibebaskan, tapi tetap buron
Amnesti buat Saif cuma berlaku di sebelah timur Libya. Dia tetap menjadi buronan pemerintah di Ibu Kota Tripoli.
Rekomendasi