Para pemimpin Otoritas Palestina menyambut baik keputusan lembaga kebudayaan di bawah payung Organisasi Persatuan Bangsa-Bangsa (UNESCO) untuk mengadopsi resolusi terkait daerah pendudukan Yarusalem Timur. Resolusi itu mengkritik tajam kebijakan Israel yang diterapkan di kompleks Masjid al-Aqsa.
Juru bicara UNESCO perwakilan Paris mengatakan bahwa setelah terbitnya resolusi ini, Israel merespon dengan menangguhkan segala jenis kerja sama. Beleid tentang Yerusalem Timur disetujui pada tahap komite pekan lalu.
Dilansir dari laman Al-Jazeera, Rabu (19/10), Deputi Duta Besar Palestina untuk UNESCO, Mounir Anastas berkata, "(Resolusi) ini untuk mengingatkan Israel bahwa mereka telah menjajah Yarusalem Timur dan agar mereka berhenti melakukan semua pelanggaran termasuk penggalian arkeologi di sekitar tempat kegamaan."
Resolusi UNESCO juga mengutuk Israel karena membatasi akses umat muslim ke situs agama, dan juga pada agresi polisi dan tentara Israel.
Pemuda bertopeng Palestina menjaga Masjid Al Aqsa (c) REUTERS/Ammar Awad
Resolusi itu disampaikan oleh Aljazair, Mesir, Lebanon, Maroko, Oman, Qatar dan Sudan, dan telah disahkan dengan rincian 24 perwakilan mendukung, enam menolak, dan 26 abstain.
Naskah resolusi menyatakan bahwa kawasan komplek Masjid Al-Aqsa dan Al Haram al Sharif di Yerusalem Timur adalah lokasi peribadatan umat Islam. Pengelolaan arus manusia masuk dan keluar oleh militer Israel di sekitar lokasi karenanya tidak dibenarkan.
Sedangkan dari sudut pandang Israel, masjid suci umat Islam itu berada di puncak Bait Allah yang menjadi lokasi berdirinya Kuil Gunung, situs peribadatan yang paling penting bagi Yudaisme. Karenanya, kehadiran aparat Israel dirasa penting.