Indonesia protes keras penahanan 3 mahasiswa oleh Turki

Ketiga mahasiswa itu dapat beasiswa dari PASIAD, tinggal di asrama, lalu dianggap mendukung kudeta

Marcheilla Ariesta Putri Hanggoro
Indonesia protes keras penahanan 3 mahasiswa oleh Turki
Menlu Retno Marsudi. ©2016 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Menteri Luar Negeri Retno L.P Marsudi menyatakan insiden penangkapan tiga mahasiswa Indonesia di Turki dalam waktu terpisah, sangat disesalkan. Pemerintah berjanji akan terus memperjuangkan akses kekonsuleran untuk mendampingi tiga pelajar yang dituding mendukung kudeta militer itu.

"Kita protes keras sehingga kita perlu bertemu dengan info dari mereka," kata Retno di Jakarta, Jumat (19/8).

Dua mahasiswa Indonesia ditangkap aparat keamanan Turki di Kota Bursa pada 11 Agustus lalu, menyusul satu pelajar lain yang sudah ditahan lebih dulu. Mereka bertiga dianggap terkait kudeta militer karena terlibat aktif dalam Gerakan Hizmet, organisasi pimpinan Fethullah Gulen yang diduga dalang utama makar.

Sebelumnya, seorang mahasiswa asal Wonosobo, Jawa Tengah, Handika Lintang Saputra ditangkap oleh aparat keamanan Turki pada 3 Juni lalu atas tuduhan terlibat organisasi teror bersenjata terafiliasi dengan gerakan Fethullah Gulen, perancang kudeta militer 17 Juli. Pria jago matematika ini, sekarang sedang menunggu jadwal sidangnya. Tiga mahasiswa itu semuanya mendapat beasiswa belajar ke Turki oleh PASIAD, di bawah Yayasan Gulen.

"Proteksi sudah berjalan," kata Menlu.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ankara mempertanyakan penangkapan ini kepada polisi setempat. Ternyata dua mahasiswi yang ditangkap belakangan sempat tidak masuk target.

"Namun saat aparat keamanan melakukan penangkapan di salah satu rumah dikelola Yayasan Gulen, kedua mahasiswa ada di rumah tersebut dan mengakui bahwa mereka berdua memang tinggal di rumah tersebut," kata Lalu Muhammad Iqbal, Direktur Perlindungan WNI Kemenlu.

Rekomendasi