Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu pada Kamis (5/5) malam mengumumkan pengunduran dirinya sebagai kepala pemerintahan dan pemimpin Partai Pembangunan dan Keadilan (AKP). Mundurnya PM Ahmet menjadi kejutan setelah beberapa pekan ini tersebar isu ketidakharmonisan dirinya dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan.
Rumor tak sedap di antara ke dua orang tersebut sudah mencuat dalam beberapa bulan terakhir dan puncaknya adalah pada Rabu kemarin.
Davutogku mengatakan usai komite eksekutif pusat AKP, partai akan menggelar kongres luar biasa pada 22 Mei dan dia tidak akan berdiri untuk sebuah mandat baru. Ini mengartikan bahwa, seorang utama di pemerintahan sejak 2014 Presiden Erdogan berkuasa akan turun dari dari jabatannya selaku pemimpin partai dan perdana menteri.
"Saya tidak berpikir saya akan menjadi kandidat dalam kongres partai selanjutannya melihat kodisi yang seperti ini," kata Davutoglu, seperti dilansir dari Channel NewsAsia, Kamis (5/5).
Hal itu didasari Davutoglu usai berkonsultasi dengan para rekannya, termasuk Erdogan. Dia memutuskan akan lebih baik bila ada seorang yang menggantikan dirinya sebagai pemimpin partai.
Dalam pernyataan perpisahan yang sangat emosional, dia memberikan deskripsi panjang terkait pencapaianya sejak menjadi seorang perdana menteri. "Tidak ada rasa kegagalan atau penyesalan dalam mengambil keputusan, dalam pengunduran dirinya," kata Davutoglu.
Salah satu sumber perbedaan pendapat antara Davutoglu dan Erdogan adalah soal menangani separatisme warga etnis Kurdi di Turki. Sang PM ingin negosiasi perdamaian dikedepankan. Namun Erdogan kabarnya memilih opsi operasi militer untuk menumpas gerakan Kurdi yang dicap teroris.
Selain itu, Erdogan sejak beberapa tahun ini memiliki keinginan mengubah sistem pemerintahan Turki dari parlementer menjadi presidensial.