Pemerintah Amerika Serikat akan merilis dokumen setebal 28 halaman yang mengkaji pelaku di balik serangan teroris 11 September 2001. Dalam insiden rubuhnya gedung kembar WTC di New York itu, diduga kuat pejabat pemerintahan Arab Saudi terlibat mendanai Al Qaidah menjalankan aksinya.
The Independent melaporkan, Selasa (26/4), dokumen ini sebelumnya terhitung rahasia, dikerjakan bersama oleh panitia khusus Kongres AS. Mantan Senator Bob Graham terlibat dalam pengumpulan data. Hasil penyelidikan itu akan menjadi landasan RUU pengungkapan pelaku 11 September.
Dokumen itu fokus menyelidiki siapa sumber pendana para pelaku pembajakan pesawat selama mereka tinggal di AS. Graham mengatakan sudah saatnya publik memahami, siapa sebetulnya dalang-dalang serangan teroris yang menewaskan 3 ribu orang lebih dari satu dasawarsa lalu.
"Saya harap pembukaan dokumen ini akan menghormati keluarga korban dan publik Amerika," kata Graham yang dulu mewakili Partai Demokrat.
Tim Roemer, senator yang mengaku telah membaca laporan ini, menyebut data-data di dalamnya sangat akurat. Ada kompilasi kesaksian korban, data kepolisian, serta identitas komplet para pelaku.
Kerajaan Saudi sangat terpojokkan dalam dokumen tersebut. Sebab 15 dari 19 pelaku adalah warga negara Saudi. Namun Negeri Petro Dollar sejak lama membantah ada keterlibatan anggota kerajaan maupun pejabat pemerintah membantu para pelaku.
Sosok para pelaku serangan 11 September 2001 (c) 2016 Merdeka.com/ABC News
Salah satunya adalah tudingan kepada Fahad al Thumairy, pejabat konsuler Arab Saudi di Kota Los Angeles. Dia disebut membantu dua pelaku mencari kontrakan di sekitar California. Sebelum membajak, beberapa pelaku masuk sekolah pilot di Negeri Paman Sam.
Dalam konfirmasi terpisah, Saudi menyambut baik dokumen 28 halaman hasil kajian Kongres AS. "Dokumen ini memberi peluang bagi kami untuk merespon tuduhan secara bermartabat," tulis pernyataan pemerintah Saudi.
Meski demikian, Saudi secara halus mengancam AS agar
Advertisement
proporsional membuka dokumen ini ke publik. Adanya dokumen semacam itu bisa menjadi sumber kebencian keluarga korban serangan 9/11. Saudi sekaligus terancam digugat miliaran Dollar Amerika oleh keluarga korban.
Menteri Luar Negeri Saudi, Adel al-Jubeir mengatakan parlemen AS harus tahu konsekuensi tertentu jika RUU pelaku serangan teroris 2001 disahkan. Aset-aset Saudi terancam dibekukan untuk penyelidikan, jika memang disimpulkan pejabat mereka terlibat.
"Maka nantinya Saudi terpaksa menjual USD 750 miliar dalam bentuk sekuritas dan aset lain di AS sebelum aset itu dibekukan pengadilan Amerika," kata Jubeir.
Sebelum ada kasus dokumen ini saja, hubungan AS-Saudi sedang di titik terendahnya setahun terakhir. Klan Bani Saud marah melihat Presiden Barack Obama terlalu memihak Iran.
Presiden Obama bertemu Raja Salman di Riyadh (c) Reuters
Kesepakatan nuklir yang digagas AS, sehingga membantu Iran menjual minyaknya, dianggap Saudi merugikan mereka. Apalagi Saudi sedang mengalami resesi akibat anjloknya harga minyak dunia. Mengizinkan Iran menjual minyak cuma membuat harga pasaran anjlok lebih lama.
Buruknya hubungan AS-Saudi terlihat dari sambutan yang diterima Obama saat bertandang ke Ibu Kota Riyadh pada 20 April lalu. Tak ada penyambutan "meriah" seperti biasanya. Obama hanya disambut Gubernur Riyadh Pangeran Faisal bin Bandar al- Saud, bukan oleh Raja Salman seperti kelaziman selama ini. Selain itu, kedatangan Obama juga tak menghiasi layar kaca di televisi Negeri Petro Dollar.
Situasi ini baru pertama kali terjadi, sejak kedua negara menjalin hubungan formal pada 1940. Negeri Paman Sam adalah sekutu utama Saudi selama ini di Timur Tengah. Sebagai imbal balik melindungi Saudi dari negara rival, Amerika menerima minyak cukup besar.