Dua warga negara Indonesia yang menjadi korban bom Belgia di Bandar Udara Zaventem dinyatakan kritis dan sedang dirawat intensif di Rumah Sakit University Hospital Leuven, Belgia. Kedua WNI yang kritis adalah seorang ibu dan putrinya yang masih empat tahun.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nasir menjelaskan pihaknya sudah memastikan kondisi korban, dan terus berada dalam pantauan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia di Brussels.
"Kondisi ibu dan satu anak perempuan kritis, dan saat ini berada di ICU Rumah Sakit University Hospital Lauven. Anaknya yang laki-laki juga ada di ruang ICU, namun kondisinya stabil," kata pria akrab disapa Tata, dalam jumpa pers di Kemlu, Jakarta, Kamis (24/3).
Tata menceritakan, ibu dan anaknya yang kritis ini memiliki paspor Indonesia, sementara anaknya yang laki-laki memakai paspor lain karena paspor Indonesianya sudah habis masa berlaku per Desember 2015.
"Kita dapat info dari maskapai Etihad, saat check in sang ibu pegang paspor Indonesia, satu anaknya yang berusia 4 tahun juga memakai paspor Indonesia. Sementara itu, anak laki-lakinya yang berusia 6 tahun tidak memakai paspor Indonesia, karena masa berlaku paspornya sudah habis sejak Desember tahun lalu," kata Tata.
Sebelumnya, Menlu Retno mengatakan pihaknya di KBRI Brussels sudah bertemu dengan keluarga korban, dalam hal ini suaminya. Dia mengatakan akan memberikan bantuan untuk para korban WNI ini.
"Pembicaraan tersebut dilakukan dengan suami dari ibu itu," kata Menlu Retno.
Menlu Retno mengatakan, sejak awal ledakan terjadi di KBRI Brussels sudah aktif berkoordinasi dengan otoritas setempat. Bahkan pihak KBRI langsung mendatangi rumah sakit di mana korban dirawat.
Tata juga menceritakan, WNI yang jadi korban bisa ditemukan atas bantuan dari staf kemlu Belgia. Pada saat bertemu di RS Queen Astrid, petugas kemlu itu memiliki daftar nama korban.
"Saat staf KBRI ini bertemu dengan orang kemlu sana, dia diberikan daftar nama korban. Nama ibu ini dicurigai merupakan nama khas Indonesia. Suaminya saat ditemui juga mengatakan istrinya orang Indonesia dan anaknya memegang paspor Indonesia," ungkap Tata.
Insiden bom bunuh diri beruntun di Brussels menewaskan 35 orang serta menyebabkan 300 lainnya luka-luka. Sebanyak 61 korban luka masih dalam kondisi kritis dan dirawat intensif. Militan ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan mematikan tersebut.