Skandal membelit Perdana Menteri malaysia, Najib Razak, belum tuntas. Surat kabar the Wall Street Journal kemarin menurunkan laporan terbaru membuktikan adanya aliran dana ke rekening pribadi sang perdana menteri lebih dari temuan awal.
Tahun lalu Najib diperiksa Kejaksaan Malaysia karena ditemukan aliran dana USD 620 juta (setara Rp 8,42 triliun), yang diaku sumbangan politik Kerajaan Arab Saudi. Rupanya, dua sumber dari aparat hukum yang menyelidiki pengelolaan rekening Najib, mengatakan uang ke rekening sang pemimpin Negeri Jiran itu lebih besar dari temuan awal.
Setidaknya selama 2011-2013, Najib mendapat transfer dana senilai USD 1 miliar (setara Rp 13,3 triliun). Sumber lain yang dipakai oleh Wall Street Journal adalah penyelidik keuangan yang berbasis di luar negeri.
Channel News Asia melaporkan, Selasa (1/3), artikel terbaru Wall Street Journal itu berseberangan dengan kesimpulan Jaksa Agung Malaysia, Mohamed Apandi Ali, yang telah menyatakan Perdana Menteri Najib Razak bebas dari dakwaan korupsi awal tahun ini.
Sumber Wall Street Journal memastikan dana di rekening pribadi Najib tidak terkait sama sekali dengan hibah dana kampanye dari Saudi. Dia menyatakan uang itu berasal dari pengemplangan utang perusahaan negara 1MDB, yang ditransfer berkali-kali melalui skema rumit. Pada 2009, Najib pernah menjabat sebagai komisaris utama BUMN bermasalah tersebut.
Pemerintah Malaysia tahun lalu telah mengusir wartawan Wall Street Journal, serta menuntut manajemen koran itu karena memuat berita yang menyudutkan Najib. Media cetak dengan oplah terbanyak di AS ini dituding berkepentingan menjatuhkan Najib, sehingga dilarang terbit. Terkait artikel terbaru itu, kantor PM Malaysia maupun Kejaksaan Agung belum berkomentar.
Bersamaan dengan berita menyudutkan Najib kali ini, mantan PM Malaysia, Mahathir Mohamad, mundur dari Barisan Nasional (UMNO).
Mahathir menuding partai UMNO kini sepenuhnya dikuasai kroni-kroni Perdana Menteri Najib Razak. Mahathir beberapa waktu terakhir secara terbuka selalu mengkritik Najib karena dugaan skandal korupsi 1MDB.
"Saya tidak akan menyebut partai ini UMNO, lebih pantas disebut partai Najib. Saya malu menjadi bagian dari partai yang memiliki citra mendukung korupsi," kata Mahathir dalam jumpa pers di Kuala Lumpur kemarin sore.