Rakyat Bolivia akhir pekan lalu menggelar referendum, hasilnya melarang Presiden Evo Morales menjabat untuk periode keempat. Dari keseluruhan surat suara yang masuk, 51,33 persen menyatakan 'tidak' sedangkan 48,6 persen menyatakan 'ya' atas pilihan mengizinkan sang presiden kembali menjabat.
Kekalahan ini pertama kalinya menimpa Evo, sosok politikus karismatik, yang menjadi presiden sejak 2006 lalu. Konstitusi Bolivia hanya mengizinkan seseorang menjabat presiden untuk dua periode. Karena itulah, sejak mengejar masa jabatan ketiga pada 2013, Evo menggelar referendum alih-alih pemilu presiden seperti biasa untuk memperoleh legitimasi.
BBC melaporkan, Rabu (24/2), politikus 56 tahun keturunan suku pribumi Aymara pertama yang menjadi presiden ini menerima kekalahannya. Kendati begitu, Morales meyakini kalangan sayap kanan sudah menjalankan "perang kotor dalam merebut suara rakyat."
Evo Morales baru akan habis masa jabatannya pada 2020 mendatang. Seandainya menang referendum yang digelar akhir pekan lalu, mantan petani coklat ini bisa menjabat hingga 2025. Morales dikenal dunia sebagai salah satu pemimpin berideologi sosialis yang menonjol di Amerika Latin.
Dia menasionalisasi perusahaan migas serta perkebunan milik perusahaan asing. Morales mewakili aspirasi suku-suku lokal Bolivia yang tak pernah menikmati kekayaan alam negaranya selama ini. Ekonomi Bolivia masih tumbuh bagus beberapa tahun terakhir, sehingga popularitas Morales tak surut. Kendati begitu, banyak rakyat merasa Morales jangan dibiarkan memerintah 19 tahun berturut-turut.
Kalangan oposisi Bolivia bersorak sorai dengan kegagalan Morales memperoleh izin menjabat untuk periode keempat. Pesta digelar di beberapa kota besar.
"Kami berharap presiden bisa memahami kehendak rakyat dan menerima hasil referendum," kata ketua kelompok oposisi Samuel Doria Medina.