India kemarin (6/4) merayakan keberhasilan membuat kapal selam mandiri, yang seluruh bahan bakunya berasal dari dalam negeri. Kapal bertenaga disel itu jenis Scorpene. Untuk pertama kalinya kemarin, armada bawah air yang diberi nama INS Kalvari ini sukses diuji coba di laut.
Satu-satunya elemen asing dalam proyek Angkatan Laut India ini adalah keterlibatan rancang bangun insinyur Prancis terkait penataan konsumsi bahan bakar disel. Sisanya dirancang insinyur lokal. Scorpene dibangun di galangan kapal Magazon, Kota Mumbai.
NDTV melaporkan, Selasa (7/4), Menteri Pertahanan India Manohar Parrikar bangga karena Scorpene akan memperkuat armada laut Negeri Sungai Gangga. "Rencananya galangan ini akan memproduksi enam unit kapal selam, diserahkan ke pihak angkatan laut bertahap hingga 2018," ujarnya.
India saat ini memiliki 14 kapal selam bertenaga disel, tapi karena isu suku cadang, hanya bisa beroperasi tujuh unit sehari-hari. Di luar itu, kapal selam andalan India adalah INS Chakra S71 yang berfungsi sebagai perusak kapal musuh. Kapal selam buatan Rusia ini satu-satunya yang bertenaga nuklir di Asia Selatan.
Parrikar mengatakan insinyur India kini diperintahkan membuat kapal induk bertenaga nuklir. "Misi kapal ini untuk mengangkut rudal balistik lintas wilayah," tuturnya.
BBC menyatakan Angkatan Laut India salah satu yang kekuatannya terus meningkat di Asia. Kekuatannya pelan-pelan bisa mengimbangi China yang sangat dominan di darat, laut, maupun udara.
Adapun kemajuan teknologi India berusaha dikejar oleh Indonesia sebagai negara maritim. Pemerintah RI meniru model kerja sama alih teknologi, seperti yang dilakukan
Advertisement
India dan Prancis.
Rekanan Kementerian Pertahanan dalam membuat kapal selam adalah Korea Selatan. PT PAL, selaku BUMN, diminta bekerja sama dengan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) memproduksi tiga unit kapal selam kelas Chang Bogo. Wacana yang digulirkan sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu menelan dana USD 250 juta.
Presiden Joko Widodo meneruskan ide kerja sama dengan Korsel dalam pembuatan kapal selam. Alasannya, insinyur Negeri Ginseng bersedia mengajarkan alih teknologi kepada insinyur di Tanah Air.
"Jangan sampai kita beli-beli saja, uang kita lari ke negara lain, Indonesia ya memakai-memakai, tidak memproduksi," kata Presiden Jokowi di Seoul, Korsel (12/12/2014).
Selain kapal selam, kerja sama pembuatan alutsista maritim juga akan digeber bersama Korsel. Ini disampaikan Jokowi setelah bertemu Presiden Korsel Park Geun-hye.
"Kita tidak hanya kapal selam, tapi kapal lain yang dibutuhkan, tetapi juga industri pertahanan, kerja sama ini harus transfer teknologi, saat ini kita kerja sama untuk kapal selam dan ke depan untuk industri yang lain," ujarnya.
Kondisi pertahanan laut Indonesia sangat menyedihkan, kendati 70 persen wilayahnya berupa perairan. Sejauh ini, TNI Angkatan Laut cuma memiliki dua kapal selam yang sudah sangat uzur peninggalan Uni Soviet. Idealnya, RI punnya 12 unit kapal selam untuk menjaga seluruh wilayah lautnya.