Para militan dari Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), yang berhasil menguasai beberapa wilayah di utara Ibu Kota Baghdad dalam serangan kilat, dikabarkan telah mengambil kendali sebuah bekas pabrik senjata kimia Saddam Hussein. Ini seperti dikatakan seorang pejabat Amerika Serikat kemarin.
"Kami menyadari ISIS telah menduduki kompleks Al Muthanna," kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Jen Psaki dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir situs Asia One, Jumat (20/6).
Namun, Psaki menyatakan dirinya tidak berpikir para militan dari Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) akan mampu memproduksi senjata kimia yang dapat digunakan di sana sebab bahan yang tersisa sudah tua dan susah dipakai.
Kompleks itu, yang terletak hanya 72 kilometer sebelah barat laut Baghdad, mulai memproduksi gas mustard dan beberapa senjata kimia lainnya, termasuk Sarin, pada awal tahun 1980-an tidak lama setelah Saddam Hussein berkuasa, menurut sebuah lembar fakta dari Dinas Intelijen Luar Negeri Amerika Serikat (CIA).
Program ini diperluas di mana pada puncaknya selama perang Iran-Irak dan menghasilkan 209 ton dan 394 ton Sarin pada 1987 dan 1988 masing-masing.
Namun, CIA menulis bahwa fasilitas itu ditutup setelah Perang Teluk pertama, ketika resolusi PBB menjelaskan kemampuan terlarang Irak untuk memproduksi senjata kimia. Pada awal 1990, kompleks itu digunakan untuk mengawasi upaya untuk menghancurkan persediaan senjata kimia Irak.
"Kami tetap prihatin tentang perebutan kompleks militer oleh ISIS," jelas Psaki.