Bandara utama di Kota Donetsk, sebelah timur Ukraina, hari ini ditutup setelah diserang oleh puluhan separatis bersenjata yang bersumpah untuk mempertahankan perlawanan mereka sehari setelah pemilihan presiden.
"Pada pukul 03.00 dini hari, sekelompok pria bersenjata datang. Tidak ada penembakan dan mereka meminta agar tentara yang menjaga perimeter bandara ditarik," kata juru bicara bandara, Dmytro Kosinov, kepada AFP, seperti dilansir situs Asia One, Senin (26/5).
Kosinov mengatakan bandara berhenti beroperasi pada pukul 07.00 pagi waktu setempat dan kini tampak berada di bawah kendali pria bersenjata yang menyebut diri mereka sebagai "perwakilan Republik Rakyat Donetsk" yang telah memproklamasikan kemerdekaan dari Kiev.
Seorang wartawan AFP melihat tiga truk sarat akan pria bersenjata dalam kamuflase dan beberapa mengenakan pita oranye dan hitam St George, yang mewakili kesetiaan pada Rusia melewati pos pemeriksaan polisi dan menuju bandara.
Mereka diikuti oleh dua kendaraan SUV dengan jendela gelap.
Kelompok separatis di timur yang pro-Rusia di negara bekas Uni Soviet itu meluncurkan pemberontakan terhadap kekuasaan Kiev pada awal April. Ini membuat mereka merebut puluhan kota-kota di wilayah Donetsk dan Lugansk yang bertetangga dengan Rusia.
Para pemberontak menggagalkan pemungutan suara di sepanjang bagian timur Ukraina selama pemilihan presiden kemarin, di mana milioner pro-Barat, yang mendapat julukan Raja Cokelat, Petro Poroshenko ditetapkan menang di babak pertama.
Sejumlah komandan pemberontak kemarin mengatakan bahwa mereka tidak mengakui keabsahan taipan itu dan akan terus memperjuangkan kemerdekaan mereka.