Pemimpin dua faksi yang saling bersaing di Palestina, Fatah dan Hamas, kemarin berbicara melalui sambungan telepon pada malam perayaan Idul Adha, menekankan perlunya rekonsiliasi.Seorang pejabat Hamas enggan disebutkan namanya mengatakan Perdana Menteri Hamas di Gaza, Ismail Haniyah, berbicara dengan Presiden Palestina Mahmud Abbas tentang perlunya untuk kembali kepada kesatuan nasional dan mengakhiri perpecahan, melalui sambungan telepon kemarin malam, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Selasa (15/10).Kedua pemimpin itu juga saling mengucapkan selamat Idul Adha, yang mulai dirayakan oleh umat muslim sejagat sejak kemarin.Gerakan Islam Hamas dan pesaingnya, Fatah, partai pimpinan Abbas yang mendominasi di Tepi Barat, telah berselisih sejak pengambilalihan Jalur Gaza oleh Hamas pada 2007 lalu.Sejak penandatanganan kesepakatan yang dimediasi Mesir pada 2011, kedua faksi telah mencoba untuk mengakhiri perpecahan di antara mereka.Kesepakatan Kairo berkomitmen untuk membentuk sebuah pemerintahan sementara konsensus independen yang akan membuka jalan bagi pemilihan umum parlemen dan presiden dalam waktu 12 bulan.Namun pelaksanaan perjanjian terhenti selama pembentukan pemerintahan sementara, dan kesepakatan pada Febuari 2012 yang dimaksudkan untuk mengatasi perbedaan ditentang oleh anggota Hamas di Gaza.Hamas masih menentang pengangkatan Perdana Menteri Rami Hamdallah dan memilih untuk mengakui perdana menteri pilihannya yaitu Ismail Haniyah.Hamas mengatakan saat ini pihaknya berada dalam tekanan ekonomi yang parah sejak militer Mesir, yang menggulingkan sekutu Hamas yakni Muhammad Mursi dari Ikhwanul Muslimin pada Juli lalu, menghancurkan ratusan terowongan yang digunakan untuk menyelundupkan bahan bakar dan barang ke Jalur Gaza, yang telah diblokir.
Pemimpin Hamas dan Fatah tekankan perlunya rekonsiliasi
Kedua pemimpin itu juga saling mengucapkan selamat Idul Adha dalam sebuah pembicaraan melalui sambungan telepon.
Advertisement
Rekomendasi