Hamas akan berunding dengan Fatah untuk selamatkan Yerusalem

"Melindungi Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa dari Yahudisasi harus menjadi tujuan nasional bersama," kata Misyaal.

Vincent Asido Panggabean
Hamas akan berunding dengan Fatah untuk selamatkan Yerusalem
Khalid Misyaal. Reuters.dok ©2012 Merdeka.com

Hamas kemarin menyerukan diadakan pertemuan nasional dengan Otoritas Palestina dan Fatah untuk menyetujui strategi Palestina yang bersatu dalam menghadapi rencana Israel terhadap Yerusalem.

Seruan itu dikeluarkan oleh pemimpin Hamas, Khalid Misyaal, di sebuah konferensi di Ibu Kota Ankara, Turki, terkait pembicaraan masalah Yerusalem, seperti dilansir surat kabar the Jerusalem Post, Kamis (10/10).

Misyaal mengatakan dalam sambutannya, tidak ada pemimpin Palestina atau Arab atau muslim berwenang atau memiliki mandat untuk menandatangani sebuah perjanjian yang akan 'merugikan' Yerusalem dan tempat-tempat suci.

"Melindungi Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa terhadap Yahudisasi, pembongkaran, dan pemecahbelahan harus menjadi tujuan nasional bersama," kata Misyaal.

Misyaal menyerukan untuk sebuah penetapan Palestina, Arab, dan sikap dunia Islam terhadap Yerusalem.

"Kita perlu menegaskan untuk diri kita sendiri, generasi masa depan dan dunia bahwa Yerusalem adalah esensi dari penyebab dan konflik serta simbol politik, agama, nasional dan sejarah," ucap Misyaal.

Misyaal mengatakan membangun Arab, Islam, dan kemampuan militer Palestina adalah satu-satunya cara untuk memulihkan Yerusalem dan tempat-tempat suci.

Dia juga menyatakan langkah pertama untuk menuju pembangunan seperti kekuatan militer harus melancarkan serangan-serangan perlawanan terhadap Israel untuk menguras kekuatan mereka.

Dia juga mengutuk Otoritas Palestina lantaran melakukan koordinasi keamanan dengan Israel dan menindak pendukung Hamas di Tepi Barat.

Misyaal menyerukan sebuah pemberontakan habis-habisan melawan Israel dengan semboyan mempertahankan Yerusalem, melawan pembongkaran, dan pemecahbelahan.

Dia menekankan bahwa tidak ada warga Palestina atau bangsa Arab atau kaum muslim atau bahkan negosiator Kristen diberi wewenang untuk menegosiasikan wilayah sekitar Yerusalem atau menandatangani perjanjian yang meliputi konsesi politik atau agama di kota itu.

Rekomendasi